Melihat anak pulang sekolah dengan mata sembab, tas yang berantakan, atau cerita yang terbata-bata tentang ejekan teman, adalah pukulan telak bagi setiap orang tua. Hati terasa dicabik, amarah membuncah, dan muncul rasa ingin melindungi sekaligus menyalahkan diri sendiri. Di tengah gelombang emosi yang campur aduk ini, di mana kita bisa menemukan pijakan, bukan sekadar untuk meredakan amarah, tapi untuk membimbing anak dan diri sendiri menuju kekuatan batin?
Dalil
Allah berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
Artinya: Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS. At-Talaq: 2)
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang istiqomah, meskipun sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca Juga
Terjebak Lingkaran Cicilan? Begini Cara Qana'ah Membebaskan Hati
Keresahan semacam ini bukan hanya persoalan fisik anak, melainkan juga luka batin yang dalam, baik bagi si anak maupun orang tua. Kita mungkin merasa bingung harus bertindak bagaimana: apakah harus langsung melabrak pihak sekolah, menasihati anak untuk melawan, atau justru merasa pasrah? Dalam kondisi seperti ini, konsep sabr (kesabaran) seringkali disalahpahami sebagai sikap pasif. Padahal, sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin, sabar bukanlah berdiam diri tanpa upaya, melainkan keteguhan hati dalam menghadapi musibah sambil tetap berikhtiar mencari jalan keluar yang diridai Allah. Ia adalah kemampuan menahan diri dari keluh kesah dan kemarahan yang melampaui batas, agar akal dan hati tetap jernih dalam bertindak.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, menyeru kita untuk mencari pertolongan dengan dua pilar utama:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
'Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.' (QS. Al-Baqarah: 153). Ayat ini menegaskan bahwa sabar adalah kekuatan aktif, bukan kepasrahan buta. Ia adalah energi untuk tetap berdiri, berpikir jernih, dan bertindak bijaksana di tengah badai. Shalat menjadi penopang spiritual, tempat kita menuangkan segala kegundahan dan mencari petunjuk Ilahi yang tak pernah keliru. Ini adalah fondasi pertama bagi orang tua untuk menenangkan hati dan merancang langkah yang tepat.Setelah pondasi sabar dan shalat terbangun, langkah selanjutnya adalah menumbuhkan mahabbah (cinta) dan rahmah (kasih sayang) yang tulus. Bukan hanya kepada anak, tetapi juga kepada diri sendiri agar tidak larut dalam rasa bersalah. Pendekatan Rasulullah ﷺ dalam mendidik dan berinteraksi dengan anak-anak selalu diliputi kelembutan dan kebijaksanaan. Beliau tidak pernah membiarkan kezaliman, namun juga tidak menganjurkan kekerasan balasan yang membabi buta. Sebaliknya, beliau mengajarkan untuk menanamkan kekuatan mental dan karakter mulia pada anak, agar mereka mampu menghadapi tantangan hidup. Setiap ujian, termasuk pengalaman dibully, sejatinya adalah ladang pahala jika disikapi dengan benar, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: 'Tidaklah seorang Muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dari dosa-dosanya dengan itu.' (HR. Bukhari dan Muslim). Ini adalah hikmah yang dapat kita tanamkan pada anak: bahwa setiap luka bisa menjadi penghapus dosa dan pendewasa jiwa.
Maka, tugas kita sebagai orang tua adalah menjadi mercusuar bagi anak. Dengarkan keluh kesah mereka dengan empati tanpa menghakimi. Validasi perasaan mereka, lalu perlahan bimbing mereka untuk menemukan kekuatan dari dalam, melalui kedekatan dengan Allah dan Rasul-Nya. Ajarkan mereka sholawat sebagai penenang hati, dan tadarus Al-Qur'an sebagai sumber petunjuk dan kekuatan. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan kita bahwa 'Terkadang Allah menghadirkan kesulitan agar kamu kembali kepada-Nya.' Pengalaman pahit ini bisa menjadi jembatan bagi anak untuk lebih dekat dengan Rabb-nya, membentuk pribadi yang tangguh, berakhlak mulia, dan penuh keyakinan diri, bukan karena kekuatan fisik, melainkan karena kekuatan spiritual.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.