Pernahkah kamu terbangun pagi dengan tubuh yang terasa berat, kepala berdenyut, dan semangat yang entah ke mana, namun tetap memaksakan diri bekerja? Mungkin notifikasi email kantor sudah menumpuk, atau tenggat proyek yang tak bisa ditawar. Kita seringkali memandang tubuh ini sebagai mesin, alat untuk mencapai target, baru menyadari betapa berharganya 'mesin' itu saat ia mulai 'mogok'. Rasa lelah yang menumpuk, sakit kepala yang tak kunjung reda, atau nyeri punggung yang kronis, seringkali kita abaikan demi tuntutan hidup yang seolah tak pernah usai. Hingga akhirnya, tubuh benar-benar menyerah, dan barulah penyesalan itu datang.
Kondisi ini, di mana kita baru menghargai sesuatu setelah kehilangannya, adalah cerminan kelalaian yang mendalam. Kita sibuk mengejar apa yang belum ada, lupa mensyukuri apa yang sudah ada. Kesehatan, seringkali dianggap sebagai status 'normal' atau 'default', sehingga kehadirannya tak terasa istimewa. Padahal, ia adalah modal utama untuk setiap gerak, setiap ibadah, dan setiap upaya kita di dunia ini. Tanpa kesehatan, bahkan niat paling mulia pun bisa terhambat, apalagi aktivitas duniawi yang penuh tantangan.
Rasulullah ﷺ, dengan hikmahnya yang tak terbatas, telah mengingatkan kita tentang dua nikmat yang seringkali kita lalaikan. Beliau bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Hadits ini bukan sekadar informasi, melainkan sebuah peringatan tajam. Kita 'tertipu' karena tidak menggunakan kedua nikmat ini sebaik-baiknya, atau bahkan tidak menyadarinya sama sekali hingga keduanya pergi.
Lantas, bagaimana kita bisa keluar dari 'penipuan' ini? Kuncinya ada pada rasa syukur yang mendalam, bukan sekadar ucapan lisan. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya *Ihya' Ulumuddin* menjelaskan bahwa syukur yang hakiki adalah menggunakan nikmat yang diberikan Allah untuk ketaatan kepada-Nya. Artinya, mensyukuri kesehatan bukan hanya dengan mengucapkan 'alhamdulillah' saat kita sehat, tapi dengan menggunakan tubuh yang sehat ini untuk beribadah, menolong sesama, mencari ilmu, dan melakukan kebaikan yang diridai Allah. Jika kesehatan justru dipakai untuk maksiat atau hal yang sia-sia, itu adalah bentuk kufur nikmat, bukan syukur.
Maka, mari kita renungkan. Setiap tarikan napas, setiap langkah kaki, setiap detak jantung adalah anugerah yang tak ternilai. Dengan tubuh yang sehat, kita bisa istiqomah dalam beribadah, seperti melantunkan sholawat dan mentadaburi ayat-ayat Al-Qur'an. Kedua amalan ini, selain mendekatkan diri kepada Rasulullah ﷺ dan Allah SWT, juga menjadi penawar bagi kelelahan batin dan kegelisahan jiwa yang seringkali menyerang di tengah hiruk pikuk kehidupan. Sholawat menenangkan hati, sedangkan Al-Qur'an menuntun jiwa pada jalan kebenaran dan kedamaian, membantu kita menjaga kesehatan mental dan spiritual agar tubuh fisik juga tetap kuat berjuang. Allah SWT berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'.” (QS. Ibrahim: 7). Ayat ini menegaskan bahwa syukur adalah kunci keberkahan dan penambahan nikmat, termasuk nikmat kesehatan itu sendiri.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.