Pernahkah di tengah kesibukan harian, kamu memanggil anakmu berulang kali, namun ia tetap asyik dengan dunianya sendiri, seolah tak mendengar? Bukan hanya sekadar fokus, kadang ada rasa khawatir yang menyelinap, โJangan-jangan ada yang salah?โ Atau bahkan, sebuah bisikan hati yang getir, โApakah kita sudah cukup menjaga amanah ini?โ Keresahan ini bukan hanya soal disiplin, melainkan tentang sebuah karunia agung yang seringkali kita lupakan di tengah hiruk pikuk modern: pendengaran.
Pendengaran adalah salah satu gerbang utama bagi manusia untuk berinteraksi dengan dunia, belajar, dan menerima petunjuk. Namun, dalam keseharian, kita sering abai terhadapnya, terutama pada anak-anak. Volume gadget yang terlalu tinggi, paparan bising yang terus-menerus, atau kurangnya stimulasi pendengaran yang sehat, perlahan bisa mengikis karunia ini. Ini bukan sekadar isu kesehatan fisik, melainkan juga cerminan bagaimana kita memperlakukan sebuah ni'mah (nikmat) dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan tegas mengingatkan kita akan karunia ini:
ููุงูููููู ุฃูุฎูุฑูุฌูููู
ู
ููู ุจูุทูููู ุฃูู
ููููุงุชูููู
ู ููุง ุชูุนูููู
ูููู ุดูููุฆูุง ููุฌูุนููู ููููู
ู ุงูุณููู
ูุนู ููุงููุฃูุจูุตูุงุฑู ููุงููุฃูููุฆูุฏูุฉู ููุนููููููู
ู ุชูุดูููุฑูููู
โDan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.โ (QS. An-Nahl: 78). Ayat ini bukan hanya deskripsi penciptaan, melainkan panggilan untuk syukurโmenggunakan dan menjaga setiap karunia sesuai kehendak Sang Pemberi. Imam Al-Ghazali dalam Ihyaโ Ulumuddin menjelaskan bahwa syukur adalah mengenali nikmat, menerimanya dengan rendah hati, dan menggunakannya pada jalan yang diridhai Allah. Menjaga pendengaran anak, berarti kita sedang menunaikan sebagian dari hak syukur atas nikmat yang tak ternilai ini.Maka, merawat pendengaran anak adalah bagian dari amanah dan tanggung jawab orang tua yang tak bisa dianggap remeh. Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ูููููููู
ู ุฑูุงุนู ูููููููููู
ู ู
ูุณูุฆูููู ุนููู ุฑูุนููููุชููู
Baca Juga
Mengapa Anak Sulit Menepati Janji? Hikmah Amanah untuk Hati yang Tenang
โSetiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.โ (HR. Bukhari dan Muslim). Anak-anak adalah โrakyatโ kita di rumah, dan kesehatan fisik serta spiritual mereka adalah amanah yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Menjaga pendengaran mereka berarti kita sedang memastikan salah satu pintu utama mereka untuk menerima ilmu, mendengarkan Al-Qur'an, dan meresapi hikmah tetap terbuka lebar.Langkah kecil yang konsisten (istiqomah) adalah kuncinya. Bukan dengan larangan keras yang memicu konflik, melainkan dengan pembiasaan yang lembut dan penuh kesadaran. Misalnya, membatasi waktu penggunaan headphone, memastikan volume selalu pada batas aman, atau lebih sering mengajak anak berinteraksi langsung tanpa distraksi. Ini adalah bentuk tarbiyah (pendidikan) yang menyeluruh, sebuah manifestasi cinta (mahabbah) kita kepada mereka, sekaligus wujud kecintaan kita kepada Rasulullah ๏ทบ yang senantiasa mengajarkan untuk berbuat ihsan kepada keluarga.
Ketika kita secara istiqomah menjaga amanah pendengaran anak, kita sedang membukakan gerbang bagi mereka untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih peka, baik terhadap suara-suara di sekelilingnya maupun terhadap bisikan hati dan petunjuk Ilahi. Ini adalah investasi jangka panjang, bukan hanya untuk kesehatan fisik, tetapi juga untuk ketenangan jiwa dan kedalaman spiritual mereka di masa depan. Mari bersama-sama membangun kebiasaan baik ini, demi generasi yang senantiasa perindu Rasulullah dan peka terhadap setiap karunia-Nya.
Bergabung sebagai pejuang: Belajar istiqomah bersama di member.alfatihrps.com โ sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.