Senja baru saja tiba, namun di benak seorang ibu, beban tagihan listrik yang belum terbayar terasa lebih pekat dari gelap malam. Ia menatap tumpukan cucian yang menggunung, pekerjaan rumah yang tak ada habisnya, dan di sudut hatinya, ada kekhawatiran yang tak terucap: bagaimana esok anak-anak akan makan? Kelelahan batin kadang menyerang, membuat pertanyaan tentang keberkahan hidup terasa begitu jauh, seolah Allah tak melihat perjuangan ini.
Perasaan semacam ini bukanlah tanda kelemahan iman, melainkan bagian dari fitrah manusia yang berhadapan dengan ujian dunia. Dalam pusaran tuntutan ekonomi dan rumah tangga yang tak berkesudahan, seringkali kita lupa bahwa ketenangan hati dan keberkahan sejati tidak selalu berbanding lurus dengan kelimpahan materi. Justru, di tengah keterbatasan itulah, hikmah seringkali menyapa, mengajarkan kita tentang esensi *ridha* (kerelaan) dan *tawakkul* (berserah diri) yang hakiki.
Para ulama tasawuf, seperti Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin, mengajarkan bahwa *ridha* bukanlah sikap pasif yang menyerah pada keadaan tanpa upaya. Sebaliknya, ia adalah puncak ketenangan hati yang muncul setelah kita mengerahkan segala ikhtiar, lalu menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah. Ini adalah pengakuan bahwa setiap takdir, baik atau buruk di mata kita, mengandung hikmah dan kebaikan dari-Nya. Dengan *ridha*, beban di pundak terasa ringan, sebab kita tahu ada Dzat Yang Maha Mengatur lagi Maha Penyayang.
Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri telah menjanjikan pertolongan bagi hamba-Nya yang bersabar dan senantiasa kembali kepada-Nya.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Terjemah makna: Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah: 153) Ayat ini adalah pelukan Ilahi bagi setiap jiwa yang lelah, sebuah penegasan bahwa di balik setiap kesulitan, ada pintu pertolongan yang terbuka lebar melalui kesabaran dan ibadah, termasuk sholawat yang tak henti kita lantunkan.Baca Juga
Resep Ketenangan Ala Rasulullah ﷺ: Mengapa 'Healing' Modern Sering Kali Gagal?
Lalu, bagaimana kita mengamalkan *ridha* dan *tawakkul* ini dalam keseharian ibu tangguh? Bukan dengan berhenti berikhtiar, melainkan dengan mengubah cara pandang terhadap hasil ikhtiar. Seorang mukmin sejati, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, akan selalu menemukan kebaikan dalam setiap keadaan.
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Terjemah makna: Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan baginya. Apabila ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar dan itu baik baginya. Dan ini tidaklah terjadi kecuali pada seorang mukmin. (HR. Muslim) Hadits ini adalah pengingat bahwa setiap badai ekonomi, setiap kelelahan batin, adalah ladang pahala dan kesempatan bagi hati untuk semakin dekat dengan Sang Pencipta.Mencari berkah dalam keterbatasan berarti melihat setiap tantangan sebagai anugerah yang mengasah kesabaran dan menguatkan iman. Ia adalah proses pembinaan hati (mahabbah) yang tak hanya berujung pada ketenangan diri, tetapi juga melahirkan kekuatan untuk terus beramal dan menebarkan kebaikan. Dengan hati yang *ridha* dan bertawakkal, setiap langkah perjuangan seorang ibu tangguh akan terasa bermakna, karena ia tahu, ia sedang berjalan dalam bimbingan dan cinta Allah, serta mengikuti jejak Rasulullah ﷺ yang penuh kesabaran.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah)
- Hadis Riwayat Muslim
- Kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali
- Pembahasan tasawuf dalam kitab-kitab ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.