Jam 11 malam, notifikasi tagihan masuk lagi, dan kamu masih scroll HP mencari hiburan yang tak pernah cukup. Di sudut hati, ada bisikan: 'Bukankah aku sudah beriman? Mengapa resah ini tak kunjung usai, seolah tak ada bedanya dengan mereka yang tak mengenal Tuhan?' Perasaan itu menusuk, menciptakan kekosongan yang ironis, sebab kita tahu iman adalah anugerah terbesar, namun seringkali ia terasa jauh saat beban hidup menumpuk.
Keresahan semacam ini bukan hal asing. Kita seringkali terjebak dalam pusaran tuntutan duniawi—pekerjaan yang tak ada habisnya, beban finansial yang mengimpit, atau konflik rumah tangga yang menguras energi. Di tengah semua itu, nikmat iman dan Islam, yang seharusnya menjadi jangkar ketenangan, seolah terpinggirkan. Kita tahu harus bersyukur, namun rasa syukur itu hanya menjadi ucapan lisan, bukan getaran jiwa yang mengubah cara kita memandang setiap ujian dan karunia.
Padahal, Allah telah menjanjikan keberlimpahan bagi mereka yang bersyukur. Sebuah janji yang termaktub dalam firman-Nya:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
(Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat). (QS. Ibrahim: 7). Ayat ini bukan hanya tentang penambahan rezeki materi, melainkan juga penambahan ketenangan hati, kejernihan pikiran, dan kedalaman iman itu sendiri. Syukur adalah kunci untuk membuka pintu-pintu keberkahan yang lebih luas, termasuk keberkahan dalam nikmat iman.Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, mengajarkan bahwa syukur sejati bukanlah sekadar mengucapkan 'alhamdulillah', melainkan menggunakan setiap nikmat sesuai dengan tujuan penciptaannya. Jika nikmat itu adalah iman dan Islam, maka bersyukur artinya mengaplikasikan iman dalam setiap aspek kehidupan, menjadikan Islam sebagai peta jalan. Ini berarti membiarkan iman menuntun kita dalam menghadapi tagihan, masalah kerja, atau konflik keluarga, bukan membiarkan kekhawatiran duniawi mengikis keyakinan kita. Syukur adalah tindakan hati dan anggota tubuh, bukan hanya lisan.
Ketika hati seorang mukmin telah diliputi rasa syukur atas nikmat iman, ia akan melihat setiap kejadian dengan kacamata yang berbeda. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
(Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya baik. Dan itu tidak terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur dan itu baik baginya. Jika dia ditimpa kesusahan, dia bersabar dan itu baik baginya). (HR. Muslim). Hadits ini menunjukkan bagaimana iman membentuk karakter syukur dan sabar, dua pilar yang menjadikan hidup seorang mukmin senantiasa baik, apa pun keadaannya. Ia bukan lagi mencari kebahagiaan dari ketiadaan masalah, melainkan menemukan kedamaian dalam setiap takdir.Maka, menumbuhkan rasa syukur atas nikmat iman dan Islam adalah sebuah perjalanan pembinaan hati yang tak pernah usai. Ia dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten: merenungi makna setiap sholawat yang terucap, menghayati setiap ayat Al-Qur'an yang terbaca, dan melihat setiap ujian sebagai kesempatan untuk kembali mendekat kepada-Nya. Ini adalah upaya untuk menyelaraskan hati, lisan, dan tindakan, agar iman tak lagi menjadi sekadar identitas, melainkan menjadi sumber kekuatan dan ketenangan sejati.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.