Pernahkah kamu merasa, sepulang dari kumpul-kumpul atau bahkan sekadar mengobrol di grup WhatsApp, ada rasa berat yang menggantung di hati? Seolah ada beban tak kasat mata yang membuat pikiran tak tenang, padahal obrolannya 'seru' membahas kekurangan atau kesalahan orang lain. Mungkin awalnya cuma mendengarkan, lalu ikut menimpali, dan tanpa sadar, kita ikut menyumbang pada 'pesta' yang justru menguras energi batin. Sensasi itu bukan sekadar lelah fisik, melainkan kelelahan batin yang perlahan mengikis kedamaian.
Dalil
Allah berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
Artinya: Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS. At-Talaq: 2)
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang istiqomah, meskipun sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)
Keresahan batin semacam ini adalah alarm dari hati kita yang sebetulnya bersih, mengingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Dalam tradisi tasawuf, lisan adalah gerbang hati. Apa yang keluar darinya mencerminkan apa yang bersemayam di dalamnya. Ketika lisan sibuk membicarakan aib orang lain, sejatinya ia sedang membuka celah bagi penyakit hati untuk masuk, menggerogoti ketenangan dan kebersihan jiwa.
Baca Juga
Mengapa Anak Sulit Menepati Janji? Hikmah Amanah untuk Hati yang Tenang
Allah SWT sendiri telah memberikan peringatan keras mengenai bahaya ini. Ia menggambarkannya dengan analogi yang sangat kuat, menyentuh fitrah manusia yang cenderung menjauhi hal-hal menjijikkan. Firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini bukan hanya larangan, melainkan sebuah cerminan tentang betapa buruknya ghibah di mata Allah. Ia seperti memakan daging bangkai saudara sendiri, sebuah tindakan yang secara naluriah sangat menjijikkan. Bahkan, Rasulullah ﷺ pun menegaskan definisi ghibah dengan gamblang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang dia benci.” Ada yang bertanya, “Bagaimana jika yang saya katakan itu memang ada pada dirinya?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan itu memang ada pada dirinya, maka kamu telah mengghibahnya. Jika tidak ada pada dirinya, maka kamu telah berdusta atasnya.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa ghibah bukanlah soal kebenaran informasi, melainkan soal hak dan kehormatan seorang Muslim.
Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, secara mendalam membahas tentang bahaya lisan sebagai salah satu pintu terbesar masuknya dosa ke dalam hati. Beliau mengingatkan bahwa menjaga lisan adalah fondasi penting dalam *tazkiyatun nafs* (penyucian jiwa). Lisan yang terjaga bukan hanya melindungi kehormatan orang lain, tetapi juga menjaga kemurnian hati kita sendiri dari iri, dengki, dan ujub. Ketika kita mampu menahan lisan dari ghibah, kita sedang memupuk *mahabbah* (cinta) yang tulus dan *ukhuwah* (persaudaraan) yang sejati, baik kepada sesama Muslim maupun kepada Rasulullah ﷺ yang senantiasa mengajarkan kebaikan.
Maka, jika hati terasa gersang atau gelisah setelah terlibat dalam obrolan yang tak bermanfaat, itu adalah panggilan untuk kembali ke jalan yang lebih mulia. Jalan yang ditawarkan adalah dengan menyibukkan hati dan lisan pada hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya. Mengisi waktu luang dengan sholawat dan tadarus Al-Qur'an adalah dua amalan sederhana namun memiliki kekuatan luar biasa untuk membersihkan hati, menenangkan jiwa, dan mengalihkan energi dari hal-hal negatif menjadi positif. Ini adalah langkah kecil yang konsisten, tanpa tekanan, tanpa janji berlebihan, murni pembinaan hati agar senantiasa merindu pada kebaikan dan Rasulullah ﷺ.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.