Jam-jam kerja yang panjang dan tuntutan profesional seringkali membuat kita merasa harus serba cepat dan mandiri. Kita terbiasa mencari solusi instan dari mesin pencari, merasa tak butuh lagi 'wejangan' dari orang yang lebih tua atau berilmu. Namun, pernahkah perasaan hampa itu tetap menyergap, meski semua 'solusi' sudah dicoba? Seolah ada kepingan yang hilang, sebuah kedamaian batin yang tak kunjung terengkuh, padahal semua informasi sudah di genggaman.
Keresahan ini seringkali berakar pada hilangnya adab, khususnya dalam mencari ilmu dan bimbingan. Di tengah banjir informasi, kita cenderung meremehkan peran guru, ulama, atau bahkan orang tua yang secara spiritual dan pengalaman hidup lebih matang. Kita lupa bahwa ilmu yang sejati, yang mampu menenangkan hati, bukan sekadar data yang diunduh, melainkan cahaya yang diturunkan melalui mata rantai keilmuan yang tersambung hingga Rasulullah ﷺ.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin mengingatkan betapa vitalnya posisi guru. Beliau menyebutkan bahwa seorang murid harus menyerahkan kendali dirinya kepada guru, layaknya pasien kepada dokter yang ahli. Sikap ini, yang disebut adab al-thalib, bukan berarti menumpulkan akal, melainkan membuka hati untuk menerima pancaran hikmah yang tak bisa didapatkan hanya dari buku atau internet. Tanpa kerendahan hati dan penghormatan, ilmu bisa jadi hanya menambah beban pikiran, bukan penerang jiwa.
Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri meninggikan derajat orang-orang yang berilmu, menunjukkan bahwa ilmu itu memiliki nilai spiritual yang agung, bukan sekadar kecerdasan duniawi. Firman-Nya:
يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Para ulama adalah pewaris para Nabi. Mereka membawa amanah ilmu yang bukan hanya sekadar teori, melainkan juga akhlak dan petunjuk hidup. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sempurna.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Menghormati guru dan ulama bukan berarti meniadakan akal sehat kita, melainkan menempatkan mereka pada posisi yang layak sebagai jembatan ilmu dan kearifan. Ini adalah tentang menumbuhkan mahabbah, cinta yang tulus kepada mereka yang membimbing kita mendekat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan adab, hati kita menjadi lebih lapang, lebih siap menerima hidayah, dan akhirnya menemukan kedamaian yang selama ini dicari di tengah hiruk-pikuk dunia.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.