Jam delapan malam. Laptop sudah tertutup, namun mata masih terasa berat. Niat hati ingin membacakan buku cerita untuk si kecil, tetapi ia justru asyik menatap layar gawai yang memancarkan cahaya biru. Ada rasa lelah yang menusuk, juga secuil kegagalan: โMengapa sulit sekali membangun kebiasaan ini?โ Hati seorang ibu atau ayah mungkin berbisik, khawatir akan masa depan anak yang tergerus oleh distraksi digital, sementara koneksi batin terasa semakin renggang.
Keresahan ini bukan sekadar tentang buku yang teronggok. Ini adalah cerminan dari pertarungan batin yang lebih besar: bagaimana menjaga fitrah anak untuk mencintai ilmu dan refleksi di tengah arus informasi yang serba cepat? Bagaimana menanamkan bibit keistiqomahan dalam hati mereka, agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat dan berilmu? Kita sering lupa, pendidikan sejati (tarbiyah) bukan hanya transfer informasi, melainkan pembinaan jiwa secara menyeluruh.
Dalam kearifan Ahlus Sunnah wal Jamaah, kebiasaan kecil yang konsisten, atau yang kita kenal sebagai istiqomah, adalah fondasi utama pembangunan jiwa. Bukan hanya dalam ibadah ritual, melainkan juga dalam setiap aspek kehidupan, termasuk mendidik anak. Imam Al-Ghazali, dalam Ihyaโ Ulumuddin, sering menekankan pentingnya riyadhah an-nafs (latihan jiwa) sejak dini, yang mencakup pembiasaan diri pada akhlak mulia dan kecintaan pada ilmu. Membaca buku bersama adalah salah satu bentuk riyadhah yang menumbuhkan ketenangan, fokus, dan imajinasi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri memerintahkan kita untuk senantiasa memohon tambahan ilmu, sebagaimana firman-Nya:
ููููู ุฑููุจูู ุฒูุฏูููู ุนูููู
ูุง
(Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.') (QS. Taha: 114). Ayat ini bukan hanya seruan untuk mencari ilmu secara formal, tetapi juga untuk menumbuhkan dahaga akan pengetahuan dalam setiap kesempatan, termasuk melalui cerita dan bacaan yang kita suguhkan kepada anak-anak. Rasulullah ๏ทบ juga mengingatkan kita akan tanggung jawab besar sebagai orang tua. Beliau bersabda: ูููููููู
ู ุฑูุงุนู ูููููููููู
ู ู
ูุณูุฆูููู ุนููู ุฑูุนููููุชููู
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
(Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.) (HR. Bukhari dan Muslim). Memimpin keluarga berarti juga bertanggung jawab atas pembinaan akal dan hati anak-anak kita.Membangun kebiasaan membaca bersama anak adalah manifestasi dari mahabbah (cinta) yang tulus. Ini adalah investasi jangka panjang yang melampaui sekadar angka halaman atau judul buku. Ini tentang kehadiran, tentang waktu berkualitas yang kita berikan, tentang membangun jembatan komunikasi, dan menanamkan nilai-nilai luhur melalui kisah. Ketika kita duduk bersama, membaca, dan berdiskusi, kita sedang membangun ukhuwah (persaudaraan) dalam lingkup keluarga, menciptakan memori indah yang akan mengikat hati mereka pada kebaikan dan ilmu.
Maka, janganlah merasa kalah di awal. Mulailah dengan langkah kecil yang konsisten, tanpa tekanan berlebihan, dan tanpa ajang pamer jumlah buku. Cukup lima atau sepuluh menit setiap malam, dengan hati yang ikhlas dan penuh cinta. Biarkan anak melihat kita sendiri menikmati membaca, karena teladan adalah guru terbaik. Dari kebiasaan kecil inilah, insya Allah, akan tumbuh generasi yang mencintai ilmu, merindukan hikmah, dan pada akhirnya, menjadi perindu sejati Rasulullah ๏ทบ.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an โ klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.