Malam itu, di rumah Rasulullah SAW masih tersimpan titipan harta milik penduduk Makkah. Kaum yang menitipkannya adalah kaum yang sama yang pemudanya sedang mengepung pintu rumah beliau, menunggu saat yang tepat untuk membunuh. Beliau pergi tanpa membawa titipan itu sedikit pun. Yang beliau tinggalkan di Makkah justru seseorang.
Pesan WhatsApp itu sudah centang biru sejak tiga minggu lalu, tapi belum juga dibalas. Isinya pendek saja: โYang kemarin gimana, ya?โ Uang dua juta yang dipinjam untuk menutup cicilan belum kembali. Setiap kali nama sahabat itu muncul di layar, dada terasa sesak. Masalahnya bukan tidak mau membayar, karena gaji memang sudah habis sebelum tanggal dua puluh. Yang paling berat adalah rasa malu yang pelan-pelan berubah jadi kebiasaan menghindar, lalu menghindar berubah jadi jarak, dan jarak itu akhirnya menjadi persahabatan yang mati diam-diam.
Amanah jarang runtuh dalam satu kejadian besar. Ia terkikis sedikit demi sedikit: jam kerja yang diam-diam habis untuk scroll media sosial, angka laporan yang dibulatkan ke atas, rahasia sahabat yang bocor di grup keluarga, atau anak di rumah yang dititipkan Allah SWT tapi hanya kebagian sisa tenaga dan sisa perhatian. Di sisi lain ada luka yang sama dalamnya: uang arisan yang dibawa kabur, mitra usaha yang menghilang, orang terdekat yang ternyata berbohong bertahun-tahun. Luka dikhianati membuat kita sulit percaya pada orang lain, sedangkan malu karena berkhianat membuat kita sulit memandang diri sendiri. Dua-duanya menggerogoti dari dalam, dan dua-duanya layak dirasakan dengan jujur sebelum buru-buru dicarikan jalan keluar.
Barangkali karena itulah Rasulullah SAW mengaitkan amanah langsung dengan iman, tidak cukup sebagai sopan santun sosial:
ููุง ุฅููู
ูุงูู ููู
ููู ููุง ุฃูู
ูุงููุฉู ููููุ ููููุง ุฏูููู ููู
ููู ููุง ุนูููุฏู ูููู
Terjemah makna: Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak memiliki amanah, dan tidak (sempurna) agama seseorang yang tidak menepati janji. (HR. Ahmad)
Malam Ketika Titipan Tidak Ikut Dibawa
Jauh sebelum wahyu pertama turun, penduduk Makkah sudah memanggil Muhammad bin Abdullah dengan gelar Al-Amin, yaitu orang yang tepercaya. Setelah beliau menyampaikan tauhid, sikap mereka berubah total. Beliau diejek, para pengikutnya disiksa, dan keluarganya diboikot sampai kelaparan di lembah. Namun ada satu hal yang tidak ikut berubah: orang-orang Quraisy masih menitipkan barang berharga mereka kepada beliau. Mereka menolak risalahnya, tapi tidak pernah meragukan kejujurannya. Ini kesaksian yang lahir dari perilaku sehari-hari selama puluhan tahun, dan perilaku seperti itu tidak bisa dipalsukan.
