Jam dua dini hari, suara tangisan pecah dari kamar sebelah. Anak Anda terbangun, ketakutan, mungkin karena mimpi buruk yang terasa begitu nyata, atau sekadar bayangan gelap di sudut kamar yang menjelma monster. Hati orang tua mana yang tak teriris? Rasa cemas menyergap, pertanyaan berkelebat: Apakah ada yang salah? Mengapa ia begitu takut? Di tengah kelelahan batin akibat rutinitas kerja dan beban rumah tangga, momen seperti ini bisa jadi puncak kegelisahan yang tak terucapkan.
Keresahan anak yang takut gelap atau sering mimpi buruk bukanlah sekadar drama anak-anak. Ia seringkali adalah cermin dari bagaimana kita, sebagai orang tua, menyikapi rasa takut dan ketidakpastian dalam hidup. Kita mungkin buru-buru menyalakan lampu, memeluk erat, atau mencoba mengalihkan perhatian, tanpa menyadari bahwa respons tersebut bisa jadi melewatkan kesempatan emas untuk menanamkan pondasi ketenangan batin yang lebih dalam. Ketakutan adalah fitrah, namun cara kita menghadapinya adalah pilihan yang membentuk jiwa.
Dalam tasawuf, ketenangan hati (sakinah) adalah anugerah Ilahi yang hadir saat kita menyandarkan diri sepenuhnya pada-Nya. Ketakutan pada kegelapan atau bayangan buruk sejatinya adalah manifestasi dari kurangnya rasa aman dalam diri. Bagaimana kita bisa mengajarkan anak merasakan kehadiran yang Maha Melindungi, bahkan saat mata tertutup dan dunia terasa sunyi? Jawabannya ada pada dzikir dan kesadaran akan Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28). Ayat ini bukan hanya untuk orang dewasa yang didera stres pekerjaan atau beban utang, melainkan juga fondasi bagi jiwa anak-anak yang polos untuk menemukan kedamaian.
Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, banyak membahas tentang *muraqabah* (merasa diawasi dan diperhatikan oleh Allah) dan *mahabbah* (cinta Ilahi). Konsep ini relevan dalam konteks parenting. Mengajarkan anak bahwa Allah selalu bersamanya, melihatnya, dan melindunginya—bahkan di ruangan paling gelap—adalah bentuk *muraqabah* yang menumbuhkan rasa aman. Ini bukan sekadar teori, melainkan praktik menanamkan *mahabbah* kepada Sang Pencipta, agar hati anak terpaut pada kekuatan yang tak terbatas, bukan pada bayangan yang menakutkan.
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Rasulullah ﷺ, sebagai teladan sempurna, telah mengajarkan kita amalan-amalan sederhana namun penuh berkah untuk menghadapi ketakutan di malam hari. Aisyah RA meriwayatkan:
كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
“Apabila Rasulullah ﷺ beranjak ke tempat tidurnya setiap malam, beliau menyatukan kedua telapak tangannya, lalu meniup keduanya dan membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’, ‘Qul A’udzu birabbil Falaq’, dan ‘Qul A’udzu birabbin Nas’. Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangannya ke bagian tubuh yang mampu dijangkaunya, dimulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan itu tiga kali.” (HR. Bukhari). Ini adalah warisan Nabi ﷺ yang mengajarkan istiqomah dalam dzikir sebagai perisai batin. Mengajak anak untuk melakukan amalan ini sebelum tidur, meski masih terbata-bata, adalah langkah kecil menanamkan cinta kepada Rasulullah ﷺ dan keyakinan akan perlindungan-Nya.
Maka, ketika anak kita kembali menangis karena gelap atau mimpi buruk, mari kita melihatnya bukan sebagai gangguan, melainkan sebagai undangan untuk membina hati—hati mereka dan hati kita sendiri. Gelap bukanlah ketiadaan, melainkan ruang di mana kita bisa merasakan kehadiran Allah dengan lebih intens, tempat di mana kita bisa mengajarkan anak bahwa ketenangan sejati datang dari ikatan spiritual yang kuat. Inilah esensi pembinaan hati (mahabbah) yang tak hanya meredakan ketakutan sesaat, namun membangun jiwa yang teguh dan perindu Rasulullah ﷺ.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.