Seorang pelajar hari ini bisa menonton kajian tujuh ustadz dalam satu malam, menyimpan ribuan kitab dalam satu folder, lalu tidur dengan hati yang tetap kosong. Ribuan tahun lalu, seorang Nabi yang diajak bicara langsung oleh Allah SWT menempuh perjalanan jauh hanya untuk berguru kepada satu orang. Dan ia gagal di ujian pertamanya.
Kegagalan itu bukan soal kecerdasan. Nabi Musa adalah salah satu Ulul 'Azmi, manusia pilihan yang menerima wahyu dan menghadapi Fir'aun tanpa gentar. Tetapi di hadapan seorang hamba saleh yang dalam tradisi tafsir dikenal sebagai Khidr, kapasitas kenabian itu tidak otomatis menjadi tiket masuk. Ada satu hal yang diminta lebih dulu, dan bukan hafalan: kesediaan menahan diri.
Ketika Ilmu Datang Lebih Cepat daripada Kesiapan Hati
Kegelisahan ini terasa akrab. Seorang karyawan yang lelah setelah delapan jam kerja membuka ponsel, menonton potongan kajian tiga menit, dan merasa sudah paham. Seorang ibu yang sedang menghadapi anak sulit diatur membaca satu utas media sosial, lalu merasa berhak menghakimi cara mendidik tetangganya. Seorang mahasiswa yang baru membaca dua artikel merasa cukup bekal untuk membantah pendapat yang sudah dikaji ratusan tahun oleh para ulama.
Yang terjadi bukan bertambahnya ilmu, melainkan bertambahnya kepercayaan diri tanpa disertai bertambahnya kelembutan. Informasi masuk begitu deras, sementara wadah penampungnya, yaitu hati, tidak pernah sempat dibersihkan. Akibatnya bisa dirasakan sendiri: makin banyak tahu, makin gampang tersinggung; makin banyak dalil dihafal, makin sedikit orang yang betah duduk di dekat kita. Ilmu yang seharusnya menenangkan justru berubah menjadi beban yang membuat pemiliknya keras dan gelisah.
Perjalanan Panjang untuk Satu Kalimat Permohonan
Al-Qur'an mengabadikan momen itu dengan bahasa yang sangat halus. Setelah menempuh perjalanan melelahkan hingga kehabisan bekal, Nabi Musa tidak membuka percakapan dengan memperkenalkan kedudukannya. Ia justru bertanya dengan kalimat yang lebih menyerupai permohonan seorang murid kecil.
قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Terjemah makna: Musa berkata kepadanya, Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu? (QS. Al-Kahfi: 66)
Perhatikan susunan kalimatnya. Ada permintaan izin sebelum ada permintaan ilmu. Ada kesediaan mengikuti sebelum ada tuntutan diajari. Dan ada pengakuan bahwa ilmu itu bukan milik sang guru, melainkan sesuatu yang telah diajarkan kepadanya, sehingga posisi keduanya sama-sama berdiri di bawah pemberian Allah SWT. Dalam tiga lapis adab itu, Nabi Musa sudah merendahkan dirinya jauh sebelum pelajaran pertama dimulai.
Jawaban yang ia terima pun bukan sambutan hangat, melainkan peringatan:
قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
Terjemah makna: Dia berkata, Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersamaku. Dan bagaimana engkau dapat bersabar atas sesuatu yang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentangnya? (QS. Al-Kahfi: 67-68)Di sinilah letak pelajaran yang jarang disorot. Syarat masuk majelis itu bukan hafalan, bukan kecerdasan, bukan pula pangkat kenabian, melainkan kesanggupan menunda penilaian. Nabi Musa diminta untuk tidak buru-buru memvonis apa yang belum ia pahami utuh. Dan ketika perahu dilubangi, ketika sesuatu yang tampak zalim terjadi di depan matanya, ia tetap tidak sanggup diam. Bukan karena ia buruk, tetapi karena naluri manusia memang ingin segera menyimpulkan. Justru kegagalan yang jujur inilah yang membuat kisah ini terasa dekat dengan kita.
