Pernahkah kamu pulang dari sebuah acara, entah reuni keluarga atau pertemuan komunitas, dengan perasaan campur aduk? Ada rasa lelah yang bukan fisik, tapi batin. Mungkin karena diam-diam kamu membandingkan diri dengan pencapaian orang lain, atau tanpa sadar, ada bisikan halus di hati yang menilai rendah orang yang 'tidak selevel' denganmu. Perasaan ini, seringkali tak terucap, namun menggerogoti ketenangan dan merenggangkan benang ukhuwah.
Keresahan semacam ini bukan hal baru. Sejak zaman dahulu, para ulama tasawuf telah memperingatkan bahaya penyakit hati yang satu ini: merasa diri lebih baik dari orang lain. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin banyak mengupas tentang 'ujub (kagum pada diri sendiri) dan takabbur (sombong) sebagai hijab antara hamba dengan Tuhannya, juga antara hamba dengan sesamanya. Penyakit ini membuat kita lupa bahwa kemuliaan sejati bukan pada jabatan, kekayaan, atau gelar, melainkan pada ketakwaan dan kebersihan hati.
Allah SWT sendiri telah melarang keras sikap merendahkan sesama. Dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini adalah pengingat tegas bahwa kita tidak pernah tahu hakikat seseorang di mata Allah. Status duniawi hanyalah ujian dan titipan, bukan penentu nilai seorang hamba. Justru, sikap merendahkan orang lain adalah cerminan dari kesombongan, sebuah penyakit hati yang sangat dibenci. Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim)
Hadits ini menohok jiwa kita. Bagaimana mungkin kita bisa berharap surga jika hati masih menyimpan setitik kesombongan, termasuk dalam bentuk merendahkan orang lain? Para ulama seperti Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengajarkan pentingnya memandang setiap makhluk dengan pandangan kasih sayang dan tawadhu'. Setiap orang memiliki potensi kebaikan dan rahasia hubungan dengan Tuhannya yang kita tidak ketahui. Dengan menahan diri dari menghakimi dan merendahkan, kita membuka pintu mahabbah dan ukhuwah sejati, sebagaimana yang diajarkan oleh baginda Nabi ﷺ.
Maka, mari kita rawat hati ini dari bisikan kesombongan dan perasaan tinggi diri. Mari kita belajar memandang sesama bukan dari kacamata status duniawi, melainkan dari lensa kemanusiaan dan persaudaraan. Ini adalah langkah kecil namun konsisten untuk membangun hati yang lebih bersih, lebih dekat kepada Allah, dan lebih mencintai Rasulullah ﷺ.
Bergabung sebagai pejuang: Belajar istiqomah bersama di member.alfatihrps.com — sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.