Jam tiga pagi, batuk parah anak Anda membangunkan seisi rumah. Panik merayap, suhu tubuhnya melonjak, dan pikiran kalut: “Kapan terakhir kali ia diperiksa menyeluruh? Adakah yang terlewat?” Di tengah hiruk-pikuk rutinitas, seringkali kita baru tersentak akan pentingnya kesehatan saat tubuh atau orang terkasih menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Kita sibuk mengejar rezeki, menuntaskan pekerjaan, atau menyelesaikan masalah rumah tangga, hingga lupa bahwa kendaraan utama kita untuk semua itu, yakni raga yang sehat, luput dari perhatian.
Kondisi ini bukan sekadar kelalaian fisik, melainkan cerminan dari sebuah kerapuhan batin. Kita meyakini takdir dan tawakkul kepada Allah, namun terkadang lupa bahwa tawakkul yang sejati adalah ketika hati berserah diri sepenuhnya setelah anggota tubuh mengerahkan segala upaya. Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, sering menekankan bahwa akal dan upaya manusia adalah bagian dari sunnatullah yang harus dijalankan. Tubuh ini adalah amanah, kendaraan yang Allah titipkan agar kita bisa beribadah, berinteraksi, dan memberi manfaat di dunia. Mengabaikannya berarti mengabaikan sebagian dari amanah tersebut.
Allah subhanahu wa ta'ala telah menganugerahkan kita karunia yang tak terhingga, termasuk indra dan akal untuk menjaga diri. Bukankah ironis jika kita lalai merawatnya, padahal ia adalah modal utama kita meraih kebaikan dunia dan akhirat? Firman Allah dalam Al-Qur'an:
وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.) (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat ini, meski sering dikaitkan dengan jihad harta, juga mengandung makna luas tentang menjaga diri dari kebinasaan, termasuk melalui kelalaian menjaga kesehatan.Merawat kesehatan melalui pemeriksaan medis rutin (medical check-up) bukanlah bentuk ketidakpercayaan kepada takdir, melainkan ikhtiar nyata dalam menjalankan amanah. Ini adalah wujud syukur atas nikmat sehat dan upaya proaktif agar kita bisa terus istiqomah dalam ketaatan. Rasulullah ﷺ sendiri mengingatkan kita tentang berharganya nikmat ini:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Baca Juga
Mengapa Anak Sulit Menepati Janji? Hikmah Amanah untuk Hati yang Tenang
(Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.) (HR. Al-Hakim, disahihkan oleh Al-Albani). Hadits ini adalah seruan untuk bertindak, bukan menunda. Kesehatan yang prima memungkinkan kita beribadah dengan khusyuk, melayani keluarga dengan optimal, dan berkontribusi lebih banyak bagi umat.Ibnu Athaillah Al-Sakandari dalam Al-Hikam mengajarkan bahwa tindakan lahiriah (asbab) tidak menafikan tawakkul, justru menjadi jembatan bagi terwujudnya kehendak Allah. Sebuah medical check-up, meskipun terasa seperti ‘urusan duniawi’, sesungguhnya adalah langkah preventif yang islami. Ia membantu kita mendeteksi potensi masalah sebelum menjadi parah, mengurangi beban finansial di masa depan, dan yang terpenting, menjaga kualitas hidup agar kita bisa terus berjuang di jalan Allah. Ini bukan tentang mencari jaminan mutlak dari manusia, melainkan mengoptimalkan sarana yang Allah sediakan untuk menjaga amanah-Nya.
Maka, mari kita renungkan kembali. Apakah kita sudah benar-benar merawat amanah tubuh ini? Sudahkah kita memberi perhatian yang sama pada kesehatan fisik sebagaimana kita memberi perhatian pada kesehatan rohani? Keduanya tak terpisahkan. Tubuh yang kuat dan sehat akan menjadi penopang istiqomah dalam sholawat dan tadarus Al-Qur'an, menjadi pelayan yang lebih baik bagi keluarga, dan menjadi tiang yang kokoh bagi komunitas. Jadikanlah merawat kesehatan sebagai bagian tak terpisahkan dari mahabbah kita kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagai wujud syukur atas nikmat yang tak terhingga.
Bergabung sebagai pejuang: Belajar istiqomah bersama di member.alfatihrps.com — sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.