Pernahkah kamu merasa, di tengah rutinitas ibadah harian yang padat, hati masih saja diselimuti kegelisahan? Sudah sering bibir melafalkan sholawat, sudah tak terhitung kali kamu bayangkan wajah mulia Rasulullah ﷺ, namun batin tetap terasa kosong, seolah ada sekat tak kasat mata yang menghalangi kerinduan itu untuk sampai pada kedalaman mahabbah sejati.
Keresahan ini bukan isapan jempol belaka. Banyak dari kita yang hidup di tengah hiruk pikuk tuntutan pekerjaan, beban keluarga, atau sekadar kelelahan batin, berusaha mencari ketenangan dalam spiritualitas. Kita merangkai rindu kepada Nabi ﷺ, berharap ia menjadi penawar. Namun, ketika kerinduan itu hanya berhenti pada tataran emosi sesaat tanpa transformasi batin yang nyata, ia memang bisa terasa hampa. Hati seolah belum menemukan jembatan yang kokoh untuk benar-benar menyatu dengan cinta yang hakiki.
Dalam khazanah tasawuf, khususnya menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin, mahabbah (cinta) kepada Allah dan Rasul-Nya bukanlah sekadar perasaan sentimental. Ia adalah sebuah maqam (tingkatan spiritual) yang menuntut pembuktian melalui ketaatan dan peneladanan (ittiba'). Mahabbah sejati tumbuh dari pengenalan yang mendalam, lalu berbuah pada keinginan untuk selalu bersama dan menaati. Allah SWT berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali 'Imran: 31)
Ayat ini menegaskan bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya bukanlah klaim kosong, melainkan terwujud dalam mengikuti jejak Rasulullah ﷺ. Ini adalah inti dari mahabbah yang tak akan terasa hampa. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin juga menguraikan bahwa cinta yang tulus akan mendorong seseorang untuk meneladani sifat dan perbuatan yang dicintai, bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun. Tanpa ittiba', rindu hanyalah angan yang tak berjejak.
Baca Juga
Tarbiyah Ruhaniyah: Investasi Sejati yang Lebih Mahal dari Biaya Sekolah
Lantas, bagaimana merangkai rindu yang berjejak dan tak hampa ini dalam keseharian kita yang penuh tantangan? Bukan dengan janji-janji muluk, melainkan dengan langkah kecil yang konsisten. Seperti sabda Rasulullah ﷺ:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Dari Anas RA, seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hari Kiamat, ia berkata, ‘Kapan hari Kiamat?’ Beliau menjawab, ‘Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?’ Ia menjawab, ‘Tidak ada, kecuali aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.’ Maka beliau bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini adalah janji agung, namun juga isyarat bahwa cinta sejati itu perlu diusahakan. Kita akan bersama siapa yang kita cintai, bukan hanya yang kita klaim cintai. Maka, mewujudkan mahabbah sejati berarti membiasakan diri dengan amalan yang mendekatkan kita kepada beliau ﷺ: sholawat sebagai ekspresi cinta, dan tadarus Al-Qur'an sebagai upaya memahami risalah yang beliau bawa. Ini adalah dua pilar pembinaan hati yang akan mengisi kekosongan, mengubah rindu menjadi energi, dan kegelisahan menjadi ketenangan.
Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.