Renungan Mahabbah Rujukan Redaksi

Mengapa Semakin Banyak Harta, Hati Justru Semakin Gelisah?

Pernahkah kamu merasa, di tengah capaian hidup yang dianggap 'sukses'—karir melejit, rumah impian, gawai terbaru—namun ada kekosongan yang menganga di dalam...

Mengapa Semakin Banyak Harta, Hati Justru Semakin Gelisah?
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Pernahkah kamu merasa, di tengah capaian hidup yang dianggap 'sukses'—karir melejit, rumah impian, gawai terbaru—namun ada kekosongan yang menganga di dalam dada? Jam 11 malam, notifikasi tagihan masuk lagi, dan kamu masih scroll HP mencari hiburan yang tak pernah cukup. Atau mungkin, lelah dengan tuntutan 'harus punya ini itu' yang tak berujung, padahal gaji bulanan cuma numpang lewat? Beban mental dari kejar-kejaran duniawi ini seringkali lebih berat daripada beban fisik, meninggalkan kita dengan kelelahan batin yang sulit terdefinisikan.

Kegelisahan ini bukanlah fenomena baru. Jauh sebelum era digital dan konsumerisme masif, para ulama tasawuf telah melihat akar masalahnya: keterikatan hati pada dunia. Mereka menawarkan sebuah jalan, sebuah filosofi hidup yang dikenal sebagai zuhud. Namun, zuhud bukanlah lari dari dunia, apalagi hidup miskin atau menolak rezeki. Zuhud, dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, adalah sebuah keadaan hati yang merdeka dari belenggu materi, meski tangan tetap berinteraksi dengannya.

Zuhud: Bukan Menolak Dunia, Melainkan Membebaskan Hati

Imam Al-Ghazali, dalam magnum opusnya Ihya' Ulumuddin, dengan indah menjelaskan bahwa zuhud bukanlah dengan mengharamkan yang halal, bukan pula dengan membuang harta benda. Zuhud sejati adalah melepaskan hati dari ketergantungan pada dunia. Artinya, kita boleh memiliki, boleh menikmati, namun hati kita tidak terikat, tidak tergadaikan pada apa yang kita miliki. Ketika hati kita bebas, kita tidak akan merana saat kehilangan, dan tidak akan sombong saat mendapatkan.

Konsep ini sangat relevan dengan firman Allah dalam Al-Qur'an yang menggambarkan hakikat dunia ini:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

(Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan... Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.) (QS. Al-Hadid: 20). Ayat ini mengingatkan kita bahwa segala hiruk pikuk duniawi, pada akhirnya, adalah fatamorgana yang menipu.

Baca Juga
Doa Penenang Hati dan Pikiran yang Gelisah Arab: Mengapa Nabi Pun Memintanya?

Doa Penenang Hati dan Pikiran yang Gelisah Arab: Mengapa Nabi Pun Memintanya?

Teladan Nabi SAW dan Implementasi Zuhud Modern

Rasulullah SAW adalah teladan zuhud yang paling sempurna. Beliau hidup sederhana, namun bukan berarti menolak rezeki atau tidak memiliki apa-apa. Hati Beliau sama sekali tidak terikat pada dunia. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ: "كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ".

(Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah orang asing atau pengembara.) (HR. Bukhari). Ini bukan ajakan untuk mengasingkan diri, melainkan untuk menjaga hati agar tidak terlalu lekat, mengingat bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara.

Dalam konteks modern, zuhud bisa berarti kesadaran untuk tidak terjebak dalam lingkaran konsumsi yang tak berujung, membebaskan diri dari tekanan sosial untuk 'harus punya' ini dan itu. Ini adalah tentang menemukan kecukupan dalam apa yang ada, mengelola keuangan dengan bijak tanpa diliputi kekhawatiran berlebihan, dan mengalihkan fokus dari akumulasi materi ke akumulasi makna dan kebaikan. Zuhud adalah kekuatan batin yang membuat kita bisa tersenyum tenang di tengah badai tuntutan dunia.

Ketika hati kita bersih dari keterikatan dunia, ia menjadi lebih lapang untuk diisi dengan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ia menjadi tempat yang subur bagi istiqomah dalam beribadah, termasuk sholawat dan tadarus Al-Qur'an, yang merupakan inti dari pembinaan hati di AlFatihRPS. Dengan zuhud, kita tidak lagi mengejar sholawat demi iming-iming materi, melainkan murni sebagai wujud mahabbah, kecintaan tulus kepada sang kekasih Allah SAW.

Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.

Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Kenapa Sulit Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya?
Renungan Mahabbah

Kenapa Sulit Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya?

