Pernahkah kamu merasa, di tengah hiruk pikuk kesibukan yang tak ada habisnya, meski gaji bulanan sudah cukup untuk menutupi kebutuhan, bahkan sedikit lebih, namun hati tetap saja terasa hampa? Ada semacam lubang tak terlihat yang terus menuntut diisi, membuat kita terus mengejar 'lebih' sampai lupa menikmati apa yang sudah ada. Rasa gelisah ini bukan hanya milik mereka yang kekurangan, tapi seringkali justru menghinggapi jiwa-jiwa yang secara materi terlihat 'cukup', bahkan 'berlebih'. Seolah kebahagiaan itu selalu ada di horizon berikutnya, tak pernah di sini, tak pernah sekarang.
Keresahan batin ini, dalam kacamata hikmah, seringkali berakar pada ketiadaan atau lemahnya rasa syukur terhadap nikmat-nikmat kecil yang setiap hari kita hirup. Kita terlalu sibuk membandingkan diri dengan 'pencapaian' orang lain yang terpampang di media sosial, atau terlarut dalam daftar keinginan yang tak berujung. Padahal, Allah ﷻ telah menjanjikan keberkahan yang tak terhingga bagi hamba-Nya yang bersyukur, bukan hanya dalam bentuk materi, melainkan juga ketenangan jiwa yang tak ternilai.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Artinya, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7). Ayat ini bukan hanya janji penambahan rezeki materi, melainkan juga penambahan ketenangan, keberkahan waktu, dan kebahagiaan hati yang sejati. Imam Al-Ghazali dalam *Ihya' Ulumuddin* menjelaskan bahwa syukur bukan sekadar ucapan lisan, melainkan sebuah keadaan hati yang mengakui nikmat, lalu diwujudkan melalui perbuatan baik dan penggunaan nikmat sesuai kehendak Sang Pemberi.Lebih jauh, dalam khazanah tasawuf, ulama besar seperti Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam *Al-Hikam* seringkali mengisyaratkan pentingnya *ridha* (kerelaan hati menerima ketetapan Allah) dan *qana'ah* (merasa cukup dengan apa yang ada) sebagai fondasi syukur yang mendalam. Ketika hati kita lapang menerima apa yang Allah berikan, sekecil apapun itu, maka ia akan menemukan kedamaian. Rasulullah ﷺ pun telah mengajarkan kita untuk melihat ke bawah agar lebih bersyukur. Beliau bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Artinya, “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kalian.” (HR. Muslim). Ini adalah resep sederhana namun ampuh untuk mengikis rasa kurang dan menumbuhkan rasa cukup.Maka, mari kita mulai dari langkah-langkah kecil. Sebelum tidur, sebutkan tiga hal sederhana yang membuatmu bersyukur hari ini: secangkir teh hangat, sapaan ramah dari tetangga, atau bahkan hanya nafas yang masih berhembus tanpa sakit. Biasakan diri untuk menyadari bahwa setiap detak jantung, setiap teguk air, setiap pandangan mata yang sehat adalah anugerah tak ternilai. Dengan begitu, hati akan terlatih untuk melihat keindahan dalam kesederhanaan, menemukan kekayaan dalam kecukupan, dan akhirnya, merasakan *mahabbah* (cinta) yang tulus kepada Sang Pencipta dan Rasul-Nya ﷺ.
Inilah esensi dari pembinaan hati yang kami usung di AlFatihRPS: bukan tentang janji-janji muluk, melainkan tentang konsistensi dalam langkah kecil yang membersihkan jiwa. Ketika hati kita dipenuhi syukur, ia akan lebih mudah terhubung dengan cahaya Rasulullah ﷺ, dan sholawat yang kita lantunkan akan terasa lebih dalam, lebih bermakna.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.