Kitab-kitab sirah, di antaranya Sirah Ibnu Hisyam yang bersumber dari riwayat Ibnu Ishaq, mencatat bahwa pada malam hijrah Rasulullah SAW meminta Ali bin Abi Thalib tidur di tempat tidur beliau. Ali juga diminta tetap tinggal di Makkah beberapa hari untuk mengembalikan setiap titipan kepada pemiliknya. Coba renungkan situasinya. Nyawa beliau terancam dan harta para sahabat yang berhijrah dirampas. Kalau mengikuti logika dendam, titipan itu bisa saja dianggap wajar untuk dibawa. Beliau tidak melakukannya. Amanah tidak menunggu pemiliknya menjadi orang baik terlebih dahulu, sebagaimana pesan beliau dalam hadits lain:
ุฃูุฏูู ุงููุฃูู
ูุงููุฉู ุฅูููู ู
ููู ุงุฆูุชูู
ูููููุ ููููุง ุชูุฎููู ู
ููู ุฎูุงูููู
Terjemah makna: Tunaikanlah amanah kepada orang yang memercayaimu, dan janganlah engkau mengkhianati orang yang telah mengkhianatimu. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Bertahun-tahun kemudian, Imam Al-Bukhari meriwayatkan kesaksian dari arah yang tak terduga. Abu Sufyan, yang saat itu masih memusuhi Islam, ditanyai Heraklius, penguasa Romawi, tentang sosok Nabi yang baru muncul di Arab. Salah satu pertanyaannya: apakah ia pernah berkhianat? Abu Sufyan menjawab tidak. Ketika ditanya apa yang diperintahkan Nabi itu, jawabannya adalah sholat, kejujuran, menjaga kehormatan diri, menepati janji, dan menunaikan amanah (HR. Al-Bukhari). Dalam kesaksian itu, menunaikan amanah disebut sejajar dengan sholat. Seorang lawan pun tidak bisa menyangkalnya.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Amanah Bermula di Pangkal Hati
Hudzaifah bin Al-Yaman meriwayatkan sabda Rasulullah SAW tentang asal-usul amanah dalam diri manusia:
ุฅูููู ุงููุฃูู
ูุงููุฉู ููุฒูููุชู ููู ุฌูุฐูุฑู ูููููุจู ุงูุฑููุฌูุงููุ ุซูู
ูู ุนูููู
ููุง ู
ููู ุงููููุฑูุขููุ ุซูู
ูู ุนูููู
ููุง ู
ููู ุงูุณูููููุฉู
Terjemah makna: Sesungguhnya amanah itu turun di pangkal hati manusia, kemudian mereka mengetahuinya dari Al-Qur'an, lalu mengetahuinya dari Sunnah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Baca Juga
Air Mata yang Tidak Membatalkan Sabar: Pelajaran dari Wafatnya Ibrahim
Menurut hadits ini, amanah pertama-tama adalah keadaan hati, baru kemudian menjadi urusan dompet. Dimensi batin inilah yang dipertajam Imam Al-Ghazali. Dalam Kitab Afat Al-Lisan (bencana-bencana lisan) di Ihya' Ulumuddin, Juz 3, bagian Rubu' Al-Muhlikat, beliau memasukkan janji yang diingkari sebagai salah satu penyakit lisan. Beliau juga mengutip hadits tentang tanda orang munafik. Kemudian beliau memberi pembedaan yang sangat melegakan. Celaan itu berlaku bagi orang yang berjanji padahal sejak awal berniat mengingkari, atau yang meninggalkan janjinya tanpa uzur. Orang yang sungguh-sungguh bertekad menepati, lalu terhalang oleh uzur yang nyata, tidak termasuk golongan tersebut.
Pembedaan ini mengubah cara kita memandang kegagalan. Dalam kerangka Al-Ghazali, yang merusak hati bukan ketidakmampuan. Yang merusak adalah matinya niat, yaitu saat seseorang berhenti ingin menunaikan dan mulai berharap urusannya terlupakan. Karena itu sahabat yang belum sanggup membayar utang belum tentu telah mengkhianati amanah. Pengkhianatan baru dimulai ketika ia memilih menghilang.
