Kita sering mengira orang yang sabar adalah orang yang matanya tetap kering saat musibah datang. Tapi pada hari putranya, Ibrahim, mengembuskan napas terakhir, air mata Rasulullah SAW mengalir di depan para sahabat. Salah seorang dari mereka sampai bertanya dengan heran.
Bayangkan seorang ayah berusia empat puluhan yang pagi tadi menerima surat pemutusan kerja. Cicilan rumah masih sebelas tahun lagi, anak sulungnya baru masuk SMP, dan istrinya belum tahu apa-apa. Sepanjang jalan pulang ia berusaha memasang wajah setenang mungkin. Ia mampir ke musholla sebuah SPBU, berwudhu, lalu menangis tanpa suara di balik tiang. Setelah itu ia justru merasa bersalah, seolah air mata tadi membuktikan imannya rapuh.
Banyak orang memikul dua beban sekaligus saat diuji. Pertama beban musibahnya, lalu beban menuduh diri sendiri kurang sabar karena hati masih terasa sakit. Ibu yang kehilangan janin, anak yang menunggui orang tuanya di ruang ICU, suami-istri yang pernikahannya membeku dalam diam: diam-diam semuanya bertanya hal yang sama. Apakah sedih ini tanda aku gagal? Pertanyaan itu layak dijawab dengan jujur. Jawabannya ternyata sudah dicontohkan sendiri oleh Rasulullah SAW, justru di saat paling pribadi dalam hidup beliau.
Air Mata di Rumah Abu Saif: Sabar yang Tidak Berpura-pura
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW mendatangi rumah Abu Saif, suami dari ibu susu putra beliau, Ibrahim. Beliau menggendong dan mencium bayi kecil itu. Beberapa waktu kemudian beliau datang lagi, dan kali ini Ibrahim sedang berada di tarikan napas terakhirnya. Mata Rasulullah SAW berlinang. Abdurrahman bin 'Auf bertanya, “Engkau pun menangis, wahai Rasulullah SAW?” Beliau menjawab, “Wahai Ibnu 'Auf, ini adalah rahmat.” Kemudian beliau bersabda:
إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ
Terjemah makna: Sesungguhnya mata menitikkan air mata dan hati bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai Rabb kami. Dan sungguh, dengan berpisah denganmu wahai Ibrahim, kami benar-benar bersedih. (HR. Bukhari)
Sabda itu tersusun dari tiga bagian yang sangat jelas. Mata dibiarkan menangis, hati dibiarkan sedih, tapi lisan tetap dijaga. Beliau tidak meminta mata untuk kering, juga tidak menyuruh hati mati rasa. Garis sabar ditarik pada apa yang keluar dari mulut dan ke mana hati diarahkan. Kesedihan disebut rahmat, yaitu tanda hati yang hidup, bukan tanda iman yang retak.
Hari itu juga ada detail yang jarang dibahas. Menurut riwayat Al-Mughirah bin Syu'bah dalam Shahih Al-Bukhari, pada hari wafatnya Ibrahim terjadi gerhana matahari, dan orang-orang mengaitkannya dengan wafat putra Nabi. Di tengah duka yang paling pribadi, beliau justru meluruskan anggapan itu: matahari dan bulan adalah dua tanda kekuasaan Allah SWT, dan keduanya tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Simpati sebesar apa pun tidak membuat beliau membiarkan kekeliruan. Di sini sabar tampak lebih luas daripada sekadar menahan tangis. Sabar menjaga agar luka tidak merusak kejujuran dan akal sehat.
Al-Qur'an juga mengabadikan pola yang sama pada Nabi Ya'qub AS. Ketika kehilangan Yusuf, beliau berkata fa shabrun jamil, maka kesabaran yang indahlah pilihanku (QS. Yusuf: 18). Bertahun-tahun kemudian, saat kehilangan datang lagi, Al-Qur'an menyebut kedua mata beliau memutih karena duka (QS. Yusuf: 84). Seorang nabi yang dipuji sabarnya ternyata tetap menangis sampai sejauh itu. Lalu apa yang membuat kesabarannya tetap indah? Jawabannya ada pada ucapan beliau sendiri:
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Terjemah makna: Dia (Ya'qub) menjawab, hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui. (QS. Yusuf: 86)
Kesedihan beliau tidak dipendam sampai membusuk, dan juga tidak dilempar ke segala arah. Semuanya ditujukan kepada Allah SWT. Dari sini terlihat bahwa sabar yang indah tidak diukur dari sedikitnya duka, tetapi dari kepada siapa duka itu diadukan.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Tarik-Menarik di Dalam Dada
Dalam Ihya' Ulumuddin Juz 4, di bagian Rub' Al-Munjiyat (perkara yang menyelamatkan), Imam Al-Ghazali menulis satu kitab khusus berjudul Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr. Di sana beliau mendefinisikan sabar sebagai teguhnya ba'its ad-din (dorongan agama) ketika berhadapan dengan ba'its al-hawa (dorongan hawa nafsu). Menurut beliau, hewan tidak punya sabar karena hanya digerakkan syahwat. Malaikat tidak memerlukannya karena tidak punya syahwat yang melawan. Hanya manusia yang dadanya menjadi tempat kedua dorongan itu saling tarik. Karena itu sabar termasuk kemuliaan yang khas manusia.