Perspektif Imam Al-Ghazali: Membersihkan Wadah Sebelum Mengisinya
Dalam Kitab Al-'Ilm (Ihya' Ulumuddin, Juz 1), pada pembahasan adab murid dan pengajar, Imam Al-Ghazali menempatkan satu kewajiban pertama bagi penuntut ilmu sebelum kewajiban-kewajiban lainnya, yaitu tathhirun nafs, menyucikan jiwa dari akhlak tercela. Alasannya sederhana namun menusuk: ilmu, menurut beliau, adalah ibadah hati dan bentuk kedekatan batin kepada Allah SWT. Sebagaimana shalat tidak sah pada anggota badan yang tidak suci, ilmu pun tidak menetap dalam hati yang masih dipenuhi dengki, sombong, dan cinta pujian.
Istilah tathhirun nafs ini perlu dipahami dengan jujur agar tidak terasa jauh. Maknanya bukan menunggu hati bersih sempurna baru boleh belajar, sebab kalau begitu tidak akan ada yang pernah mulai. Maksudnya adalah kesediaan mengakui bahwa hati kita ini punya kecenderungan buruk yang bisa mencemari ilmu, lalu belajar sambil terus membersihkannya. Al-Ghazali juga mengingatkan agar murid tidak bersikap seperti pengatur terhadap gurunya, melainkan menyerahkan diri sebagaimana orang sakit menyerahkan dirinya kepada tabib yang penuh kasih.
Inilah dimensi batin dari kisah Nabi Musa. Yang diminta Khidr bukan kepatuhan buta, melainkan pengendalian gejolak dalam dada yang selalu ingin cepat berkomentar. Al-Ghazali seolah menjelaskan mengapa syarat itu berat: karena yang sedang dilatih bukan otak, tetapi ego.
Baca Juga
Ketika Jujur Terasa Merugikan: Membaca Ulang Makna Shidq
Perspektif Imam An-Nawawi: Adab yang Turun Menjadi Perilaku Harian
Jika Al-Ghazali menyorot kedalaman batin, Imam An-Nawawi membawanya turun menjadi laku sehari-hari yang bisa dikerjakan. Dalam At-Tibyan fi Adab Hamalat Al-Qur'an, pada bab adab pengajar dan pelajar Al-Qur'an, beliau merinci hal-hal yang tampak kecil namun menentukan: meluruskan niat agar belajar bukan demi tujuan duniawi semata, memuliakan guru dan bersikap tawadhu di hadapannya, bersungguh-sungguh menjaga waktu, serta mengamalkan apa yang telah dipelajari. Beliau juga menekankan bahwa seorang pengajar dituntut berakhlak lembut, tidak merendahkan pelajarnya, dan mengajar demi mengharap ridha Allah SWT.
Dua sisi ini tidak bertentangan, justru saling mengunci. Tanpa penyucian hati ala Al-Ghazali, adab lahiriah bisa berubah menjadi formalitas kosong: mencium tangan guru sambil menyimpan rasa lebih pandai. Tanpa perincian amal ala An-Nawawi, penyucian hati mudah berhenti sebagai wacana indah yang tidak pernah menyentuh cara kita duduk, bertanya, dan menyimak.
Karena itulah para ulama sejak dahulu menyusun panduan khusus bagi penuntut ilmu. Syaikh Az-Zarnuji dalam Ta'lim Al-Muta'allim, pada fasal tentang niat dalam belajar, mengingatkan bahwa niat adalah pondasi yang menentukan nilai seluruh perjalanan menuntut ilmu, sebab amal yang sama bisa bernilai sangat berbeda tergantung apa yang diniatkan pelakunya. Bagi seorang muslim, tujuan ilmu adalah menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri lebih dulu, baru kemudian bermanfaat bagi orang lain.
