Jam sembilan malam, tubuhmu ambruk di sofa setelah seharian berjibaku dengan laporan, rapat, atau tuntutan pekerjaan yang tak ada habisnya. Tanganmu refleks meraih ponsel, mencari hiburan instan. Di sudut meja, kitab yang sudah lama ingin kamu baca, atau aplikasi Al-Qur'an yang ingin kamu tadarusi, seolah memanggil namun terasa berat sekali untuk dijamah. Pernahkah kamu merasa ganjalan itu? Sebuah keinginan kuat untuk mendekat pada ilmu agama, tapi tenaga dan pikiran seolah sudah terkuras habis oleh dunia.
Keresahan ini bukan milikmu sendiri. Banyak dari kita, para pejuang di usia dewasa, menghadapi dilema serupa. Bukan karena tak cinta pada agama, justru karena mahabbah itulah yang memicu kegelisahan. Kita tahu ilmu adalah cahaya, namun rutinitas seringkali terasa seperti selubung tebal yang meredupkan cahaya itu. Ini bukan tentang kekurangan waktu semata, melainkan tentang bagaimana kita menyalakan kembali semangat yang terhimpit beban hidup, agar tak sampai hati menjadi gersang dalam kesibukan.
Sesungguhnya, menuntut ilmu di usia dewasa bukanlah perlombaan untuk menjadi ulama besar dalam semalam, melainkan sebuah perjalanan membina hati, mengikatkan diri lebih erat pada ajaran Rasulullah ﷺ. Imam Al-Ghazali, dalam Minhajul 'Abidin, mengingatkan bahwa ilmu yang sejati adalah yang membimbing kita pada takwa dan mengenal Allah lebih dekat, bukan sekadar menumpuk informasi. Ia adalah pelita yang menerangi jalan, terutama saat hati terasa gelap oleh kepenatan dunia. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
وَقُل رَّبِّ زِدۡنِي عِلۡمٗا
Terjemah: “Dan katakanlah (Muhammad), ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Thaha: 114). Ayat ini adalah doa yang diajarkan langsung oleh Allah, menunjukkan betapa sentralnya permintaan akan ilmu, bahkan bagi seorang Nabi. Ilmu adalah bekal spiritual yang tak lekang oleh usia, justru semakin relevan seiring bertambahnya kompleksitas hidup.
Lantas, bagaimana memulai saat tenaga sudah tak seprima dulu? Kuncinya terletak pada istiqomah, konsistensi dalam langkah-langkah kecil. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Terjemah: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin (konsisten) meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini memberi kita peta jalan. Bukan seberapa banyak kitab yang kita khatamkan dalam sehari, atau berapa jam kita duduk di majelis ilmu, melainkan seberapa konsisten kita menyisihkan waktu, walau hanya 15-30 menit, untuk membaca, merenung, atau mendengarkan kajian. Sedikit demi sedikit, cahaya ilmu itu akan kembali menyala, menghangatkan hati yang lelah.
Mungkin awalnya terasa dipaksakan, namun perlahan ia akan menjadi kebutuhan, sebuah 'oase' di tengah padang pasir rutinitas. Ini adalah metode pembinaan hati (mahabbah) yang AlFatihRPS gaungkan: langkah kecil yang konsisten, tanpa tekanan, tanpa janji berlebihan, dan tanpa ajang pamer jumlah. Karena sesungguhnya, tujuan kita bukan untuk pamer 'sudah belajar apa', melainkan untuk merasakan kedekatan dengan Rasulullah ﷺ dan Allah SWT melalui ilmu yang kita serap.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.