Pernahkah, setelah menyisihkan sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan, ada bisikan halus di sudut hati yang berharap orang lain tahu? Atau, setidaknya, berharap ada pengakuan, walau sekadar pandangan kagum? Di tengah tekanan hidup, mulai dari beban pekerjaan yang tak ada habisnya hingga kekhawatiran rezeki yang tak kunjung stabil, dorongan untuk merasa ‘berharga’ atau ‘dilihat’ seringkali muncul, bahkan dalam amal kebaikan sekalipun. Ini bukan tentang niat jahat, melainkan pergulatan batin yang jujur: keinginan alami manusia untuk diakui, yang kadang tanpa sadar menyusup ke dalam ranah ibadah.
Pergulatan ini, dalam khazanah tasawuf, dikenal sebagai fenomena riya — sebuah penyakit hati yang menggerogoti keikhlasan. Riya bukanlah sekadar pamer, namun spektrumnya lebih luas, bahkan bisa sehalus keinginan agar orang lain mendoakan kebaikan kita karena amal yang kita tunjukkan. Ini bukan perkara mudah, sebab niat adalah wilayah paling pribadi antara hamba dan Tuhannya. Namun, seringkali, kita sendiri yang merasa gelisah, merasa amal kita hampa, karena ada bagian dari diri yang masih mengharapkan sorotan dunia, bukan semata-mata ridha Sang Pencipta.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan dengan tegas tentang bahaya riya ini, terutama dalam konteks sedekah. Ia berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih (tidak menyisakan apa-apa). Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka usahakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 264)
Ayat ini dengan gamblang menggambarkan bagaimana riya dapat menghapus pahala, seolah amalan itu tak pernah ada. Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, menjelaskan bahwa ikhlas adalah membersihkan niat dari segala macam kotoran, termasuk harapan pujian atau pengakuan dari makhluk. Beliau mengibaratkan niat sebagai ruh dari amal. Tanpa ruh yang bersih, amal hanyalah jasad tanpa makna, bahkan bisa menjadi racun. Keikhlasan, menurut beliau, adalah perjuangan seumur hidup, sebuah jihad batin yang tak pernah usai untuk memastikan bahwa setiap gerak hati dan tindakan hanya tertuju pada Allah semata, tanpa ada embel-embel duniawi.
Lalu, bagaimana kita menjaga niat agar sedekah kita tetap murni? Rasulullah ﷺ memberikan teladan dan motivasi yang menenangkan. Beliau bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Tuhannya, seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, seorang laki-laki yang bersedekah dengan tangan kanannya, lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan seorang laki-laki yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menyoroti keutamaan sedekah yang tersembunyi, yang menunjukkan puncak keikhlasan. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengajarkan bahwa amalan yang paling mulia adalah yang tersembunyi dari pandangan makhluk, karena itu adalah amalan yang paling murni dan paling dekat dengan hakikat penghambaan. Ketika kita bersedekah, mari kita ingat bahwa tujuan utama adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan kepada pujian manusia. Inilah esensi mahabbah, cinta tanpa syarat kepada Sang Khaliq, yang sejatinya akan membawa ketenangan batin yang tak bisa ditukar dengan pengakuan apa pun.
Menjaga niat dalam bersedekah adalah bagian dari perjalanan pembinaan hati yang tak kalah penting dari amalan itu sendiri. Ia menguji kejujuran kita pada diri sendiri dan pada Allah. Mari kita terus berjuang untuk membersihkan niat, agar setiap kebaikan yang kita lakukan, termasuk sedekah, menjadi bekal murni yang diterima di sisi-Nya, tanpa terkotori oleh bisikan riya. Pelopor Gerakan Sholawat Tanpa Syarat ini mengajak kita untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam segala aspek, termasuk dalam keikhlasan beramal.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.