Kabur Aja Dulu: Ilusi Pelarian dan Hakikat Ikhtiar di Hati Sendiri
Malam-malam, setelah seharian berjibaku dengan tumpukan pekerjaan yang tak ada habisnya, kamu membuka media sosial. Postingan teman-teman yang liburan ke luar negeri, atau yang pamer kerja di startup “anti-stress” di kota lain, tiba-tiba terasa menusuk. Ada bisikan halus, “Enaknya kalau bisa kabur aja dulu dari semua ini, cari suasana baru, hidup baru.” Rasanya, segala beban utang, konflik di rumah, atau kejenuhan rutin ini akan sirna begitu saja jika kita bisa pergi, meninggalkan semua di belakang.
Ketika Hati Berteriak, Ke Mana Kita Akan Berlari?
Fenomena “kabur aja dulu” ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan cerminan dari kelelahan batin yang mendalam. Kita seringkali mengira bahwa sumber kegelisahan ada di luar diri: pekerjaan, kota, atau orang-orang di sekitar. Maka, solusinya pun dicari di luar: pindah kerja, pindah kota, atau bahkan pindah negara. Namun, seperti yang diisyaratkan oleh para arif billah, masalah yang tidak diselesaikan di dalam hati, akan selalu ikut ke mana pun raga melangkah. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan, “Bagaimana mungkin hati itu dapat menyinari, padahal gambaran alam semesta tercetak di cerminnya?” Ini berarti, jika hati kita masih dipenuhi kekeruhan, perubahan eksternal takkan banyak membantu.
Ketenangan sejati, atau sakinah, bukanlah komoditas yang bisa dibeli dengan tiket pesawat atau ditemukan di destinasi wisata baru. Ia adalah anugerah Ilahi yang bersemayam di dalam jiwa yang terhubung dengan Sumber Ketenangan itu sendiri. Allah ﷻ berfirman:
]
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
]
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28). Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan hakiki berpusat pada dzikrullah, bukan pada perpindahan geografis. Sebuah hati yang gelisah di satu tempat, kemungkinan besar akan tetap gelisah di tempat lain, kecuali jika ia menemukan ketenangan dalam dzikir.
Ikhtiar Sejati: Perjuangan Hati, Bukan Pelarian Fisik
Lalu, bagaimana dengan ikhtiar? Bukankah Nabi Yusuf ﷺ juga berpindah dari sumur ke istana, lalu ke penjara, hingga menjadi menteri? Tentu, ikhtiar adalah bagian tak terpisahkan dari iman. Namun, ikhtiar sejati bukan pelarian, melainkan perjuangan yang dilandasi niat lurus dan tawakal penuh. Ikhtiar adalah mengerahkan segenap kemampuan di mana kita berada, menghadapi ujian dengan kesabaran, dan kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
]
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
]
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung; mereka pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini tidak menyuruh burung untuk ‘kabur’ dari sarangnya, melainkan untuk tasyakkur (pergi di pagi hari) mencari rezeki, lalu tawakkal dengan keyakinan bahwa Allah akan mengenyangkan mereka. Pergi dan kembali adalah ikhtiar, tapi ketenangan hati ada pada tawakal.
Bahkan hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah bukanlah sekadar ‘kabur aja dulu’ dari tekanan, melainkan perintah ilahi dengan tujuan mulia untuk menegakkan agama. Sebuah hijrah yang penuh perencanaan, pengorbanan, dan keyakinan teguh pada janji Allah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin banyak membahas tentang mujahadah dan riyadhah an-nafs (perjuangan dan latihan jiwa) yang harus dilakukan di mana pun seorang hamba berada. Beliau mengajarkan bahwa kesulitan adalah madrasah, tempat jiwa ditempa untuk mencapai kematangan spiritual. Maka, alih-alih mencari jalan keluar secara fisik, kadang yang lebih mendesak adalah mencari jalan masuk ke dalam diri, memperbaiki niat, dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.
Jadi, ketika bisikan untuk “kabur aja dulu” itu datang, mungkin ini saatnya untuk berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya ingin kita larikan? Apakah masalahnya di luar, atau justru ada pekerjaan hati yang belum tuntas? Mari kita hadapi setiap tantangan di “tanah sendiri” dengan ikhtiar maksimal dan tawakal penuh, sembari memohon pertolongan Allah melalui sholawat dan tadarus Al-Qur'an. Karena di sanalah, di dalam mahabbah kepada Rasulullah ﷺ dan kedekatan dengan kalam-Nya, kita akan menemukan kekuatan untuk beristiqamah dan ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh perpindahan apapun.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.
Mungkin Anda Suka
Batasan Aurat dan Adab Berpakaian dalam Islam
I'tikaf di Bulan Ramadhan: Hukum, Rukun, dan Tata Caranya
Tata Cara Memandikan dan Mengkafani Jenazah Sesuai Syariat
Tata Cara Sholat Idul Fitri dan Idul Adha Lengkap dengan Niatnya
Syarat, Rukun Jual Beli dalam Islam, dan Cara Menghindari Riba