Dalam satu surah yang sama, Allah SWT memuji dua nabi dengan kalimat yang nyaris kata demi kata serupa: ni'mal 'abd, innahu awwab, sebaik-baik hamba, sungguh ia amat sering kembali. Yang satu ditimpa derita pada tubuh dan keluarganya. Yang lain diberi kerajaan yang tidak dimiliki siapa pun sesudahnya. Pertanyaan yang jarang diajukan: dari keduanya, siapa sebenarnya yang sedang diuji lebih berat?
Bayangkan dua kakak-adik yang menerima kabar pada sore yang sama. Sang kakak menerima surat pemutusan kerja setelah sebelas tahun mengabdi. Cicilan rumah masih berjalan, dan anak sulungnya baru masuk SMP. Sang adik menerima kabar promosi, gajinya naik hampir dua kali lipat. Malam itu keduanya sama-sama tidak bisa tidur. Yang pertama menatap langit-langit kamar, menghitung tabungan yang tak cukup untuk tiga bulan, lalu diam-diam bertanya apakah doa-doanya selama ini benar-benar didengar. Yang kedua sibuk membuka aplikasi belanja, membandingkan harga mobil, dan tanpa sadar membiarkan waktu isya lewat hingga larut.
Kita terbiasa menyebut yang pertama sedang diuji dan yang kedua sedang diberi. Padahal keduanya berdiri di depan ujian yang sama, hanya dengan wajah yang berbeda. Yang satu diminta sabar, yang lain diminta syukur. Hidup orang dewasa jarang menghadirkan satu wajah saja: gaji cukup tetapi rumah tangga retak, anak sehat tetapi usaha merosot, ibadah mulai terasa manis tetapi utang terus menghimpit. Kita dituntut sabar dan syukur dalam tarikan napas yang sama. Dan jujur saja, hampir tidak ada yang pernah mengajari bagaimana caranya.
Dua Hamba, Dua Ujian yang Berlawanan
Al-Qur'an tidak merinci panjang lebar penderitaan Nabi Ayyub 'alaihissalam. Kisah-kisah dramatis yang beredar tentang tubuhnya sebagian besar tidak memiliki sandaran yang kuat. Yang pasti dari wahyu: ia ditimpa kesusahan yang berat, dan keluarganya ikut terenggut darinya. Hal ini diisyaratkan ketika Allah berfirman bahwa Dia mengembalikan keluarganya dan melipatgandakan jumlah mereka (QS. Shad: 43). Yang layak direnungkan adalah cara ia berdoa:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Terjemah makna: Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: Sesungguhnya aku telah ditimpa kesusahan, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. (QS. Al-Anbiya: 83)
Tidak ada tuntutan, tidak ada protes, bahkan tidak ada permintaan yang diucapkan terang-terangan. Ia hanya menyebut keadaannya, lalu menyebut sifat Tuhannya, dan menyerahkan sisanya. Inilah adab yang sering terlewat: sabar tidak berarti pura-pura tidak sakit. Sabar berarti mengadu kepada Allah, bukan mengeluhkan Allah kepada manusia. Dari hamba yang merintih seperti itu, Allah memberi kesaksian:
إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
Terjemah makna: Sesungguhnya Kami mendapatinya seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba, sungguh ia amat banyak kembali (kepada Allah). (QS. Shad: 44, potongan ayat)Beberapa ayat sebelumnya, pujian yang sama diberikan kepada Nabi Sulaiman 'alaihissalam (QS. Shad: 30). Ujiannya justru datang dari arah sebaliknya: kekuasaan, kekayaan, dan kemampuan yang membuat sesuatu yang mustahil terjadi dalam sekejap mata. Ketika singgasana Ratu Saba' tiba di hadapannya lebih cepat dari kedipan mata, kalimat pertama yang keluar dari lisannya bukan kebanggaan, melainkan pengakuan:
قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
Terjemah makna: Ia berkata: Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barang siapa bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia. (QS. An-Naml: 40)
Di puncak kemegahannya, Nabi Sulaiman memandang nikmat sebagai ujian. Di surah yang sama, ketika mendengar ucapan seekor semut, ia bahkan tidak langsung bersyukur. Ia justru memohon agar diberi kemampuan untuk bersyukur (QS. An-Naml: 19). Syukur ternyata bukan sesuatu yang bisa kita hasilkan sendiri. Syukur pun karunia yang harus diminta.
