Pernahkah Anda mendapati anak pulang sekolah dengan wajah murung, lalu berucap lirih, “Temanku punya sepatu baru, lebih bagus dari punyaku,” atau “Nilai ujianku biasa saja, padahal si Fulan dapat ranking satu”? Sebagai orang tua, hati kita ikut teriris. Bukan karena tak mampu memberi, tapi karena melihat bibit kegelisahan mulai tumbuh: membandingkan diri, merasa kurang, padahal mungkin segala upaya telah kita curahkan untuk membahagiakan mereka.
Keresahan ini bukan hanya milik anak-anak. Jauh di lubuk hati, kita pun seringkali merasakan hal serupa. Lingkaran perbandingan tak berujung, entah dengan tetangga, rekan kerja, atau bahkan melihat pencapaian orang lain di media sosial, seolah terus menggerus rasa syukur. Ini adalah 'penyakit hati' yang perlahan merampas kedamaian, membuat apa yang ada terasa tidak cukup, dan melupakan hakikat karunia Allah yang tak terhingga.
Hikmah Qana'ah: Kekayaan Hati yang Abadi
Dalam khazanah tasawuf, para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah telah lama membahas akar masalah ini. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin, misalnya, menekankan pentingnya qana'ah, yaitu sikap menerima dan puas dengan apa yang Allah karuniakan, sekalipun sedikit. Qana'ah bukan berarti pasif tanpa usaha, melainkan sebuah kemewahan batin yang membebaskan hati dari belenggu perbandingan dan kecemasan akan dunia.
Sikap ini adalah cerminan dari pemahaman mendalam akan takdir dan hikmah Allah. Ketika hati kita terbiasa membandingkan, kita sebenarnya sedang menentang ketetapan-Nya, seolah rezeki atau nikmat yang diberikan kepada orang lain lebih pantas untuk kita. Padahal, Allah ﷻ telah berfirman dalam Al-Qur'an:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengannya. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)
Ayat ini adalah peringatan lembut agar kita tidak terpukau oleh gemerlap dunia orang lain, sebab itu hanyalah ujian. Rezeki dari Tuhanmu, yaitu keimanan, ketenangan hati, dan karunia akhirat, jauh lebih baik dan abadi.
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Melatih Hati untuk Melihat ke Bawah
Lalu, bagaimana kita menanamkan qana'ah ini pada diri dan anak-anak kita? Rasulullah ﷺ memberikan petunjuk yang sangat jelas dan praktis. Beliau bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.” (HR. Muslim)
Hadits ini, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bukan sekadar anjuran, melainkan resep batin untuk mengobati penyakit perbandingan. Dengan melihat mereka yang kurang beruntung, hati kita akan tergerak untuk bersyukur atas segala nikmat yang seringkali kita anggap remeh. Ini adalah latihan mental dan spiritual yang harus dibiasakan sejak dini, baik pada diri sendiri maupun anak-anak.
Membangun Mahabbah: Fondasi Hati yang Kaya
Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan kita bahwa kekayaan sejati bukanlah pada banyaknya harta, melainkan pada kekayaan hati yang terbebas dari ketergantungan pada selain Allah. Melatih hati untuk qana'ah berarti menggeser fokus dari 'apa yang orang lain miliki' menjadi 'apa yang Allah telah anugerahkan kepadaku'. Ini adalah fondasi kuat untuk membangun mahabbah (cinta) kepada Allah dan Rasul-Nya, karena cinta sejati membawa ketenangan dan penerimaan tanpa syarat.
Pembinaan hati seperti ini memerlukan konsistensi. Bukan dengan tekanan, bukan pula dengan janji-janji berlebihan, melainkan dengan langkah-langkah kecil yang istiqomah. Ketika hati dipenuhi mahabbah kepada Rasulullah ﷺ melalui sholawat, dan dibasahi dengan ayat-ayat Al-Qur'an, ia akan menemukan kekayaan yang tak dapat digantikan oleh perbandingan duniawi. Hati yang kaya adalah hati yang bersyukur, menerima, dan mencintai, bukan hati yang selalu merasa kurang.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.