Renungan Mahabbah Rujukan Redaksi

Mengapa Hati Tetap Gelisah Meski Sudah Dipuji Banyak Orang?

Pernahkah kamu merasa, di tengah deretan 'like' dan komentar kagum di media sosial, atau sanjungan tulus dari rekan kerja atas pencapaianmu, ada sebersit kegeli...

Mengapa Hati Tetap Gelisah Meski Sudah Dipuji Banyak Orang?
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Pernahkah kamu merasa, di tengah deretan 'like' dan komentar kagum di media sosial, atau sanjungan tulus dari rekan kerja atas pencapaianmu, ada sebersit kegelisahan yang enggan pergi? Seolah ada lubang di hati yang tak kunjung terisi, justru semakin menganga saat kita mati-matian mengisi hidup dengan validasi dari luar. Kita sibuk membangun citra sempurna, mengejar pengakuan, hingga lupa bahwa ketenangan sejati tak pernah bisa ditemukan di mata orang lain.

Kelelahan batin semacam ini bukan hal baru. Ia adalah cerminan dari hati yang terlalu bergantung pada pujian dan pengakuan manusia, sebuah fenomena yang dalam tasawuf dikenal sebagai riya'. Bukan hanya soal memamerkan harta atau kedudukan, riya' bisa merasuk dalam ibadah, ilmu, bahkan kebaikan yang kita lakukan. Ia adalah penyakit hati yang menggerogoti keikhlasan, membuat amal kita terasa hampa, bagai fatamorgana yang menjanjikan air di padang pasir.

Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, dengan tajam mengupas bahaya riya'. Beliau menjelaskan bahwa riya' adalah tindakan melakukan suatu ibadah atau kebaikan dengan tujuan agar dilihat atau dipuji orang lain, bukan semata karena Allah. Ini bukan berarti kita tidak boleh berbuat baik di depan umum, namun niat di baliknya yang membedakan. Amal yang diniatkan untuk selain Allah, betapapun besar dan indahnya di mata manusia, tak akan berbuah pahala di sisi-Nya, bahkan bisa menjadi beban di akhirat kelak. Bukankah Allah telah berfirman:

ููŽู…ูŽู† ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุฑู’ุฌููˆ ู„ูู‚ูŽุงุกูŽ ุฑูŽุจู‘ูู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู’ ุนูŽู…ูŽู„ู‹ุง ุตูŽุงู„ูุญู‹ุง ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุดู’ุฑููƒู’ ุจูุนูุจูŽุงุฏูŽุฉู ุฑูŽุจู‘ูู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏู‹ุง

โ€œBarang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.โ€ (QS. Al-Kahf: 110)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap amal shalih harus murni ditujukan kepada Allah, tanpa ada sekutu, termasuk pujian atau pengakuan dari manusia. Ketika kita beramal dengan niat yang tulus (ikhlas), tanpa embel-embel ingin dilihat atau dipuji, di situlah ketenangan hati yang hakiki akan hadir. Hati akan merasakan kemerdekaan dari ekspektasi manusia yang fana, dan hanya fokus pada ridha Ilahi yang abadi.

Baca Juga

Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan

Bahkan, Rasulullah ๏ทบ pun telah mengingatkan keras tentang bahaya riya'. Beliau bersabda, ada golongan manusia yang di hari Kiamat kelak akan dihisab pertama kali, padahal di dunia mereka tampak beramal besar, namun semua itu hancur karena niat riya' mereka:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูŠูู‚ู’ุถูŽู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุงุณู’ุชูุดู’ู‡ูุฏูŽ ููŽุฃูุชููŠูŽ ุจูู‡ู ููŽุนูŽุฑู‘ูŽููŽู‡ู ู†ูุนูŽู…ูŽู‡ู ููŽุนูŽุฑูŽููŽู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู…ูŽุง ุนูŽู…ูู„ู’ุชูŽ ูููŠู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงุชูŽู„ู’ุชู ูููŠูƒูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุงุณู’ุชูุดู’ู‡ูุฏู’ุชู ู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูŽุฐูŽุจู’ุชูŽ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู‘ูŽูƒูŽ ู‚ูŽุงุชูŽู„ู’ุชูŽ ู„ูุฃูŽู†ู’ ูŠูู‚ูŽุงู„ูŽ ุฌูŽุฑููŠุกูŒ ููŽู‚ูŽุฏู’ ู‚ููŠู„ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูู…ูุฑูŽ ุจูู‡ู ููŽุณูุญูุจูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูˆูŽุฌู’ู‡ูู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฃูู„ู’ู‚ููŠูŽ ูููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู

