Jam sembilan malam, notifikasi e-commerce berkedip lagi di layar ponsel. Ada diskon, ada produk baru yang 'wajib' dimiliki. Kamu merasa lelah setelah seharian bekerja, dan seolah-olah, satu klik 'beli' akan membawa sedikit pelipur lara. Barang datang, sesaat ada kebahagiaan, tapi tak lama kemudian, kegelisahan yang sama kembali menyergap. Bahkan, terkadang diikuti beban pikiran baru: tagihan kartu kredit atau rasa bersalah karena pengeluaran yang tidak perlu. Pernah merasakan lingkaran ini?
Fenomena ini bukan sekadar masalah keuangan, melainkan cermin dari kelelahan batin yang mendalam. Kita hidup dalam pusaran konsumsi yang tak berujung, di mana kebahagiaan seolah diukur dari apa yang kita miliki, bukan dari apa yang kita rasakan. Hati yang tadinya berharap menemukan ketenangan lewat kepemilikan, justru mendapati dirinya semakin gersang, terperangkap dalam dahaga yang tak pernah terpuaskan. Inilah 'fatigue konsumsi', sebuah kondisi di mana pengejaran materi justru menguras energi spiritual.
Dalam kacamata hikmah, kegelisahan ini adalah isyarat. Sebuah tanda bahwa hati kita sedang mencari sumber kebahagiaan yang lebih abadi. Imam Al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumuddin, seringkali mengingatkan bahwa nafsu adalah kuda liar yang jika tak terkendali, akan menyeret pemiliknya ke jurang kehancuran, baik di dunia maupun akhirat. Beliau mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukanlah pada banyaknya harta, melainkan pada kemerdekaan hati dari belenggu nafsu dan ketergantungan pada dunia.
Al-Qur'an sendiri telah memberikan peringatan tegas tentang bahaya pemborosan dan berlebihan. Allah ﷻ berfirman:
وَآتِ ذَا ٱلۡقُرۡبَىٰ حَقَّهُۥ وَٱلۡمِسۡكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيرًا إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخۡوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِ ۖ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًا
“Dan berikanlah kepada kerabat dekat haknya, (demikian pula) kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra': 26-27). Ayat ini bukan sekadar larangan, melainkan petunjuk untuk menjaga keseimbangan dan menyalurkan rezeki pada jalannya, agar hati tidak dikuasai oleh keinginan yang berlebihan.
Maka, kunci ketenangan bukan pada penambahan, melainkan pada pengurangan dan penyucian hati. Rasulullah ﷺ bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana'ah (merasa cukup) dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim). Hadits ini menggambarkan kebahagiaan hakiki: bukan pada jumlah harta, melainkan pada hati yang menerima dan merasa cukup dengan karunia Allah. Inilah esensi qana'ah, sebuah konsep tasawuf yang mengajarkan bahwa kekayaan sejati ada di dalam jiwa, bukan di rekening bank atau tumpukan barang.
Ketika hati kita dipenuhi dengan mahabbah kepada Rasulullah ﷺ dan kedekatan dengan Al-Qur'an, keinginan untuk terus-menerus mencari pemuasan materi akan berangsur sirna. Sholawat dan tadarus Al-Qur'an adalah dua jalan utama untuk membina hati agar lebih tenang, lebih bersyukur, dan lebih merdeka dari belenggu dunia. Keduanya menuntun kita pada kesadaran bahwa kebahagiaan sejati ada pada koneksi spiritual, bukan pada konsumsi yang tak berujung.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.