Pernahkah kamu merasa lelah, bukan karena pekerjaan di kantor, melainkan karena perdebatan kecil setiap kali adzan berkumandang di rumah? Kamu memanggil si kecil untuk sholat, tapi ia lebih asyik dengan dunianya, atau bahkan merengek menolak. Hati kecilmu bertanya, 'Apa yang salah? Mengapa ibadah yang seharusnya menenangkan ini justru menjadi sumber ketegangan antara kita?' Kegelisahan ini nyata, dirasakan banyak orang tua yang ingin melihat anaknya tumbuh mencintai agama, namun bingung bagaimana memulainya tanpa paksaan.
Seringkali, niat baik kita untuk mendidik justru terbentur pada metode yang kaku. Kita mungkin lupa bahwa inti dari ibadah, termasuk sholat, adalah koneksi hati, bukan sekadar gerakan fisik yang dihafal. Para ulama tasawuf, jauh sebelum psikologi modern ada, telah mengajarkan konsep tarbiyatun nafs—pendidikan jiwa—sebagai fondasi utama. Bukan sekadar menuntut ketaatan, melainkan menumbuhkan benih cinta (mahabbah) di dalam hati anak, agar ia menemukan sendiri keindahan dalam menghadap Tuhannya.
Allah SWT sendiri telah menuntun kita dalam Al-Qur'an tentang pentingnya mendidik anak dalam ibadah, namun dengan hikmah. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Luqman:
يَٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ
“Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)
Baca Juga
Gersangnya Hati di Mushola yang Berdebu: Hikmah Thaharah dalam Ihya' Ulumuddin
Ayat ini bukan hanya perintah, melainkan nasihat penuh kasih sayang dari seorang ayah kepada anaknya, yang dimulai dengan sholat sebagai tiang. Nabi Muhammad ﷺ pun mengajarkan kita untuk membiasakan anak sejak dini. Beliau bersabda:
مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ
“Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud). Kata “perintahkan” di sini, dalam konteks pendidikan dini, lebih condong pada bimbingan dan pembiasaan yang lembut, bukan paksaan yang mematikan jiwa.Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, menekankan bahwa pendidikan anak harus dimulai dengan menanamkan akhlak mulia dan membiasakan mereka pada kebaikan. Beliau menjelaskan, hati anak ibarat tanah subur yang siap menerima benih apa pun. Jika ditanami kebaikan, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang baik. Mengajarkan sholat sejak dini berarti menanamkan kebiasaan istiqamah dan mahabbah kepada Allah dan Rasul-Nya, melalui contoh nyata, bukan hanya instruksi verbal. Ini adalah proses pembinaan hati yang panjang, dimulai dari mengenalkan Allah sebagai Dzat yang mencintai, bukan sekadar menghukum.
Maka, daripada memposisikan sholat sebagai beban atau daftar kewajiban yang harus dipenuhi, mari kita ubah cara pandang. Jadikan ia sebagai undangan untuk bercengkerama dengan Sang Pencipta, sebagai waktu istirahat dari hiruk pikuk dunia, sebagai momen untuk merasakan ketenangan. Ajak anak sholat dengan senyuman, ceritakan kisah-kisah Nabi ﷺ yang mencintai sholat, biarkan mereka melihat kita bersemangat menyambut adzan. Mungkin mereka belum sempurna gerakannya, belum khusyuk pikirannya, namun yang terpenting adalah benih cinta itu telah tertanam, tumbuh perlahan, disirami kesabaran dan kasih sayang kita.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.