Kunci kedua kisah ada pada satu kata yang sama: awwab, orang yang terus kembali. Nabi Ayyub kembali kepada Allah ketika segalanya diambil. Nabi Sulaiman kembali kepada Allah ketika segalanya diberikan. Sabar dan syukur ternyata bukan dua jalan yang berlawanan, melainkan dua langkah menuju pintu yang sama. Karena itu Al-Qur'an berulang kali menyandingkan keduanya dalam satu sifat:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
Terjemah makna: Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur. (QS. Ibrahim: 5) Kedua kata itu memakai bentuk yang menunjukkan kesungguhan dan pengulangan, shabbar dan syakur. Keduanya bukan sikap sesaat, melainkan watak yang dilatih seumur hidup.Baca Juga
Ketika Akhlak Lebih Berat dari Ibadah: Pelajaran Sepuluh Tahun Anas
Perspektif Imam Al-Ghazali: Dua Sayap dalam Satu Hati
Imam Al-Ghazali membahas tema ini dalam satu kitab tersendiri, Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr, yang termasuk dalam Rub' Al-Munjiyat (bagian tentang hal-hal yang menyelamatkan) pada Juz 4 Ihya' Ulumuddin. Beliau tidak memisahkan keduanya ke dalam kitab yang berbeda. Penggabungan itu sendiri sudah menjadi pesan: iman berdiri di atas keduanya, seperti burung yang tidak bisa terbang dengan satu sayap.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa sabar dan syukur sama-sama tersusun dari tiga unsur: ilmu (pengetahuan), hal (keadaan hati), dan amal (perbuatan). Sabar beliau gambarkan sebagai pertarungan batin antara dorongan agama dan dorongan hawa nafsu. Orang yang sabar adalah orang yang dorongan agamanya tetap berdiri tegak, meski dorongan untuk marah, putus asa, atau lari terasa sangat kuat. Syukur pun bertingkat. Ilmunya adalah menyadari bahwa nikmat datang dari Allah SWT. Keadaan hatinya adalah bergembira karena Sang Pemberi, bukan sekadar karena pemberian. Amalnya adalah memakai nikmat itu untuk hal yang Dia ridhai.
Di sinilah sang adik dalam kisah pembuka tadi tergelincir tanpa sadar. Ia bergembira, tetapi kegembiraannya tertuju pada gaji, bukan pada Dzat yang memberinya gaji. Sang kakak pun dijumpai Al-Ghazali di titik rapuhnya. Beliau mengajak orang yang tertimpa musibah untuk melihat sisi nikmat yang tersembunyi di dalamnya: musibah itu tidak menimpa agamanya, keadaannya masih bisa lebih berat dari itu, dan apa yang telah tertulis sudah pasti akan lewat. Artinya, di tengah derita pun masih ada ruang untuk syukur. Sebaliknya, di tengah nikmat pun ada kewajiban untuk sabar, yaitu sabar menahan diri dari lalai dan berlebihan.
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam merangkum kegelisahan ini dalam kalimat yang lembut: terkadang Allah SWT memberimu, padahal sejatinya Dia sedang menahan sesuatu darimu; dan terkadang Dia menahan sesuatu darimu, padahal sejatinya Dia sedang memberimu. Surat PHK itu belum tentu kehilangan, dan surat promosi itu belum tentu keberuntungan. Yang menentukan adalah ke mana hati bergerak setelah membacanya.
Perspektif Imam An-Nawawi: Menjadikannya Amal yang Bisa Dilatih
Jika Al-Ghazali membedah sabar dan syukur sampai ke akar batinnya, Imam An-Nawawi menurunkannya menjadi jalan yang bisa ditempuh setiap hari. Dalam Riyadhus Shalihin, beliau menempatkan Bab Ash-Shabr sebagai salah satu bab paling awal, tepat setelah bab ikhlas dan taubat. Susunan ini bukan kebetulan: sebelum seseorang melangkah jauh dalam amal, ia perlu memiliki daya tahan. Di dalam bab itu, beliau memuat sabda Rasulullah SAW yang menyatukan kedua sayap tadi:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Terjemah makna: Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan, dan hal itu tidak dimiliki siapa pun kecuali orang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya. (HR. Muslim)
Hadits ini tidak menjanjikan hidup tanpa kesusahan. Yang dijanjikan adalah hidup yang tidak pernah sia-sia. Kebaikan tidak terletak pada peristiwanya, tetapi pada respons hamba terhadap peristiwa itu. Di bab yang sama, Imam An-Nawawi juga membawakan sabda Nabi SAW bahwa sabar yang sesungguhnya adalah pada benturan pertama (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Pelajarannya sangat praktis. Sabar tidak diukur dari seberapa tenang kita sepekan setelah musibah, tetapi dari apa yang keluar dari lisan dan jari kita pada menit-menit pertama.
