Jam 11 malam, kamu masih membolak-balik laporan keuangan pribadi, mengamati angka-angka yang seolah tak pernah berpihak. Atau, mungkin kamu baru saja pulang dari serangkaian terapi panjang untuk penyakit yang tak kunjung membaik, setelah segala upaya dan pengorbanan telah dikerahkan. Di tengah semua ikhtiar yang sudah mencapai puncaknya itu, seringkali ada pertanyaan yang menggantung di relung hati: Mengapa rasa cemas dan gelisah ini tak juga sirna? Bukankah tawakal seharusnya datang setelah usaha?
Dalil
Allah berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
Artinya: Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS. At-Talaq: 2)
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang istiqomah, meskipun sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)
Keresahan semacam ini adalah pengalaman universal, sebuah pergulatan batin yang jujur. Kita seringkali memahami tawakal sebagai 'pasrah', namun seringkali salah kaprah menempatkannya sebagai pilihan 'setelah tak ada lagi yang bisa dilakukan'. Padahal, dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, tawakal bukanlah kemalasan yang menunggu mukjizat, melainkan sebuah 'maqam' atau stasiun hati yang tinggi, yang justru tumbuh subur di atas ladang ikhtiar yang maksimal.
Imam Al-Ghazali dalam karyanya, 'Ihya' Ulumuddin', menjelaskan bahwa tawakal adalah 'i'timadul qalb' — ketergantungan hati yang sepenuhnya kepada Allah, disertai dengan keyakinan penuh bahwa segala urusan ada di tangan-Nya, setelah seseorang menunaikan sebab-sebab yang mampu ia lakukan. Ini bukan berarti meniadakan usaha, melainkan membebaskan hati dari ketergantungan pada hasil usaha itu sendiri. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali 'Imran: 159)
Ayat ini jelas menunjukkan bahwa perintah tawakal datang setelah 'memancangkan tekad' (azam) dan bermusyawarah, yang mengimplikasikan usaha dan perencanaan. Tawakal sejati adalah ketika tangan kita bekerja keras, namun hati kita berserah penuh pada kebijaksanaan Ilahi, menerima apa pun hasilnya dengan lapang dada. Seperti sabda Rasulullah ﷺ ketika ditanya tentang mengikat unta atau langsung tawakal: “Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi). Ini adalah penegasan bahwa ikhtiar dan tawakal berjalan beriringan, bukan saling meniadakan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam 'Madarijus Salikin' bahkan menguraikan tawakal sebagai salah satu 'manzilah' (persinggahan) penting dalam perjalanan spiritual. Ia menjelaskan bahwa tawakal adalah buah dari keyakinan (iman) yang kokoh, yang membebaskan hati dari belenggu kekhawatiran terhadap masa depan dan keterikatan pada makhluk. Ketika kita sudah mengerahkan segala daya upaya, namun hasil masih samar, di sanalah letak ujian tawakal. Bukan pada upaya itu sendiri, melainkan pada kemampuan hati untuk melepaskan kendali atas hasil, seraya tetap yakin bahwa takdir Allah adalah yang terbaik, bahkan jika itu tidak sesuai dengan keinginan kita.
Maka, jika hati masih gelisah meski ikhtiar sudah maksimal, mungkin saatnya kita meninjau ulang bukan pada kurangnya usaha, melainkan pada kualitas tawakal kita. Apakah kita benar-benar telah menyerahkan hasil kepada Sang Maha Pengatur, ataukah masih menggenggam erat harapan akan hasil tertentu? Tawakal yang benar akan membawa kedamaian, sebuah ketenangan batin yang tak tergoyahkan oleh pasang surutnya kehidupan. Ia adalah mahabbah, cinta kepada Allah yang membuat kita percaya penuh pada pilihan-Nya, apa pun bentuknya.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.