Pukul tujuh malam, piring-piring sudah siap di meja, tapi anak-anak masih sibuk dengan gawainya, atau malah berlarian kecil di dapur. Hati kita, para orang tua, seringkali mencelos. Bukan hanya karena makanan jadi dingin, tapi juga karena harapan untuk makan bersama dengan tenang, sambil mengajarkan adab, seolah hanya mimpi. Beban kerja seharian, tumpukan tagihan, dan kelelahan batin seringkali membuat kita kehilangan kesabaran, mengubah momen makan menjadi arena pertengkaran kecil, alih-alih ruang pembinaan.
Keresahan ini jamak dirasakan. Kita tahu pentingnya adab, apalagi adab makan yang diajarkan Rasulullah ๏ทบ, namun menerapkannya dalam rutinitas harian yang serba cepat terasa seperti mendaki gunung. Kita sering terjebak pada โaturanโ tanpa sempat menyelami โmaknaโ di baliknya. Padahal, adab makan bukan sekadar sopan santun belaka, melainkan sebuah gerbang untuk menanamkan mahabbah (cinta) kepada Rasulullah ๏ทบ sejak dini, mengubah setiap suapan menjadi ibadah yang penuh berkah.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin dengan indah menjelaskan bahwa setiap tindakan seorang Muslim, termasuk makan, harus dilandasi oleh niat dan kesadaran akan kebesaran Allah. Adab makan yang diajarkan Nabi ๏ทบ, seperti membaca basmalah, makan dengan tangan kanan, dan tidak mencela makanan, adalah manifestasi dari syukur dan penghormatan terhadap rezeki. Ini bukan sekadar ritual kosong, melainkan latihan jiwa untuk senantiasa mengingat Allah dan meneladani kekasih-Nya. Bukankah Allah sendiri telah berfirman:
ููููุฏู ููุงูู ููููู
ู ููู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุฃูุณูููุฉู ุญูุณูููุฉู ูููู
ูู ููุงูู ููุฑูุฌูู ุงูููููู ููุงููููููู
ู ุงููุขุฎูุฑู ููุฐูููุฑู ุงูููููู ููุซููุฑูุง
โSungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.โ (QS. Al-Ahzab: 21)
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Ayat ini menegaskan bahwa meneladani Rasulullah ๏ทบ dalam setiap aspek kehidupan, termasuk adab makan, adalah jalan bagi mereka yang merindukan pertemuan dengan Allah. Mengajarkan anak untuk mengikuti sunnah makan berarti mengajarkan mereka untuk mencintai sosok teladan utama, menanamkan benih mahabbah yang kelak akan tumbuh menjadi istiqomah dalam ketaatan. Ini adalah pendidikan hati yang paling fundamental, jauh melampaui sekadar etika di meja makan.
Rasulullah ๏ทบ sendiri telah memberikan panduan yang sangat praktis dan penuh hikmah. Diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah, ia berkata: โDahulu aku adalah anak kecil yang berada dalam asuhan Rasulullah ๏ทบ. Tanganku biasa bergerak ke seluruh penjuru piring (saat makan). Maka Rasulullah ๏ทบ bersabda kepadaku:
ููุง ุบููุงูู
ู ุณูู
ูู ุงูููููู ูููููู ุจูููู
ูููููู ูููููู ู
ูู
ููุง ููููููู
โWahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang dekat darimu.โโ (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan betapa lembut dan personalnya cara Nabi ๏ทบ mendidik, mengubah momen makan menjadi pelajaran berharga tentang adab dan kesadaran.Maka, saat kita merasa lelah menghadapi kerewelan anak di meja makan, ingatlah bahwa kita sedang menanamkan benih cinta. Bukan dengan paksaan atau amarah, melainkan dengan keteladanan dan kesabaran, sebagaimana Nabi ๏ทบ mengajarkan Umar bin Abi Salamah. Ini adalah ladang pahala, sebuah investasi akhirat yang tak ternilai. Jadikan meja makan sebagai madrasah kecil, tempat sunnah Nabi ๏ทบ dihidupkan, tempat mahabbah tumbuh subur, dan istiqomah mulai bersemi dalam sanubari anak-anak kita, generasi perindu Rasulullah.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an โ klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.