Relevansinya Hari Ini
Kita hidup di masa ketika akses ilmu paling mudah sepanjang sejarah, tetapi kesabaran belajar justru paling langka. Ada yang merasa cukup berguru pada mesin pencari, lalu kehilangan seseorang yang bisa menegur ketika ia keliru. Ada yang mengoleksi kajian tanpa pernah menyelesaikan satu pun pembahasan sampai tuntas. Ada pula yang belajar agama justru untuk mencari bahan membantah saudaranya, bukan untuk memperbaiki dirinya sendiri.
Kisah Nabi Musa menawarkan koreksi yang lembut. Kalau seorang Nabi saja harus meminta izin, berjanji bersabar, dan tetap perlu dituntun pelan-pelan, maka kita tidak sedang kehilangan apa pun dengan bersikap rendah hati. Justru di situlah pintu terbuka. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Terjemah makna: Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim)
Kata menempuh jalan dalam hadis ini mengandung isyarat proses, bukan lompatan. Ada langkah, ada jarak, ada lelah yang harus dijalani. Maka wajar bila pemahaman datang bertahap, dan wajar pula bila hari ini ada bagian yang belum kita mengerti. Yang tidak wajar adalah menuntut ilmu memberi kita rasa lebih tinggi dari orang lain, padahal Allah sendiri mengajarkan Nabi-Nya untuk terus meminta tambahan:
وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Terjemah makna: Dan katakanlah, Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu. (QS. Thaha: 114)Perbedaan pendapat di antara para ulama dalam persoalan cabang keilmuan pun sebaiknya dibaca dengan kacamata adab yang sama. Selama masih berada di wilayah furu', yakni cabang dan teknis pengamalan, bukan inti akidah, perbedaan itu adalah kekayaan yang dijaga para ulama dengan penuh penghormatan. Sikap yang tepat bagi kita adalah mengikuti bimbingan guru dan pembimbing keilmuan yang dipercaya, sambil tetap menghargai saudara kita yang mengikuti bimbingan gurunya sendiri.
Yang Tersisa untuk Direnungkan
Nabi Musa akhirnya berpisah dengan gurunya sebelum semua rahasia sempat dijelaskan. Sebagian pelajaran memang tidak selesai di dunia. Tetapi ada satu hal yang tidak hilang darinya: kesediaan untuk berkata bolehkah aku mengikutimu.
Pertanyaannya sekarang berbalik kepada kita. Kalau seorang Nabi masih merasa perlu berguru dan berjanji bersabar, kapan terakhir kali kita duduk mendengarkan tanpa buru-buru membantah? Dan jika hari ini ilmu terasa masuk ke kepala tetapi tidak sampai melembutkan sikap kita kepada pasangan, orang tua, atau rekan kerja, mungkin yang perlu ditambah bukan bacaannya, melainkan adabnya.
Melembutkan hati seperti itu memang lebih mudah dijalani bersama-sama, dalam langkah kecil yang konsisten dan tanpa tekanan. Di komunitas AlFatihRPS, para pejuang sedang membiasakan diri merawat hati lewat sholawat harian kepada Rasulullah SAW sekaligus menyempatkan tadarus Al-Qur'an, dua amalan yang sejak dulu diajarkan para ulama sebagai penjaga adab seorang penuntut ilmu. Jika hati sedang ingin mulai lagi dari awal, mulailah setor sholawat di sini atau ikut membaca Al-Qur'an bersama, pelan-pelan saja, yang penting berjalan.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Kahfi: 66-68 dan QS. Thaha: 114.
- Hadis: HR. Muslim tentang keutamaan menempuh jalan menuntut ilmu.
- Kitab klasik: Ihya' Ulumuddin (Juz 1, Kitab Al-'Ilm) karya Imam Al-Ghazali; At-Tibyan fi Adab Hamalat Al-Qur'an karya Imam An-Nawawi; Ta'lim Al-Muta'allim karya Syaikh Az-Zarnuji.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.