27 Sep 2026
Kenapa Nabi yang Sudah Diampuni Justru Beristighfar Seratus Kali Sehari?
Renungan Mahabbah

Kenapa Nabi yang Sudah Diampuni Justru Beristighfar Seratus Kali Sehari?

27 Sep 2026
Ayat Tematik dan Artinya: Kenapa Allah SWT Bersumpah Demi Waktu Dhuha?
Renungan Mahabbah

Ayat Tematik dan Artinya: Kenapa Allah SWT Bersumpah Demi Waktu Dhuha?

26 Sep 2026
Kenapa Allah SWT Memilih Pagi dan Petang untuk Menenangkan Hati yang Dicemooh?
Renungan Mahabbah

Kenapa Allah SWT Memilih Pagi dan Petang untuk Menenangkan Hati yang Dicemooh?

26 Sep 2026
Doa Penenang Hati dan Pikiran yang Gelisah Arab: Mengapa Nabi Pun Memintanya?
Renungan Mahabbah

Doa Penenang Hati dan Pikiran yang Gelisah Arab: Mengapa Nabi Pun Memintanya?

25 Sep 2026
Tetangga yang Tak Pernah Mengganggu: Mengapa Itu Belum Cukup Menurut Al-Ghazali?
Renungan Mahabbah

Tetangga yang Tak Pernah Mengganggu: Mengapa Itu Belum Cukup Menurut Al-Ghazali?

25 Sep 2026
Satu Pujian untuk Dua Nasib: Rahasia Sabar dan Syukur yang Jarang Disadari
Renungan Mahabbah

Satu Pujian untuk Dua Nasib: Rahasia Sabar dan Syukur yang Jarang Disadari

24 Sep 2026
Mengapa Nikmat Terus Bertambah, tetapi Hati Tetap Merasa Kurang?
Renungan Mahabbah

Mengapa Nikmat Terus Bertambah, tetapi Hati Tetap Merasa Kurang?

24 Sep 2026
Kenapa Amal yang Tak Dilihat Siapa pun Justru Paling Berat Dijaga?
Renungan Mahabbah

Kenapa Amal yang Tak Dilihat Siapa pun Justru Paling Berat Dijaga?

23 Sep 2026
Kenapa Ghibah Terasa Ringan di Lidah, padahal Al-Qur'an Menyamakannya dengan Makan Bangkai?
Renungan Mahabbah

Kenapa Ghibah Terasa Ringan di Lidah, padahal Al-Qur'an Menyamakannya dengan Makan Bangkai?

23 Sep 2026
Jempol yang Menjadi Lisan: Adab Bermedia Sosial dalam Timbangan Al-Ghazali
Renungan Mahabbah

Jempol yang Menjadi Lisan: Adab Bermedia Sosial dalam Timbangan Al-Ghazali

22 Sep 2026
Ayat Tematik Adalah Penawar Saat Satu Ayat Justru Membuat Hati Gemetar
Renungan Mahabbah

Ayat Tematik Adalah Penawar Saat Satu Ayat Justru Membuat Hati Gemetar

22 Sep 2026
Kenapa Hati Tetap Keruh Padahal Wudhu Lima Kali Sehari?
Renungan Mahabbah

Kenapa Hati Tetap Keruh Padahal Wudhu Lima Kali Sehari?

21 Sep 2026
Riya: Racun Halus yang Membuat Amal Terlihat Gagah tapi Kosong
Renungan Mahabbah

Riya: Racun Halus yang Membuat Amal Terlihat Gagah tapi Kosong

21 Sep 2026
Kenapa Hati Terasa Kosong Setelah Ngobrol Berjam-jam?
Renungan Mahabbah

Kenapa Hati Terasa Kosong Setelah Ngobrol Berjam-jam?

20 Sep 2026
Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya: Mulai Dari Mana?
Renungan Mahabbah

Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya: Mulai Dari Mana?

20 Sep 2026
Sepuluh Tahun Melayani Nabi, Kenapa Anas Tak Pernah Sekali Pun Dibentak?
Renungan Mahabbah

Sepuluh Tahun Melayani Nabi, Kenapa Anas Tak Pernah Sekali Pun Dibentak?

19 Sep 2026
Kenapa Ayat Tematik dan Artinya Tak Kunjung Menenangkan Hatimu?
Renungan Mahabbah

Kenapa Ayat Tematik dan Artinya Tak Kunjung Menenangkan Hatimu?

19 Sep 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

Memuat aktivitas ibadah… ›
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allahumma shalli 'alaa sayyidina Muhammad
Setor Sholawat

Setiap bilangan yang Anda tulis menjadi saksi cinta kepada Baginda Nabi SAW. Isikan jumlahnya, lalu kirim — Anda diminta masuk sebentar agar amalan tercatat.