Pernah nggak, setelah lelah seharian bekerja, kamu membuka media sosial dan tiba-tiba merasa semua pencapaianmu tak ada artinya? Melihat teman yang baru liburan ke luar negeri, atau rekan kerja yang baru saja membeli rumah impian, lalu tiba-tiba ada rasa hampa yang menusuk. Seolah apa yang kamu miliki, seberapa pun kerasnya perjuanganmu, selalu terasa kurang. Lingkaran perbandingan ini bukan sekadar tren digital, tapi bibit kegelisahan batin yang pelan-pelan mengikis syukur, mengubah nikmat menjadi beban, dan mencuri ketenangan yang seharusnya kita miliki.
Keresahan ini adalah tanda bahwa hati kita sedang diuji. Ketika pandangan terus tertuju pada apa yang orang lain miliki, kita lupa bahwa setiap jiwa telah Allah takdirkan dengan porsi rezeki dan ujiannya masing-masing. Perbandingan yang berlebihan bukan hanya melahirkan rasa iri, tapi juga menghalangi kita melihat hikmah di balik setiap takdir. Ia merampas kebahagiaan saat ini dan membiarkan hati terjebak dalam pusaran “seandainya aku punya seperti dia.” Padahal, kebahagiaan sejati bukan diukur dari banyaknya yang kita miliki, melainkan dari seberapa lapang hati kita menerima dan bersyukur atas apa yang ada.
Dalam khazanah tasawuf, ada sebuah konsep agung yang menjadi penawar racun perbandingan ini: qana'ah. Qana'ah bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan sebuah kondisi hati yang ridha dan merasa cukup atas karunia Allah, sekalipun itu sedikit. Ini adalah puncak keyakinan bahwa Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana dalam membagi rezeki hamba-Nya. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa qana'ah bukanlah kemalasan, melainkan ketenangan hati yang lahir dari keyakinan penuh akan keadilan dan hikmah Allah dalam pembagian rezeki. Ia membebaskan kita dari belenggu ambisi dunia yang tak berujung dan mengembalikan fokus pada esensi kehidupan. Allah SWT berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini menegaskan bahwa kunci penambahan nikmat adalah syukur, dan qana'ah adalah manifestasi tertinggi dari syukur. Rasulullah ﷺ, teladan kita, senantiasa mengajarkan agar kita melihat ke bawah dalam urusan duniawi dan melihat ke atas dalam urusan agama. Ini adalah resep mujarab untuk menumbuhkan qana'ah dan memadamkan api perbandingan. Beliau bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu, dan jangan melihat kepada orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadamu.” (HR. Muslim no. 2963)
Hadits ini bukan berarti kita dilarang memiliki aspirasi, melainkan sebuah panduan untuk menjaga hati agar tidak terjerumus dalam jurang ketidakpuasan. Qana'ah adalah fondasi ketenangan batin, yang memungkinkan kita untuk fokus pada perjalanan spiritual dan kontribusi positif. Ketika hati telah lapang dengan qana'ah, energi kita tidak lagi terkuras untuk mengejar fatamorgana dunia, melainkan tercurah untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan menyebarkan kebaikan kepada sesama. Inilah esensi mahabbah (cinta) kepada Rasulullah ﷺ: meneladani adab dan akhlak beliau yang senantiasa bersyukur dan ridha.
Maka, saat kegelisahan kembali menyapa karena perbandingan yang tak berkesudahan, ingatlah bahwa ketenangan sejati berasal dari dalam, dari hati yang telah berdamai dengan takdir dan dipenuhi syukur. Istiqomah dalam sholawat dan tadarus Al-Qur'an adalah dua langkah kecil namun konsisten yang akan membantu kita menata hati. Dengan sholawat, kita menyambungkan hati kepada Rasulullah ﷺ, meneladani kesederhanaan dan qana'ah beliau. Dengan tadarus Al-Qur'an, kita menemukan cahaya dan petunjuk yang meluruskan pandangan kita tentang dunia dan akhirat. Keduanya adalah pembinaan hati yang tanpa tekanan, tanpa janji berlebihan, dan tanpa ajang pamer jumlah — murni untuk menggapai keridhaan Allah dan menumbuhkan cinta kepada Rasulullah ﷺ.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.