Jam lima sore, notifikasi kalender mengingatkanmu tentang 'target baca Quran hari ini', tapi mata sudah berat dan pikiran masih penuh revisi kerjaan yang belum kelar. Kamu tahu sunnah itu baik, tapi entah mengapa, niat untuk sekadar shalat Dhuha atau membaca wirid harian terasa seperti beban tambahan, bukan lagi oase yang menenangkan. Hati merasa gersang, padahal secara fisik kita sudah 'melakukan' banyak hal baik.
Keresahan ini bukan tanpa alasan. Seringkali, kita terjebak dalam paradigma bahwa amalan sunnah adalah daftar tugas yang harus dicentang, kewajiban yang harus ditunaikan agar 'selamat' atau 'mendapat pahala'. Padahal, inti dari setiap ibadah, khususnya sunnah Rasulullah ﷺ, adalah membangun jembatan cinta, sebuah hubungan mesra dengan Sang Pencipta melalui teladan kekasih-Nya. Tanpa mahabbah, tanpa cinta yang tulus, amalan hanya akan menjadi rutinitas kosong yang membebani, bukan menenangkan.
Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, berulang kali menekankan bahwa puncak dari setiap ibadah adalah mahabbah, yaitu kecintaan yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Beliau menjelaskan, “Cinta kepada Allah adalah inti dari segala kebahagiaan, dan ibadah tanpa cinta adalah tubuh tanpa ruh.” Sunnah Nabi ﷺ, jika dipahami dari perspektif ini, bukanlah sekadar aturan, melainkan ekspresi konkret dari cinta tersebut. Setiap langkah, setiap ucapan, setiap gerak-gerik beliau adalah manifestasi mahabbah yang sempurna.
Lalu, bagaimana kita menumbuhkan cinta ini agar sunnah tidak lagi terasa berat? Kuncinya ada pada penghayatan bahwa mengikuti sunnah adalah jalan untuk dicintai oleh Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali 'Imran: 31). Ayat ini dengan jelas menegaskan bahwa mengikuti jejak Rasulullah ﷺ adalah bukti sekaligus jalan untuk meraih cinta Allah. Setiap sunnah yang kita lakukan, sekecil apa pun, adalah upaya mendekatkan diri kepada-Nya, meneladani pribadi yang paling dicintai-Nya.
Baca Juga
Ketika Hati Anak Muda Merasa Hampa: Menemukan Makna Sejati Lewat Mahabbah
Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tuntutan ini, mungkin kita merasa sulit melakukan banyak amalan sunnah sekaligus. Namun, Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan prinsip istiqomah yang amat relevan. Beliau bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin dilakukan, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini adalah penawar bagi hati yang merasa terbebani. Tidak perlu menunggu waktu luang yang sempurna atau kondisi ideal. Mulailah dengan langkah kecil yang konsisten, misalnya sholawat sepuluh kali sehari, atau membaca satu halaman Al-Qur'an setiap usai shalat fardhu. Yang terpenting adalah keberlangsungan dan kehadiran hati dalam setiap amalan.
Maka, mari kita ubah cara pandang terhadap amalan sunnah. Ia bukan lagi beban, melainkan undangan untuk merajut cinta, membangun mahabbah yang sejati kepada Rasulullah ﷺ. Dengan cinta, setiap sholawat yang terucap, setiap ayat Al-Qur'an yang terbaca, setiap sunnah yang terlaksana, akan terasa ringan dan justru menjadi energi pengisi jiwa. Inilah pembinaan hati yang sesungguhnya, tanpa tekanan, tanpa janji berlebihan, dan tanpa ajang pamer jumlah, murni karena rindu dan ingin dekat dengan Sang Kekasih.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.