Kamu mungkin sedang sibuk mengejar target bulanan di kantor, menumpuk lembaran laporan yang tak kunjung usai, atau terjebak dalam kemacetan tak berujung yang menguras energi. Di tengah hiruk-pikuk rutinitas yang seolah tak memberi jeda, pernahkah sejenak terlintas di benakmu, sebuah bisikan halus yang memanggil dari kejauhan? Sebuah kerinduan yang tak terlukiskan, bukan untuk liburan mewah, melainkan untuk sebuah tempat suci yang tak pernah lekang dari ingatan: Baitullah.
Kerinduan ini seringkali muncul tanpa diundang, sebuah getaran batin yang melampaui logika materi. Ini bukan sekadar keinginan untuk berwisata religi, melainkan panggilan jiwa yang mendalam, sebuah ekspresi dari fitrah manusia yang selalu mencari Tuhannya. Para sufi menyebutnya sebagai 'jazb ilahi', tarikan ilahi, yang menggerakkan hati menuju sumber ketenangan dan kebenaran hakiki. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa hati manusia memiliki kecenderungan alami untuk mencintai kebaikan dan kesempurnaan, dan puncak dari segala kesempurnaan itu adalah Allah SWT. Maka, kerinduan akan Baitullah, rumah-Nya di bumi, adalah manifestasi dari cinta yang suci itu.
Panggilan ini telah bergema sejak ribuan tahun lalu. Allah SWT sendiri yang menyeru manusia untuk datang ke rumah-Nya. Dalam Al-Qur'an, firman-Nya:
ููุฃูุฐูููู ููู ุงููููุงุณู ุจูุงููุญูุฌูู ููุฃูุชูููู ุฑูุฌูุงููุง ููุนูููููฐ ููููู ุถูุงู
ูุฑู ููุฃูุชูููู ู
ููู ููููู ููุฌูู ุนูู
ูููู
โDan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.โ (QS. Al-Hajj: 27). Ayat ini bukan hanya perintah, melainkan sebuah janji bahwa hati akan tergerak, meski rintangan membentang. Ini adalah bukti bahwa kerinduan itu adalah bagian dari rancangan ilahi untuk mendekatkan hamba-Nya.
Lalu, bagaimana kita menumbuhkan dan memelihara kerinduan ini di tengah kesibukan duniawi? Jawabannya terletak pada pembinaan hati, sebuah 'riyadhah' spiritual yang tidak harus menunggu kita berada di tanah suci. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengajarkan bahwa tanda hati yang hidup adalah kepekaannya terhadap isyarat-isyarat ilahi, termasuk panggilan rindu akan Baitullah. Caranya adalah dengan memperbanyak 'dzikrullah', mengingat Allah, dan 'mahabbah' kepada Rasulullah ๏ทบ. Sholawat adalah jembatan mahabbah ini, yang secara perlahan membersihkan hati dari karat dunia dan mengarahkannya pada tujuan sejati.
Setiap sholawat yang terucap, setiap ayat Al-Qur'an yang terbaca, adalah tetesan embun yang menyirami benih kerinduan itu. Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ุงููุนูู
ูุฑูุฉู ุฅูููู ุงููุนูู
ูุฑูุฉู ูููููุงุฑูุฉู ููู
ูุง ุจูููููููู
ูุง ููุงููุญูุฌูู ุงููู
ูุจูุฑููุฑู ููููุณู ูููู ุฌูุฒูุงุกู ุฅููููุง ุงููุฌููููุฉู
โUmrah ke umrah adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.โ (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini bukan sekadar janji pahala, melainkan penegasan bahwa perjalanan ke Baitullah adalah puncak dari penyucian jiwa, sebuah tujuan yang layak diperjuangkan dengan kerinduan yang tulus.
Maka, jangan biarkan kerinduan itu hanya menjadi angan. Jadikan ia motivasi untuk terus membersihkan hati, mendekatkan diri kepada Allah, dan meneladani Rasulullah ๏ทบ. Sebab, perjalanan menuju Baitullah sesungguhnya dimulai dari Baitullah yang ada dalam hati kita sendiri: sebuah titik suci yang harus terus disucikan dan dipenuhi dengan cahaya ilahi. Dengan hati yang bersih, setiap langkah, setiap nafas, akan terasa seperti perjalanan menuju-Nya, hingga suatu saat, panggilan fisik itu benar-benar terwujud.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an โ klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.