Jam 9 malam, kamu baru selesai membaca Al-Qur'an, hati terasa damai setelah merenungi setiap ayat. Tapi begitu menoleh, pasanganmu masih asyik dengan gawainya, tawa renyah dari video hiburan memenuhi ruangan. Bukan marah, tapi ada gumpalan kecil di dada: 'Apakah kami masih searah?' Keresahan semacam ini, meski sering tak terucap, adalah beban batin yang nyata dalam banyak rumah tangga.
Keresahan ini bukan tentang siapa yang lebih baik, melainkan tentang kerinduan akan kebersamaan dalam perjalanan spiritual. Kita mendamba seorang 'teman seperjalanan' yang bisa saling menguatkan dalam ibadah, saling mengingatkan tentang akhirat, dan bersama membangun rumah tangga yang diberkahi. Ketika 'level' ketaatan terasa berbeda, muncul pertanyaan: bagaimana menumbuhkan mahabbah, cinta yang berlandaskan Ilahi, jika fondasi spiritual terasa pincang? Inilah ujian kesabaran dan keikhlasan yang seringkali lebih berat daripada masalah materi.
Dalam pusaran kegelisahan ini, seringkali kita lupa bahwa pernikahan adalah madrasah terbesar, tempat kita belajar sabar, syukur, dan memahami takdir. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
(Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.) (QS. Ar-Rum: 21). Ayat ini tidak mensyaratkan 'level religiusitas yang sama' sebagai prasyarat mawaddah dan rahmah, melainkan menyoroti esensi ketenangan dan kasih sayang sebagai fondasi yang lebih dalam.Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin banyak membahas tentang pentingnya husnul khuluq (akhlak yang baik) dalam membina rumah tangga. Beliau menekankan bahwa perubahan sejati datang dari hati, bukan paksaan atau tuntutan. Ketika kita menghadapi perbedaan, tugas pertama adalah kembali pada diri sendiri. Apakah kita sudah menjadi cerminan kebaikan yang ingin kita lihat pada pasangan? Apakah doa-doa kita untuknya tulus, tanpa menghakimi? Mahabbah yang hakiki, menurut para sufi, adalah ketika kita mencintai karena Allah, dan berharap kebaikan untuk yang dicintai, bahkan jika ia belum sejalan sepenuhnya dengan harapan kita.
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan terbaik dalam berinteraksi dengan orang yang berbeda. Beliau tidak pernah memaksakan kehendak, melainkan menuntun dengan hikmah dan kasih sayang. Sebuah hadits riwayat Muslim menyebutkan:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
(Agama adalah nasihat.) (HR. Muslim). Nasihat di sini bukan berarti ceramah yang menggurui, melainkan nasihat melalui tindakan, keteladanan, dan doa yang tak putus. Mungkin saja, perbedaan itu adalah ujian bagi kita untuk lebih mendekat kepada Allah, memohon hidayah bagi pasangan, dan melatih kesabaran kita sendiri dalam menanti janji-Nya.Mungkin, yang kita butuhkan bukanlah pasangan yang 'sama persis' dalam setiap ritual ibadah, melainkan hati yang lapang untuk menerima, tangan yang tak lelah berdoa, dan jiwa yang istiqomah dalam kebaikan. Karena seringkali, cahaya hidayah itu memancar dari ketenangan dan keistiqomahan kita sendiri, bukan dari tuntutan. Jadikan setiap perbedaan sebagai pemicu untuk kita sendiri lebih giat beribadah, lebih khusyuk bersholawat, dan lebih tekun membaca Al-Qur'an. Biarkan energi positif dari ibadah kita menyelimuti rumah tangga, menjadi magnet yang menarik hati pasangan secara perlahan, tanpa paksaan, hanya dengan cinta dan doa.
Sungguh, perjalanan membina rumah tangga adalah perjalanan hati. Jika kamu merasakan gumpalan keresahan itu, bukan berarti kamu sendirian. Justru ini adalah saatnya menguatkan diri, memohon pertolongan Allah, dan meneladani Rasulullah ﷺ. Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an – langkah kecil yang konsisten, tanpa tekanan, murni untuk pembinaan hati dan mahabbah kepada Rasulullah ﷺ, agar cahaya-Nya menyinari setiap sudut rumah tangga kita.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.