โ€œSesungguhnya orang yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid, lalu dia didatangkan, kemudian Allah memperlihatkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya, lalu dia mengakuinya. Allah bertanya, โ€˜Apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?โ€™ Dia menjawab, โ€˜Aku berperang karena-Mu hingga aku mati syahid.โ€™ Allah berfirman, โ€˜Kamu dusta. Kamu berperang agar dikatakan pemberani, dan sungguh telah dikatakan demikian.โ€™ Lalu diperintahkan agar dia diseret di atas mukanya hingga dilemparkan ke neraka.โ€ (HR. Muslim)

Hadits ini, yang juga menyebutkan nasib serupa bagi ahli ilmu dan dermawan yang beramal karena riya', adalah tamparan keras bagi setiap hati yang masih mencari panggung di hadapan manusia. Ia mengingatkan kita bahwa yang terpenting bukanlah apa yang terlihat, melainkan apa yang tersembunyi di relung hati. Keikhlasan adalah kunci. Ia adalah fondasi setiap ibadah dan kebaikan yang akan membawa kita pada ketenangan sejati dan keridhaan Allah.

Maka, mari kita renungkan kembali. Adakah amal-amal kita, sekecil apapun, yang masih menyimpan bibit riya'? Mari kita bersihkan hati, fokuslah pada hubungan kita dengan Sang Pencipta, dan biarkan Dia saja yang menjadi saksi atas setiap langkah kebaikan kita. Ketahuilah, hati yang tenang adalah hati yang tak lagi sibuk mencari tepuk tangan manusia, melainkan hati yang sepenuhnya bersandar pada Dzat Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an โ€” klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.

Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Renungan Mahabbah

Mengapa Hati Terasa Kosong Meski Sudah Berkorban Banyak? Kuncinya Ada pada Rindu Nabi ๏ทบ

28 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Sandal Jepit Putus Menjadi Guru Hikmah: Refleksi Tawakkal dalam Keseharian

28 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan

28 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Terjebak Lingkaran Cicilan? Begini Cara Qana'ah Membebaskan Hati

27 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Hati Anak Muda Merasa Hampa: Menemukan Makna Sejati Lewat Mahabbah

27 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Ibadah Jadi Ajang Lomba: Benarkah Itu Teladan Rasulullah ๏ทบ?

27 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Kekhawatiran Memeluk Hati: Ibu Tangguh Mencari Berkah dalam Keterbatasan

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Resep Ketenangan Ala Rasulullah ๏ทบ: Mengapa 'Healing' Modern Sering Kali Gagal?

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Makrifat: Ketika Hati Melampaui Ritual, Menemukan 'Mengapa' di Balik Kehidupan

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Zuhud Nabi Isa: Ketika Harta dan Derajat Tak Lagi Menjadi Ukuran Hati

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Cermin Diri yang Terlupakan: Hikmah Muhasabah di Tengah Gelombang Penilaian

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Mengapa Hati Masih Tercekik Cemas, Meski Pandemi Telah Berlalu?

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Mawaddah fil Qurbฤ: Konsep Cinta Ahlul Bait yang Menghidupkan Hati

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Inna Lillahi: Mengajarkan Hakikat Kembali kepada Anak di Tengah Duka

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Mengapa Anak Sulit Menepati Janji? Hikmah Amanah untuk Hati yang Tenang

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Anak Sulit Diatur: Mengapa Adab Harus Diajarkan Sejak Balita?

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Keberhasilan Saudara Justru Membakar Hati: Mengurai Simpul Dengki

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Kalah Debat, Menang Hati: Hikmah Meninggalkan Perdebatan Tak Perlu

26 Jun 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

AKTIVITAS JAMAAH baru saja
Memuat...

Live Statistik

Realtime
Sholawat Hari Ini ...
Khatam Quran ...
Jadwal Sholat Sidoarjo --
SUBUH
--:--
DZUHUR
--:--
ASHAR
--:--
MAGHRIB
--:--
ISYA
--:--