Artikel Rujukan Redaksi

Mengapa Hati Tetap Gelisah Meski Rezeki Cukup? Belajar Syukur dari Al-Hikam

Pernahkah kamu merasa, di tengah hiruk pikuk kesibukan yang tak ada habisnya, meski gaji bulanan sudah cukup untuk menutupi kebutuhan, bahkan sedikit lebih, nam...

Mengapa Hati Tetap Gelisah Meski Rezeki Cukup? Belajar Syukur dari Al-Hikam
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Pernahkah kamu merasa, di tengah hiruk pikuk kesibukan yang tak ada habisnya, meski gaji bulanan sudah cukup untuk menutupi kebutuhan, bahkan sedikit lebih, namun hati tetap saja terasa hampa? Ada semacam lubang tak terlihat yang terus menuntut diisi, membuat kita terus mengejar 'lebih' sampai lupa menikmati apa yang sudah ada. Rasa gelisah ini bukan hanya milik mereka yang kekurangan, tapi seringkali justru menghinggapi jiwa-jiwa yang secara materi terlihat 'cukup', bahkan 'berlebih'. Seolah kebahagiaan itu selalu ada di horizon berikutnya, tak pernah di sini, tak pernah sekarang.

Keresahan batin ini, dalam kacamata hikmah, seringkali berakar pada ketiadaan atau lemahnya rasa syukur terhadap nikmat-nikmat kecil yang setiap hari kita hirup. Kita terlalu sibuk membandingkan diri dengan 'pencapaian' orang lain yang terpampang di media sosial, atau terlarut dalam daftar keinginan yang tak berujung. Padahal, Allah ﷻ telah menjanjikan keberkahan yang tak terhingga bagi hamba-Nya yang bersyukur, bukan hanya dalam bentuk materi, melainkan juga ketenangan jiwa yang tak ternilai.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Artinya, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7). Ayat ini bukan hanya janji penambahan rezeki materi, melainkan juga penambahan ketenangan, keberkahan waktu, dan kebahagiaan hati yang sejati. Imam Al-Ghazali dalam *Ihya' Ulumuddin* menjelaskan bahwa syukur bukan sekadar ucapan lisan, melainkan sebuah keadaan hati yang mengakui nikmat, lalu diwujudkan melalui perbuatan baik dan penggunaan nikmat sesuai kehendak Sang Pemberi.

Lebih jauh, dalam khazanah tasawuf, ulama besar seperti Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam *Al-Hikam* seringkali mengisyaratkan pentingnya *ridha* (kerelaan hati menerima ketetapan Allah) dan *qana'ah* (merasa cukup dengan apa yang ada) sebagai fondasi syukur yang mendalam. Ketika hati kita lapang menerima apa yang Allah berikan, sekecil apapun itu, maka ia akan menemukan kedamaian. Rasulullah ﷺ pun telah mengajarkan kita untuk melihat ke bawah agar lebih bersyukur. Beliau bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Artinya, “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kalian.” (HR. Muslim). Ini adalah resep sederhana namun ampuh untuk mengikis rasa kurang dan menumbuhkan rasa cukup.

Maka, mari kita mulai dari langkah-langkah kecil. Sebelum tidur, sebutkan tiga hal sederhana yang membuatmu bersyukur hari ini: secangkir teh hangat, sapaan ramah dari tetangga, atau bahkan hanya nafas yang masih berhembus tanpa sakit. Biasakan diri untuk menyadari bahwa setiap detak jantung, setiap teguk air, setiap pandangan mata yang sehat adalah anugerah tak ternilai. Dengan begitu, hati akan terlatih untuk melihat keindahan dalam kesederhanaan, menemukan kekayaan dalam kecukupan, dan akhirnya, merasakan *mahabbah* (cinta) yang tulus kepada Sang Pencipta dan Rasul-Nya ﷺ.

Inilah esensi dari pembinaan hati yang kami usung di AlFatihRPS: bukan tentang janji-janji muluk, melainkan tentang konsistensi dalam langkah kecil yang membersihkan jiwa. Ketika hati kita dipenuhi syukur, ia akan lebih mudah terhubung dengan cahaya Rasulullah ﷺ, dan sholawat yang kita lantunkan akan terasa lebih dalam, lebih bermakna.

Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.

Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Artikel

Ketika Doa Iftitah Hanya Gumaman: Mengapa Hati Sulit Hadir dalam Sholat?

25 Jun 2026
Artikel

Bagaimana Hati Tetap Tenang Saat Dihadapkan pada Orang Paling Sulit?

25 Jun 2026
Artikel

Ketika Dunia Menguji Prinsip: Memahami Keteguhan Hati ala Imam Al-Ghazali

25 Jun 2026
Artikel

Ihsan: Seni Merasakan Hati Sesama dalam Kegalauan Modern

25 Jun 2026
Artikel

Sedekahmu Dilihat Allah, Tapi Kenapa Hati Masih Haus Pengakuan Manusia?

25 Jun 2026
Artikel

Mengapa Hati Kerap Merasa Lebih Tinggi dari Sesama?

25 Jun 2026
Artikel

Kenapa Luka Masa Lalu Terus Menghantui, Meski Sudah Berusaha Melupakan?

25 Jun 2026
Artikel

Kenapa Sumpahmu Tak Lagi Bertuah, Bahkan Melukai Hati?

25 Jun 2026
Artikel

Qonaah: Ketika Cukup Bukan Sekadar Angka, Tapi Rasa dalam Jiwa

25 Jun 2026
Artikel

Mencari Jawaban di Google, Menemukan Kedamaian di Bimbingan: Hikmah Adab kepada Guru

25 Jun 2026
Artikel

Bisakah Kepercayaan yang Hancur Kembali Utuh? Hikmah Amanah dalam Persahabatan

25 Jun 2026
Artikel

Ketika Reaksi Spontan di Medsos Merampas Kedamaian Hati?

25 Jun 2026
Artikel

Mengapa Doa Terasa Tak Terjawab, Meski Hati Sudah Merintih?

25 Jun 2026
Artikel

Ketika Niat Baik Justru Menjauhkan: Hikmah Rendah Hati dalam Berdakwah

25 Jun 2026
Artikel

Mengapa Hati Kerap Hampa Meski Telah Berusaha Mati-matian?

25 Jun 2026
Artikel

Kenapa Lisan Keras pada yang Muda, Padahal Hati Ingin Bijaksana?

25 Jun 2026
Artikel

Redha: Bukan Pasrah Semata, Pintu Ketenangan Hati Saat Takdir Melukai

25 Jun 2026
Artikel

Ketika Kejujuran Terasa Pahit: Menemukan Manisnya Mahabbah Nabi ﷺ

25 Jun 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Artikel Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel