Jam 9 malam, lampu ruang keluarga sudah redup. Anak-anak sudah terlelap di kamar masing-masing. Kamu masih duduk di sofa, jari-jari tak henti menggeser layar ponsel, mencari sepotong hiburan atau sekadar melarikan diri dari tumpukan pekerjaan esok hari. Ada rasa hampa, mungkin sedikit sesal, menyelinap: seharian tadi, sudahkah aku benar-benar ‘hadir’ untuk mereka? Sudahkah mata ini menatap tulus, telinga ini mendengar penuh, bukan sekadar respons otomatis sambil pikiran melayang ke tenggat waktu dan cicilan yang menanti?
Keresahan ini bukan milik segelintir orang. Di tengah pusaran tuntutan hidup modern—pekerjaan yang tak ada habisnya, media sosial yang menyedot perhatian, atau sekadar kelelahan batin yang menumpuk—kita seringkali merasa fisik ada di dekat orang tercinta, namun hati dan pikiran justru entah di mana. Kita menyediakan waktu, tapi bukan kehadiran. Kita memberi barang, tapi bukan jiwa. Anak-anak merasakan ketiadaan itu, dan kita pun merasakan kegersangan yang sama, sebuah luka tak terlihat yang menggerogoti mahabbah (cinta) dalam keluarga.
Dalam kacamata hikmah, persoalan ini melampaui sekadar manajemen waktu. Ini adalah krisis 'kehadiran hati' yang mendalam. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menekankan pentingnya *hudhur al-qalb* (kehadiran hati) dalam setiap ibadah dan interaksi. Jika dalam shalat saja kehadiran hati adalah ruhnya, bagaimana mungkin kita membangun mahabbah sejati dengan anak-anak tanpa kehadiran hati yang utuh? Ini bukan soal berapa jam kita habiskan di rumah, melainkan berapa banyak jiwa kita tertumpah dalam momen-momen itu. Rasulullah ﷺ sendiri bersabda, «خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي»
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي
(Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi keluarganya, dan aku adalah yang terbaik bagi keluargaku). (HR. Tirmidzi). Menjadi 'yang terbaik' bagi keluarga mensyaratkan kehadiran, perhatian, dan cinta yang tulus.Lalu, bagaimana kita mengembalikan kehadiran hati itu di tengah hiruk pikuk kehidupan? Jalan tasawuf mengajarkan *muhasabah* (introspeksi diri) dan *murâqabah* (pengawasan diri). Sebelum berinteraksi dengan anak, luangkan sejenak untuk 'menarik' hati yang berkelana. Sadari bahwa momen bersama mereka adalah sebuah *amanah* dan ladang pahala. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan kita bahwa seringkali dunia ini menyibukkan kita dari hal-hal yang justru lebih hakiki dan dekat. Anak-anak adalah cerminan dari fitrah, kesucian yang harus kita jaga dan bina dengan sepenuh jiwa. Kehadiran kita, seberapa pun singkatnya, akan menjadi cahaya bagi mereka jika diisi dengan ketulusan dan fokus.
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Membangun waktu berkualitas bersama anak adalah sebuah riyadhah (latihan spiritual) yang menuntut istiqomah dan kesabaran. Ini adalah praktik *mahabbah* yang nyata, yang akan menumbuhkan *sakinah* (ketenangan), *mawaddah* (cinta), dan *rahmah* (kasih sayang) dalam keluarga. Allah SWT berfirman, «وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ»
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
(Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir). (QS. Ar-Rum: 21). Ayat ini, meski konteks awalnya tentang pasangan, sesungguhnya mencakup seluruh ikatan keluarga yang dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang Ilahi.Maka, mari kita mulai dari langkah kecil. Matikan notifikasi ponsel saat bersama anak. Tatap mata mereka saat mereka bercerita, meski hanya tentang hal-hal sepele. Sentuh mereka, peluk mereka, dan hadirkan hati kita sepenuhnya, walau hanya lima atau sepuluh menit. Kehadiran hati ini bukan hanya memberi kedamaian bagi anak, tetapi juga mengobati kegersangan batin kita sendiri. Ini adalah investasi mahabbah yang tak ternilai, sebuah pondasi kuat untuk generasi perindu Rasulullah ﷺ yang penuh kasih sayang.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.