Jam makan siang di kantor, kamu diam-diam mengamati rekan kerja yang antusias bercerita tentang proyek sampingannya. Sebuah bisnis kecil yang baru ia rintis, mungkin menjual kerajinan tangan atau jasa katering rumahan. Senyumnya lebar, matanya berbinar. Tapi entah kenapa, dalam hati, terbesit pikiran: 'Ah, paling juga cuma iseng, mana bisa sukses?' Atau sebaliknya, kamu yang sedang berjuang meniti karier atau memulai usaha, merasa pahit saat mendengar komentar sinis dari orang terdekat: 'Buat apa capek-capek? Gaji segitu doang, nggak akan bikin kaya.'
Perasaan meremehkan, baik yang muncul dari diri sendiri terhadap orang lain, maupun yang kita rasakan dari orang lain, seringkali meninggalkan luka batin. Ia mengikis semangat, merusak ukhuwah, dan bahkan menghalangi kita untuk melihat keindahan perjuangan sesama. Lebih dalam lagi, sikap ini seringkali berakar dari sebuah penyakit hati yang berbahaya: kibr atau kesombongan, meski kadang terselubung dalam bentuk ketidaksabaran atau pandangan yang terlalu dangkal terhadap kuasa Allah.
Dalam ajaran luhur Rasulullah ﷺ, kita diajari untuk senantiasa menjaga lisan dan hati dari merendahkan sesama. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
(Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok); dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan-perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan-perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan-perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.) (QS. Al-Hujurat: 11). Ayat ini dengan tegas melarang kita merendahkan orang lain, karena hakikat kebaikan dan kemuliaan hanya Allah yang tahu.
Sikap meremehkan adalah manifestasi dari kibr atau kesombongan, sebuah hijab tebal yang menghalangi hati untuk melihat kebenaran dan keindahan. Rasulullah ﷺ bersabda:
Baca Juga
Terjebak Lingkaran Cicilan? Begini Cara Qana'ah Membebaskan Hati
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
(Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar biji sawi.) (HR. Muslim). Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa kibr adalah melihat diri sendiri lebih mulia dari yang lain, yang kemudian melahirkan sikap meremehkan, merendahkan, dan enggan menerima kebenaran dari siapapun. Padahal, setiap usaha, sekecil apapun, adalah sebuah ikhtiar yang patut dihargai, sebab Allah tidak melihat hasil semata, melainkan proses dan niat di baliknya.
Bahkan jika kita melihat usaha seseorang yang secara lahiriah tampak biasa atau belum membuahkan hasil besar, hikmah mengajarkan kita untuk tidak buru-buru menghakiminya. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan bahwa “terkadang Allah membukakan pintu untukmu menuju ketaatan, namun tidak membukakan pintu untukmu menuju penerimaan (hasilnya), dan terkadang Dia membukakan pintu untukmu menuju dosa, namun Dia membukakan pintu untukmu menuju pengampunan.” Ini berarti, fokus kita seharusnya pada niat dan ikhtiar, bukan pada hasil yang sepenuhnya berada dalam genggaman Allah. Meremehkan usaha orang lain sama dengan meremehkan potensi takdir dan rahmat Allah yang mungkin tercurah pada mereka.
Maka, marilah kita melatih hati untuk senantiasa berprasangka baik dan melihat setiap langkah sesama dengan kacamata kasih sayang, sebagaimana Rasulullah ﷺ mencontohkannya. Alih-alih meremehkan, kita bisa menawarkan dukungan, doa, atau sekadar senyum tulus yang menguatkan. Ini adalah bagian dari membangun ukhuwah, persaudaraan yang kokoh. Dengan demikian, kita tidak hanya menjaga hati dari penyakit kibr, tetapi juga turut menyebarkan energi positif yang mendorong setiap 'pejuang' untuk terus melangkah, apapun tantangannya.
Bergabung sebagai pejuang: Belajar istiqomah bersama di member.alfatihrps.com — sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.