Jam lima sore, pekerjaan di kantor belum rampung, notifikasi grup keluarga ramai, dan pikiranmu sudah melayang ke daftar tugas rumah yang tak ada habisnya. Azan Magrib berkumandang, namun masjid terasa seperti tujuan yang jauh, bukan pelabuhan hati. Kita seringkali melangkah ke rumah-Nya, menunaikan kewajiban, namun mengapa ada rasa asing yang menyelimuti, seolah hati belum sepenuhnya ‘pulang’?
Keresahan ini bukan hal baru. Banyak dari kita yang merasa demikian: kewajiban shalat ditunaikan, namun getaran cinta dan kerinduan pada masjid sebagai rumah Allah belum sepenuhnya hadir. Masjid seringkali hanya menjadi tempat singgah sesaat, bukan oase spiritual yang menenangkan dari hiruk pikuk dunia. Padahal, seharusnya ia adalah pusat ketenangan, tempat kita menambatkan jiwa pada Sang Pencipta.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskan siapa saja yang layak memakmurkan rumah-Nya. Bukan sekadar membangun fisik, melainkan membangun koneksi hati.
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)
Ayat ini bukan hanya tentang fisik bangunan, melainkan tentang kualitas iman yang melahirkan mahabbah (cinta) kepada-Nya, yang kemudian termanifestasi dalam kecintaan pada rumah-Nya. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya yang agung, Ihya' Ulumuddin, seringkali mengingatkan bahwa inti dari segala ibadah adalah mahabbah. Tanpa cinta, ibadah hanya akan menjadi rutinitas tanpa jiwa. Maka, kecintaan pada masjid adalah cerminan dari kecintaan kita kepada Allah dan segala yang dicintai-Nya.
Baca Juga
Ketika Hati Anak Muda Merasa Hampa: Menemukan Makna Sejati Lewat Mahabbah
Cinta yang tulus ini, bukan sekadar kunjungan fisik, adalah tanda keimanan yang dalam. Rasulullah ﷺ bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ: الإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ، وَرَجُلانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabb-nya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita cantik dan berkedudukan lalu ia berkata: ‘Aku takut kepada Allah’, seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya, dan seorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan, salah satu dari tujuh golongan mulia itu adalah “seorang laki-laki yang hatinya terpaut pada masjid”. Ini bukan tentang seberapa sering ia datang, melainkan seberapa kuat ikatan hatinya dengan rumah Allah. Ia merindukannya, merasa damai di dalamnya, dan menjadikannya tempat berlindung dari segala kegelisahan dunia. Ini adalah cerminan mahabbah yang sejati, yang menjadikan masjid sebagai bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupannya.
Maka, bagaimana kita menumbuhkan mahabbah ini di tengah hiruk pikuk kehidupan? Bukan dengan paksaan, melainkan dengan langkah kecil yang konsisten, dimulai dari niat tulus untuk mendekat kepada-Nya. Setiap langkah menuju masjid adalah langkah menuju ketenangan. Setiap sholawat yang terucap di dalamnya adalah penguat cinta kepada Rasulullah ﷺ. Setiap ayat Al-Qur'an yang terbaca adalah cahaya yang menerangi hati. Ini adalah pembinaan hati (mahabbah) yang tak bisa instan, namun butuh istiqomah.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.