Pernahkah kamu merasa lelah luar biasa setelah seharian bekerja, namun malam hari di rumah justru disambut 'perang kecil' dengan anak-anak yang sulit diajak tidur? Tangisan, rengekan, atau drama sebelum tidur seringkali membuat energi terkuras habis, dan kita pun ikut terlarut dalam kegelisahan yang sama. Lingkaran kelelahan ini bukan hanya fisik, melainkan juga menyentuh relung batin, membuat hati orang tua ikut gersang dan sulit menemukan ketenangan.
Keresahan ini bukanlah hal baru. Jauh sebelum hiruk pikuk hidup modern, para ulama telah berbicara tentang pentingnya ‘sakīnah’ atau ketenangan batin, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai fondasi keharmonisan keluarga. Ketika orang tua sendiri diliputi kegelisahan, gelombang emosi itu seringkali tanpa sadar merambat pada anak-anak. Rutinitas malam yang seharusnya menjadi gerbang menuju istirahat, justru menjadi panggung bagi konflik dan kelelahan batin yang berulang.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin banyak mengupas tentang bagaimana hati yang tenang adalah kunci kebahagiaan sejati, dan ini dimulai dari pembinaan diri. Bagi orang tua, pembinaan hati ini menjadi krusial. Bukan sekadar mengatur jadwal tidur anak, melainkan membangun sebuah atmosfer yang kondusif untuk ketenangan, baik bagi anak maupun bagi diri sendiri. Ini adalah upaya menghadirkan ‘sakīnah’ secara sengaja, bukan hanya menunggu ia datang.
Lantas, bagaimana kita bisa menghadirkan ketenangan itu di tengah riuhnya malam? Al-Qur'an telah memberikan petunjuk yang terang benderang. Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28)
Ayat ini menegaskan bahwa sumber ketenangan sejati adalah dzikrullah, mengingat Allah. Ini bisa diwujudkan dalam rutinitas malam yang sederhana namun penuh makna: membaca Al-Qur'an bersama, atau mengakhiri hari dengan sholawat. Bayangkan, bukan sekadar cerita pengantar tidur, tapi lantunan ayat suci atau pujian kepada Rasulullah ﷺ yang mengisi ruang, menenangkan jiwa yang lelah, dan menanamkan bibit mahabbah sejak dini.
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Rasulullah ﷺ sendiri bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ
“Siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)
Hadits ini bukan hanya janji pahala, melainkan juga sumber keberkahan dan ketenangan yang melimpah. Ketika kita membiasakan sholawat dan tadarus Al-Qur'an dalam rutinitas malam anak, kita sedang mengundang rahmat dan ketenangan Allah untuk hadir di tengah keluarga. Ini adalah upaya menanamkan cinta kepada Rasulullah ﷺ, agar anak-anak tumbuh menjadi generasi perindu beliau, yang hatinya terpaut pada kebaikan dan kedamaian.
Membangun rutinitas malam yang menenangkan bagi anak bukanlah tentang kesempurnaan, melainkan tentang konsistensi dan niat tulus untuk membina hati. Dimulai dari langkah kecil, tanpa tekanan, tanpa janji berlebihan, hanya murni pembinaan hati. Ini adalah investasi jangka panjang untuk 'sakīnah' keluarga, dan untuk menumbuhkan 'mahabbah' kepada Rasulullah ﷺ dalam setiap anggota keluarga.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.