Pernahkah merasa rumahmu, yang seharusnya menjadi benteng ketenangan dan tempat melepas lelah, justru terasa seperti medan perang bisikan dan pandangan curiga? Jam-jam setelah pulang kerja, bukannya damai, malah telinga menangkap potongan-potongan cerita yang tak sedap, atau tatapan tetangga yang terasa menghakimi. Hati yang tadinya ingin tenang, mendadak gersang, dipenuhi resah dan pikiran yang tak henti berputar. Kelelahan batin ini bukan hanya menguras energi, tapi juga merenggut sukacita hidup yang seharusnya kita rasakan di dalam rumah sendiri.
Keresahan semacam ini adalah luka yang seringkali tak terlihat, namun dampaknya bisa sangat dalam. Ia merusak ukhuwah, menimbulkan prasangka, dan secara perlahan mengikis mahabbah (cinta) yang seharusnya tumbuh subur di antara sesama muslim. Lingkungan yang seharusnya menjadi penopang, justru terasa seperti ancaman. Lalu, bagaimana kita membangun benteng yang sesungguhnya, bukan dari tembok fisik, melainkan dari kekuatan batin yang tak tergoyahkan?
Imam Al-Ghazali dalam *Ihya' Ulumuddin* mengingatkan kita tentang betapa berbahayanya penyakit lisan, baik bagi yang berbicara maupun yang mendengarkan. Beliau menjelaskan bahwa ghibah (menggunjing) dan fitnah (menyebar kebohongan) adalah racun yang tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga mengikis ketenangan batin seseorang, menjadikannya jauh dari *hudhur al-qalb* (kehadiran hati) dalam ibadah. Benteng sejati bukanlah tembok tinggi, melainkan hati yang bersih dan lisan yang terjaga.
Allah SWT dengan tegas melarang kita dari perilaku yang merusak ini. Dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
(Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, (karena) sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.) (QS. Al-Hujurat: 12). Ayat ini bukan sekadar larangan, melainkan panggilan untuk membangun masyarakat yang dilandasi rasa hormat dan kepercayaan.Baca Juga
Ketika Kekhawatiran Memeluk Hati: Ibu Tangguh Mencari Berkah dalam Keterbatasan
Rasulullah ﷺ sendiri sangat membenci ghibah dan fitnah. Beliau bersabda, ketika ditanya tentang ghibah:
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ.
(Tahukah kalian apa itu ghibah? Mereka menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.' Beliau bersabda, 'Kamu menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci.' Ditanyakan, 'Bagaimana jika apa yang aku katakan itu memang ada pada saudaraku?' Beliau menjawab, 'Jika apa yang kamu katakan itu memang ada padanya, berarti kamu telah mengghibahnya. Jika tidak ada, berarti kamu telah memfitnahnya.') (HR. Muslim). Hadits ini menunjukkan betapa seriusnya dampak lisan, bahkan jika apa yang diucapkan itu benar adanya.Lalu, bagaimana kita melindungi diri dan rumah dari racun ini? Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam *Al-Hikam* mengajarkan pentingnya untuk lebih fokus pada aib diri sendiri daripada aib orang lain. Beliau berkata, 'Barangsiapa yang menyibukkan diri dengan aib orang lain, maka ia akan buta dari aibnya sendiri.' Ini adalah kunci untuk membangun benteng hati yang kokoh: bukan dengan menyerang balik, melainkan dengan membenahi diri. Dengan membersihkan hati dari prasangka dan lisan dari perkataan tak berguna, kita tidak hanya melindungi diri, tetapi juga memancarkan kedamaian ke sekitar.
Membangun benteng hati dari bisikan negatif adalah sebuah perjalanan istiqomah. Setiap kali hati merasa terusik oleh kata-kata tak sedap, itu adalah pengingat untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Sholawat, sebagai ekspresi cinta kepada Nabi ﷺ, adalah penawar bagi hati yang gersang, penenang bagi jiwa yang resah. Ia mengembalikan fokus kita pada kebaikan, pada *mahabbah* yang murni, dan pada upaya meneladani akhlak mulia Rasulullah ﷺ yang senantiasa menjaga lisan dan hati.
Dalam upaya menjaga hati dari racun bisikan dan fitnah, mari kita kembali pada inti ajaran Rasulullah ﷺ: menyucikan hati dan lisan. Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.