Konsep ini menjawab rasa bersalah si ayah di musholla SPBU tadi. Yang dipersoalkan dalam sabar bukanlah apakah air mata keluar, tetapi dorongan mana yang menang. Setelah surat PHK itu datang, hawa nafsu menarik ke banyak arah: panik, marah pada keadaan, menyalahkan istri, meninggalkan sholat karena merasa tak didengar, atau mengambil jalan pintas lewat pinjaman yang menjerat dan judi online yang menjanjikan cepat balik modal. Dorongan agama menarik ke arah lain: tetap bersujud, menjaga lisan di depan keluarga, dan mencari rezeki dengan cara yang halal meski lambat. Selama dorongan agama masih memegang kemudi, orang itu sedang bersabar, walaupun wajahnya basah.
Al-Ghazali juga menjelaskan bahwa setiap maqam agama, termasuk sabar, tersusun dari tiga unsur: ilmu (pengetahuan), hal (keadaan hati), dan amal (perbuatan). Pengetahuan bahwa musibah berada dalam pengaturan Allah SWT Yang Maha Bijaksana melahirkan keteguhan hati, lalu keteguhan hati itu melahirkan perbuatan yang terjaga. Urutan ini sangat membantu. Kalau hati terasa goyah, jangan langsung memaksa diri untuk tampak kuat. Mulailah dari ilmu, dengan kembali mengingat siapa yang mengatur hidup ini. Keadaan hati biasanya menyusul perlahan.
Baca Juga
Mengapa Nabi Tetap Mengembalikan Titipan Orang yang Hendak Membunuhnya?
Perspektif Imam An-Nawawi: Sabar yang Menjadi Amal
Al-Ghazali membedah medan batinnya, sedangkan Imam An-Nawawi memberi bentuk amalnya. Dalam Riyadhus Shalihin, beliau menyusun Bab Ash-Shabr sebagai salah satu bab paling awal. Isinya ayat-ayat dan hadits-hadits pilihan yang menjadi pegangan praktis seorang mukmin saat diuji. Salah satu ayat yang beliau hadirkan di bab itu adalah:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Terjemah makna: Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali. (QS. Al-Baqarah: 155-156)
Ayat ini sangat membumi. Rasa takut, kekurangan harta, dan kehilangan orang tercinta disebut satu per satu, dan semuanya adalah isi berita kehidupan kita setiap hari. Cara merespons pun diberikan dalam bentuk amal yang sangat konkret, yaitu istirja': mengucapkan kalimat bahwa kita milik Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya. Kalimat ini bukan mantra penghapus rasa sakit. Ia mengembalikan cara kita memandang: apa yang terlepas dari genggaman memang sejak awal bukan milik kita.
Dalam tradisi fiqih, para ulama juga memberi batas yang jelas. Menangis diperbolehkan, sebagaimana Rasulullah menangis. Yang dilarang adalah niyahah, yaitu meratap sambil memprotes takdir, menampar pipi, dan merobek pakaian. Hadits muttafaq 'alaih menyebut perbuatan seperti itu bukan jalan umat beliau. Di zaman sekarang, bentuk lahiriahnya bisa berubah, tapi intinya sama: kata-kata putus asa yang menggugat Allah. Para ulama juga menegaskan bahwa sabar tidak menghapus ikhtiar. Nabi Ya'qub, di tengah dukanya yang panjang, justru menyuruh anak-anaknya pergi mencari kabar Yusuf dan saudaranya, dan melarang mereka berputus asa dari rahmat Allah (QS. Yusuf: 87). Jadi sabar tetap berjalan: mengirim lamaran kerja, merundingkan ulang utang, dan mengantar orang tua berobat.
