Malam hari, setelah seharian berinteraksi, tiba-tiba terlintas: 'Tadi aku bicara apa ya?' Kadang, kita terhenyak menyadari ada kalimat yang mungkin salah ucap, terselip nada yang kurang pas, atau bahkan candaan yang ternyata menusuk. Bukan niat melukai, sungguh. Namun, bayangan wajah teman yang berubah, atau suasana yang mendadak canggung, seringkali menyisakan ganjalan tak kasat mata di hati kita sendiri. Kita ingin berbaik sangka, tapi rasa bersalah itu tetap mengendap, menambah beban batin yang sudah menumpuk dari rutinitas dan tuntutan hidup.
Keresahan ini bukanlah hal baru. Dalam tradisi tasawuf, menjaga lisan adalah salah satu gerbang utama menuju penyucian hati. Imam Al-Ghazali dalam karyanya, 'Ihya' Ulumuddin', mengulas panjang lebar tentang bahaya lisan yang tak terkendali. Beliau menyebutkan, lidah adalah bagian tubuh yang paling sulit dikendalikan, namun dampaknya bisa meruntuhkan segala amal baik dan merusak hubungan. Kita mungkin merasa lelah dengan tuntutan pekerjaan, tertekan masalah keuangan, atau dilanda kegelisahan rumah tangga, lalu tanpa sadar melampiaskan lewat ucapan yang tidak disaring, seolah lidah menjadi corong bagi segala penat di dada.
Padahal, Allah ﷻ telah mengingatkan kita untuk senantiasa bertutur kata yang baik. Firman-Nya:
وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh, setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al-Isra': 53)
Ayat ini bukan sekadar perintah, melainkan sebuah hikmah agung yang menjelaskan akar masalahnya: setan. Lidah yang tergelincir, hati yang terluka, seringkali adalah pintu masuk bagi campur tangan setan untuk merusak ukhuwah. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam 'Madarijus Salikin' menjelaskan bahwa penyakit hati seperti hasad, riya', atau amarah, akan termanifestasi dalam ucapan. Untuk itu, menjaga lisan berarti juga menjaga hati dari bisikan-bisikan negatif yang memicu perkataan buruk.
Lantas, bagaimana kita bisa mengendalikan lidah yang seringkali 'bergerak sendiri' ini? Rasulullah ﷺ memberikan panduan yang jelas dan universal:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini adalah pondasi utama akhlak bertutur. Bukan hanya tentang tidak menyakiti, tapi tentang memilih yang terbaik dari setiap kata. Diam bukan berarti pasif, melainkan sebuah pilihan aktif untuk merenung, menimbang, dan hanya berbicara jika ada kebaikan di dalamnya. Ini adalah 'riyadhah' atau latihan spiritual yang berat, namun sangat esensial untuk memurnikan hati dan menjaga tali persaudaraan. Ketika hati kita dipenuhi mahabbah kepada Rasulullah ﷺ dan kecintaan pada kalamullah, maka lisan kita pun akan cenderung mengeluarkan kebaikan dan kedamaian.
Mengendalikan lisan adalah cerminan kematangan spiritual. Ia bukan tentang menjadi kaku atau takut berbicara, melainkan tentang kesadaran penuh akan dampak setiap kata. Ini adalah bagian dari istiqomah dalam pembinaan hati, sebuah perjalanan yang tak pernah usai. Dengan terus menerus menyiram hati dengan sholawat dan tadarus Al-Qur'an, kita berharap lisan kita akan menjadi lebih lembut, lebih bijaksana, dan lebih mampu menyebarkan kebaikan, bukan luka.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.