Pagi itu, suara tangisan pecah lagi. Anakmu, yang biasanya ceria, tiba-tiba memeluk kakimu erat, menggelengkan kepala, dan berkata, “Aku tidak mau sekolah.” Hati orang tua mana yang tak teriris? Pikiranmu berkecamuk: apakah ia sakit? Apakah nilainya buruk? Atau, yang paling sering membuat dada sesak, apakah ada masalah pertemanan yang tak mampu ia ceritakan? Beban kerja yang menumpuk di kantor terasa ringan dibanding beban batin melihat si kecil merana.
Keresahan ini bukan sekadar drama anak-anak. Di balik penolakan sekolah, seringkali tersembunyi luka batin yang dalam, sebuah perasaan 'tidak diterima' atau 'kesepian' yang bahkan orang dewasa pun sulit menanggungnya. Bagi anak, lingkungan sekolah adalah dunia sosial pertamanya di luar keluarga, tempat ia belajar berinteraksi, berbagi, dan menemukan identitas. Ketika dunia itu terasa kejam karena perundungan, pengucilan, atau konflik yang belum bisa ia hadapi, sekolah bisa menjelma menjadi penjara yang menakutkan.
Dalam Islam, kita diajarkan tentang urgensi memilih teman dan lingkungan yang baik, bahkan sejak dini. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an, menggambarkan penyesalan seseorang di Hari Kiamat karena salah memilih sahabat:
يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
Terjemahan: “Aduhai celakanya aku, sekiranya aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur'an) ketika (peringatan) itu telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak akan menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 28-29). Ayat ini, meski konteksnya luas, mengingatkan kita betapa fundamentalnya pengaruh pertemanan terhadap jiwa seseorang, bahkan sejak usia belia. Sebagai orang tua, kita adalah penjaga gerbang hati anak-anak kita dari pengaruh yang menyesatkan.
Imam Al-Ghazali, dalam *Ihya' Ulumuddin*, menekankan pentingnya mendidik anak dengan akhlak mulia dan menjaga hati mereka dari bibit-bibit keburukan sejak dini. Beliau melihat bahwa hati anak adalah lahan kosong yang siap menerima apa pun yang ditanamkan padanya. Jika lingkungan pertemanannya buruk, maka akan tumbuh benih-benih yang tidak baik. Senada, Rasulullah ﷺ bersabda:
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
Terjemahan: “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu (minyak wangi itu), atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau busuk darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini secara gamblang menggambarkan bagaimana teman bisa membentuk karakter dan memengaruhi jiwa, baik secara positif maupun negatif.
Maka, menghadapi anak yang enggan sekolah karena pertemanan, langkah pertama bukanlah menghakimi atau memaksa, melainkan hadir dengan hati. Duduklah, dengarkanlah keluh kesahnya tanpa interupsi, tanpa meremehkan perasaannya. Biarkan ia merasa 'dilihat' dan 'dipahami'. Meneladani Rasulullah ﷺ dalam kelembutan dan kebijaksanaan adalah kunci. Beliau tak pernah terburu-buru menghakimi, melainkan selalu mencari akar masalah dengan kasih sayang. Dari sana, kita bisa membimbingnya mencari solusi, entah dengan mediasi, mencari teman baru, atau bahkan mempertimbangkan lingkungan sekolah yang lebih sesuai.
Perjalanan mendidik anak adalah perjalanan pembinaan hati, bukan hanya bagi mereka, tapi juga bagi kita sebagai orang tua. Untuk bisa menjadi pembimbing yang sabar dan bijaksana, hati kita pun perlu disirami. Sholawat kepada Rasulullah ﷺ dan tadarus Al-Qur'an adalah dua lentera yang menerangi hati, menenangkan jiwa yang gelisah, dan memohon petunjuk dari Sang Pencipta dalam setiap langkah pengasuhan.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.