Untuk sisi syukur, Rasulullah memberi latihan yang sederhana: lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena itu lebih layak agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah atasmu (HR. Muslim). Ini bukan ajakan untuk puas diri atau berhenti berusaha. Ini cara menjaga pandangan hati agar tidak terus-menerus merasa kurang.
Relevansinya Hari Ini
Para ulama sejak dulu membahas mana yang lebih utama: orang miskin yang sabar atau orang kaya yang bersyukur. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menulis kitab khusus untuk tema ini, 'Uddatush Shabirin wa Dzakhiratusy Syakirin, dan memaparkan beragam pendapat ulama dengan penuh adab. Di antara kesimpulan yang beliau condongi: yang paling utama adalah yang paling bertakwa di antara keduanya. Perbedaan pendapat ini berada di wilayah penimbangan keutamaan, bukan persoalan akidah. Pesannya menenangkan: kita tidak perlu iri pada ujian orang lain, sebab ukurannya bukan besar-kecilnya ujian, melainkan kejujuran hati saat menjalaninya.
Dari dua kisah dan dua perspektif ini, ada beberapa langkah kecil yang bisa dijaga:
- Saat sesuatu diambil: jaga benturan pertama. Tahan jari dari menulis status yang penuh amarah. Adukan keadaanmu kepada Allah SWT dengan jujur seperti Nabi Ayyub, tanpa merasa harus terlihat kuat.
- Saat sesuatu diberikan: sebelum mengabarkannya kepada siapa pun, ucapkan dalam hati makna kalimat Nabi Sulaiman: ini karunia Tuhanku untuk mengujiku.
- Setiap hari: sebut satu nikmat yang masih tersisa, sekecil apa pun, meski hari itu terasa gelap. Mohonlah kemampuan untuk bersyukur, karena syukur pun pemberian.
- Jaga ruang kembali: sediakan waktu harian yang tetap, walau singkat, untuk bersholawat dan membaca Al-Qur'an. Niatnya bukan sebagai tawar-menawar agar ujian cepat selesai, melainkan sebagai latihan menjadi awwab, hamba yang selalu tahu jalan pulang.
Sabar tanpa syukur mudah berubah menjadi getir yang dipendam. Syukur tanpa sabar mudah luntur menjadi kelalaian yang dibungkus rasa bahagia. Keseimbangan di antara keduanya tidak dicapai dengan menunggu hidup berhenti bergejolak, tetapi dengan terus kembali, lagi dan lagi, di setiap gejolaknya.
Maka, malam ini, ketika kabar baik dan kabar buruk datang silih berganti di layar ponselmu, barangkali pertanyaannya bukan lagi ujian mana yang sedang kamu hadapi. Pertanyaannya adalah: setiap kali sesuatu datang atau pergi dari hidupmu, apakah langkahmu sedang pulang kepada-Nya, atau justru semakin menjauh?
Belajar menjadi hamba yang terus kembali memang tidak mudah bila ditempuh sendirian. Di komunitas AlFatihRPS, banyak sahabat sedang menempuh latihan yang sama, pelan-pelan dan tanpa saling membandingkan jumlah: menyapa Rasulullah SAW lewat sholawat setiap hari dan menyempatkan tadarus bersama. Jika hatimu ingin punya ruang pulang yang tetap, kamu bisa mulai setor sholawat di sini atau membaca Al-Qur'an bersama.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Anbiya: 83; QS. Shad: 30, 43, 44; QS. An-Naml: 19, 40; QS. Ibrahim: 5.
- Hadits: sabda tentang menakjubkannya urusan mukmin (HR. Muslim); sabar pada benturan pertama (HR. Al-Bukhari dan Muslim); melihat orang yang di bawah dalam urusan dunia (HR. Muslim).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin, Juz 4, Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr; Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Ash-Shabr; Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, 'Uddatush Shabirin wa Dzakhiratusy Syakirin; Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.