Perspektif Imam An-Nawawi: Amanah dalam Timbangan Amal
Al-Ghazali menyelami batin, sedangkan Imam An-Nawawi menegakkan amanah sebagai amal yang terukur. Dalam Riyadhus Shalihin beliau menyusun bab khusus, Bab Al-Amri bi Ada'il Amanah (bab perintah menunaikan amanah). Di sana beliau menghimpun ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih tentang kewajiban menjaga titipan, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
ุฅูููู ุงูููููู ููุฃูู
ูุฑูููู
ู ุฃููู ุชูุคูุฏูููุง ุงููุฃูู
ูุงููุงุชู ุฅูููููฐ ุฃูููููููุง
Terjemah makna: Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. (QS. An-Nisa: 58)
Bab yang sama juga memuat hadits yang membuat siapa pun berhenti sejenak:
ุขููุฉู ุงููู
ูููุงูููู ุซูููุงุซู: ุฅูุฐูุง ุญูุฏููุซู ููุฐูุจูุ ููุฅูุฐูุง ููุนูุฏู ุฃูุฎูููููุ ููุฅูุฐูุง ุงุคูุชูู
ููู ุฎูุงูู
Terjemah makna: Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sebagai ahli fiqih, An-Nawawi berdiri dalam tradisi fiqih yang memberi amanah bentuk yang jelas. Dalam pembahasan wadi'ah (titipan) di kitab-kitab fiqih mazhab yang muktabar, orang yang dititipi disebut berstatus yad amanah, yaitu tangan kepercayaan. Jika barang titipan rusak tanpa kelalaian, ia tidak wajib mengganti. Jika ia lalai atau memakai titipan itu tanpa izin, ia menanggung kerugiannya. Batas ini adil dan manusiawi. Syariat tidak menuntut manusia menjadi mesin yang tak pernah gagal, tetapi menuntut kesungguhan menjaga dan kejujuran ketika ada yang tidak berjalan semestinya. Dua perspektif ini saling mengisi: Al-Ghazali menjaga niatnya tetap hidup, An-Nawawi memastikan niat itu berbuah tindakan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Relevansinya Hari Ini
Bagi yang sedang menanggung utang dan malu membuka percakapan, ada hadits yang bisa menjadi pegangan. Rasulullah bersabda bahwa siapa yang mengambil harta orang lain dengan niat mengembalikannya, Allah akan menolongnya untuk menunaikannya (HR. Al-Bukhari). Pintu pertolongan itu terbuka lewat niat yang dijaga, lalu diwujudkan dengan langkah yang sederhana tapi berat: membalas pesan itu, mengakui keadaan dengan jujur, dan menawarkan cicilan sekecil apa pun. Kejujuran tentang ketidakmampuan jauh lebih bernilai amanah daripada diam yang terlihat rapi.
Bagi pekerja, amanah berupa waktu yang sudah dibayar dan data yang dipercayakan. Bagi orang tua, amanah itu tidur di kamar sebelah, karena setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Bagi yang pernah dikhianati, Rasulullah tidak meminta luka itu segera dilupakan. Beliau hanya menjaga agar kita tidak berubah menjadi seperti orang yang melukai. Titipan Quraisy tetap dikembalikan, bukan karena Quraisy pantas menerimanya, tetapi karena beliau tetap Al-Amin, apa pun perlakuan mereka.
Hadits Hudzaifah juga memberi peringatan halus: amanah bisa terangkat dari hati sedikit demi sedikit, hingga yang tersisa hanya bekas samar. Karena itu penjagaannya tidak cukup dengan tekad sesaat. Ia perlu ditopang kedekatan terus-menerus dengan pribadi Rasulullah SAW, orang yang dipercaya bahkan oleh mereka yang ingin membunuhnya.
Maka pertanyaannya perlu dijawab dalam hati masing-masing, bukan dijawab oleh tulisan ini. Seandainya malam ini kita harus pergi seperti malam hijrah itu, titipan siapa yang masih tertinggal di tangan kita, dan siapa yang akan kita minta tinggal untuk mengembalikannya?
Mencintai Al-Amin berarti pelan-pelan belajar menjadi orang yang bisa dipercaya, dan pelajaran itu tidak harus ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang merawat hati dengan sholawat harian, sedikit demi sedikit, tanpa paksaan dan tanpa adu jumlah, agar akhlak beliau makin dekat dengan keseharian. Jika hati ingin ikut bertumbuh bersama, mulailah setor sholawat di sini.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. An-Nisa: 58
- Hadis: HR. Ahmad (amanah dan iman); HR. Al-Bukhari dan Muslim (tanda munafik; hadits Hudzaifah tentang amanah di pangkal hati; setiap kalian pemimpin); HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi (tunaikan amanah); HR. Al-Bukhari (kisah Heraklius; niat melunasi utang)
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 3 (Kitab Afat Al-Lisan); Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin (Bab Al-Amri bi Ada'il Amanah); Sirah Ibnu Hisyam; pembahasan wadi'ah dalam kitab-kitab fiqih mazhab yang muktabar
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.