Sore itu, di lorong supermarket yang ramai, tiba-tiba terdengar jeritan melengking. Matamu langsung tertuju pada seorang ibu muda yang tampak kebingungan, mencoba menenangkan balitanya yang berguling-guling di lantai, menolak berhenti menangis. Mungkin kamu pernah berada di posisi ibu itu, atau justru menjadi salah satu pasang mata yang diam-diam menilai. Detik-detik itu terasa begitu panjang, seolah seluruh pasang mata di tempat umum menunjukmu, menuduhmu gagal sebagai orang tua. Hati mencelos, antara malu, panik, dan letih yang mendalam.
Situasi seperti ini bukan hanya tentang menenangkan anak, melainkan sebuah pertarungan batin yang hebat bagi orang tua. Rasa malu karena merasa diperhatikan, kekhawatiran akan penilaian orang lain, hingga letihnya fisik dan mental yang menumpuk, semua berakumulasi menjadi badai emosi. Kita seringkali merasa terpojok, seolah harus sempurna di mata publik, padahal di balik layar, kita juga manusia biasa yang sedang berjuang menavigasi kompleksitas pengasuhan. Ini adalah ujian kesabaran yang tak hanya menguji kemampuan kita sebagai orang tua, tapi juga kedalaman iman kita.
Dalam kacamata hikmah, momen tantrum anak di tempat umum adalah cerminan agung dari ujian kesabaran yang Allah karuniakan. Ia bukan sekadar insiden memalukan, melainkan sebuah panggilan untuk muhasabah, menilik kembali kekuatan batin. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin banyak membahas tentang pentingnya mengendalikan ghadhab (kemarahan) dan bagaimana kesabaran adalah pondasi akhlak mulia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). Ayat ini menegaskan bahwa dalam setiap kesulitan, pertolongan sejati datang dari kesabaran dan ibadah, bukan dari upaya mengendalikan situasi semata.
Baca Juga
Terjebak Lingkaran Cicilan? Begini Cara Qana'ah Membebaskan Hati
Ketika hati terasa memanas dan pikiran kalut oleh hiruk-pikuk tantrum, di situlah mahabbah (cinta) kepada Rasulullah ﷺ menjadi penawar. Bersholawat bukan hanya sekadar lisan, namun sebuah upaya menautkan hati pada pribadi paling sabar dan penuh kasih. Setiap sholawat yang terucap, bahkan dalam batin, akan menenangkan gelombang emosi, mengembalikan fokus pada tujuan pengasuhan yang lebih luhur. Nabi Muhammad ﷺ sendiri bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah orang yang jago gulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan mengendalikan diri, terutama saat amarah memuncak, dan sholawat adalah salah satu jembatan untuk mencapai kekuatan batin itu.
Maka, mari kita pandang setiap tantrum anak bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai ladang amal untuk melatih kesabaran, keikhlasan, dan mahabbah kita. Ini adalah kesempatan untuk meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dalam menghadapi setiap ujian hidup. Ingatlah, kita tidak sendiri. Banyak orang tua lain yang juga berjuang, dan dalam kebersamaanlah kita menemukan kekuatan untuk istiqomah.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.