Jam 10 malam, setelah seharian berjibaku dengan pekerjaan, kamu pulang berharap ketenangan. Tapi baru saja pintu terbuka, teriakan dan tangisan anak sudah menyambut, barang-barang berserakan, dan hati yang lelah rasanya makin remuk. Esok hari, skenario serupa terulang lagi: anak sulit dibangunkan, menolak sarapan, atau tantrum di depan umum. Ada kalanya kita merasa, “Ya Allah, sabarku sudah habis. Sampai kapan ujian ini?” Rasa bersalah kemudian menyergap, padahal kita tahu, anak adalah amanah.
Perasaan lelah dan putus asa ini bukanlah aib, melainkan isyarat dari batin yang membutuhkan pengisian. Kita seringkali terperangkap dalam ekspektasi bahwa orang tua harus selalu sempurna, selalu sabar, tanpa cela. Padahal, kita manusia biasa, dengan keterbatasan energi dan emosi. Mengakui bahwa sabar itu ada batasnya, dalam pengertian kapasitas manusiawi, adalah langkah pertama untuk mencari sumber kekuatan yang tak terbatas.
Dalam ajaran Islam, sabar bukanlah pasrah tanpa daya, melainkan keteguhan hati yang aktif dalam menghadapi cobaan. Ia adalah pondasi bagi seorang mukmin untuk terus melangkah maju, sekalipun jalan terasa terjal. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Ayat ini menegaskan bahwa sabar adalah alat bantu, sebuah energi yang harus kita aktifkan. Imam Al-Ghazali, dalam magnum opusnya 'Ihya' Ulumuddin', mendefinisikan sabar sebagai ‘tsabat al-da'i al-din 'inda mu'aradhat da'i al-hawa’—keteguhan motivasi agama dalam menghadapi dorongan hawa nafsu. Dalam konteks menghadapi anak yang sulit, sabar berarti teguh memegang prinsip mendidik dengan kasih sayang dan hikmah, menahan diri dari dorongan amarah atau keputusasaan yang datang dari hawa nafsu.
Baca Juga
Terjebak Lingkaran Cicilan? Begini Cara Qana'ah Membebaskan Hati
Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan sempurna dalam kesabaran dan kasih sayang, bahkan terhadap anak-anak yang belum mengerti. Beliau tidak pernah membalas perilaku buruk dengan kekerasan, melainkan dengan doa dan bimbingan. Sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim mengingatkan kita akan pentingnya kasih sayang:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
“Barangsiapa yang tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini adalah cermin bagi kita, para orang tua. Untuk mendapatkan rahmat Allah, kita harus menebarkan rahmat, terutama kepada anak-anak kita yang merupakan titipan-Nya. Kesabaran kita pada dasarnya adalah manifestasi dari rahmat itu sendiri. Ia bukan hanya untuk anak, tapi juga untuk melatih hati kita agar semakin lembut dan dekat kepada-Nya. Ketika sabar kita menipis, itu bukan akhir, melainkan undangan untuk merajut kembali mahabbah kepada Rasulullah ﷺ, agar hati kita kembali terisi energi cinta dan ketenangan.
Maka, lihatlah setiap tantrum, setiap kenakalan, bukan sebagai beban semata, melainkan sebagai kesempatan berharga untuk melatih *sabr*, *rahmah*, dan *tawakkal* kita. Ini adalah *tarbiyah* (pendidikan) bagi diri kita sendiri, sebuah jihad batin yang akan mengangkat derajat kita di sisi Allah. Perjuangan ini adalah jalan menuju hati yang lebih lapang, lebih damai, dan lebih mencintai.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.