Pernahkah kamu merasa, setelah menunaikan sholat fardhu, hati masih terasa hampa? Seolah kewajiban itu hanya gugur di atas sajadah, namun tak meninggalkan bekas ketenangan yang mendalam. Beban kerja yang menumpuk, tuntutan hidup yang tak ada habisnya, seringkali membuat kita terburu-buru dalam ibadah, sekadar menunaikan rukun, lalu kembali terjun ke lautan kesibukan. Ada rindu akan kedekatan, namun bingung bagaimana mengisinya di tengah rutinitas yang padat.
Keresahan batin ini bukanlah hal aneh. Banyak dari kita yang merasa โcukupโ dengan sholat fardhu, padahal hakikat ibadah adalah sebuah perjalanan menuju kedekatan dengan Sang Pencipta. Jika sholat wajib adalah fondasi, maka sholat sunnah rawatib adalah pilar-pilar kokoh yang menguatkan, bahkan memperindah bangunan spiritual kita. Ia bukan sekadar tambahan, melainkan jembatan yang menghubungkan hati yang gersang dengan mata air ketenangan.
Dalam ajaran Islam, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
ููุง ุฃููููููุง ุงูููุฐูููู ุขู
ููููุง ุงุชูููููุง ุงูููููู ููุงุจูุชูุบููุง ุฅููููููู ุงููููุณููููุฉู ููุฌูุงููุฏููุง ููู ุณูุจูููููู ููุนููููููู
ู ุชูููููุญูููู
'Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.' (QS. Al-Ma'idah: 35). Ayat ini jelas mengisyaratkan pentingnya mencari 'wasilah' atau jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Sholat sunnah rawatib, yang mengiringi sholat fardhu, adalah salah satu wasilah paling mulia yang diajarkan Rasulullah ๏ทบ.
Sholat rawatib adalah manifestasi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan beban. Ia adalah kesempatan emas untuk menambal kekurangan dalam sholat wajib kita, sebagaimana sabda Nabi ๏ทบ:
ู
ููู ุตููููู ููู ููููู
ู ููููููููุฉู ุซูููุชููู ุนูุดูุฑูุฉู ุฑูููุนูุฉู ุจูููู ุงูููููู ูููู ุจูููุชูุง ููู ุงููุฌููููุฉู
'Barangsiapa sholat dua belas rakaat (sunnah rawatib) dalam sehari semalam, niscaya Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.' (HR. Muslim). Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa rawatib ini termasuk dua rakaat sebelum Subuh, empat sebelum Zuhur dan dua sesudahnya, dua setelah Magrib, dan dua setelah Isya. Ini adalah sebuah investasi spiritual yang tak ternilai, bukan hanya untuk akhirat, tapi juga untuk kedamaian hati di dunia.
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan kita bahwa โAmal yang sedikit namun konsisten, lebih baik daripada amal banyak namun terputus-putus.โ Sholat rawatib adalah contoh nyata dari prinsip ini. Ia tak menuntut waktu berjam-jam, namun konsistensinya mampu menumbuhkan mahabbah (kecintaan) yang mendalam. Ia melatih jiwa untuk selalu terhubung, bahkan di sela-sela kesibukan. Dari sanalah ketenangan batin mulai meresap, mengubah rutinitas menjadi ritual yang penuh makna.
Maka, jangan biarkan sholat menjadi sekadar formalitas. Jadikanlah setiap rakaat sunnah rawatib sebagai ekspresi kerinduan, sebagai upaya tulus untuk mendekatkan diri kepada Sang Kekasih. Mulailah dengan langkah kecil, dua rakaat sebelum Subuh misalnya, lalu perlahan tingkatkan. Setiap sujud adalah bisikan cinta, setiap tasbih adalah pengakuan kerendahan hati. Inilah jalan para perindu Rasulullah ๏ทบ, jalan yang membawa hati pada ketenangan hakiki.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an โ klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.