Relevansinya Hari Ini: Ujian di Detik Pertama
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW melewati seorang perempuan yang menangis di dekat sebuah kubur. Beliau menasihatinya agar bertakwa dan bersabar. Karena tidak mengenali beliau, perempuan itu menjawab ketus bahwa beliau tidak tertimpa musibah seperti dirinya. Setelah diberi tahu bahwa yang menasihatinya adalah Rasulullah SAW, ia bergegas mendatangi rumah beliau untuk meminta maaf. Beliau tidak memarahinya, hanya bersabda:
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى
Terjemah makna: Sesungguhnya kesabaran itu pada saat guncangan pertama. (HR. Bukhari dan Muslim)
Guncangan pertama itu kita semua kenal. Bentuknya bisa detik saat membaca surat PHK, saat dokter menunda kalimatnya sebelum menyebut diagnosis, saat notifikasi penagih utang masuk berturut-turut, atau saat pasangan mengucapkan kalimat yang tak pernah kita sangka. Kalimat pertama yang keluar di detik itu sering menentukan arah hari-hari berikutnya. Sabar di detik pertama tidak berarti tak merasakan apa-apa. Artinya, yang lebih dulu keluar dari lisan adalah istirja', bukan makian, dan yang pertama dituju hati adalah Allah SWT, bukan keputusasaan.
Kelembutan Rasulullah SAW kepada perempuan yang ketus itu juga pelajaran bagi kita yang sedang menemani orang lain dalam duka. Orang yang terluka kadang bicara kasar. Beliau tidak membalas dan tidak mempermalukannya, hanya meninggalkan satu kalimat yang bisa ia bawa pulang. Sabar ternyata juga berarti bersabar terhadap orang yang sedang tidak sanggup bersabar.
Ada satu hal lagi yang perlu diluruskan dengan lembut. Bersabar tidak sama dengan memendam semuanya sendirian sampai suatu hari meledak. Para ulama membedakan keluh-kesah yang menggugat takdir dengan menceritakan keadaan kepada orang yang tepat, seperti dokter, guru, sahabat yang amanah, atau pasangan, demi mencari jalan keluar. Yang pertama menggerus sabar, sedangkan yang kedua termasuk ikhtiar. Adapun pengaduan yang paling dalam, seperti Nabi Ya'qub, tetap ditujukan kepada Allah SWT, dalam sujud yang panjang dan di keheningan malam.
Langkah Kecil Saat Hati Sedang Retak
- Jadikan istirja' kalimat pertama. Latih lisan mengucapkannya pada musibah kecil, seperti HP jatuh atau rencana batal, supaya ia sudah siap ketika guncangan besar datang.
- Izinkan diri menangis, jaga lisan. Tangis bukan kekalahan. Yang perlu dijaga adalah kata-kata, terutama di depan anak dan pasangan.
- Kembali ke ilmu saat hati goyah. Baca lagi ayat-ayat tentang ujian, lalu biarkan keadaan hati menyusul perlahan, sesuai urutan yang diuraikan Al-Ghazali.
- Tetap berikhtiar. Satu langkah nyata setiap hari, sekecil apa pun, adalah wujud sabar yang tetap berjalan.
- Temani hati dengan dzikir yang menenangkan. Sholawat dan beberapa ayat Al-Qur'an setiap hari bukan jaminan musibah segera hilang. Keduanya adalah cara menjaga hati tetap dekat dengan Allah SWT dan Rasul-Nya selama melewati masa sulit.
Satu hal lagi layak direnungkan. Rasulullah SAW yang kita cintai bukan orang yang asing dengan kehilangan. Ayahanda beliau wafat sebelum beliau lahir, ibunda wafat ketika beliau masih kanak-kanak, lalu kakek yang mengasuhnya menyusul. Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib wafat dalam tahun yang sama. Putra-putri beliau pun wafat mendahului beliau, kecuali Sayyidah Fathimah. Beliau yang paling banyak kehilangan, dan beliau pula yang paling lembut mengajarkan cara bersedih tanpa kehilangan arah.
Maka izinkan pertanyaan ini tinggal sebentar di hati: jika Rasulullah SAW tidak malu menitikkan air mata di depan para sahabatnya, mengapa kita begitu keras menghakimi tangis kita sendiri? Dan selama ini, kepada siapa sebenarnya keluh kita paling sering diadukan?
Belajar sabar seperti ini adalah perjalanan panjang, dan tidak harus ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang belajar hal yang sama: menjaga hati tetap dekat dengan Rasulullah SAW lewat sholawat setiap hari dan menyempatkan tadarus bersama, pelan-pelan, tanpa paksaan, dan tanpa ajang pamer jumlah. Jika hatimu sedang retak dan butuh teman seperjalanan, mulailah setor sholawat di sini atau ikut baca Al-Qur'an bersama.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Baqarah: 155-156; QS. Yusuf: 18, 84, 86, 87.
- Hadis: HR. Bukhari (tangis Rasulullah SAW saat wafatnya Ibrahim; gerhana matahari pada hari itu), HR. Bukhari dan Muslim (sabar pada guncangan pertama; larangan meratap).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin Juz 4, Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr; Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Ash-Shabr.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.