Jam sembilan malam. Tirai jendela sudah tertutup rapat, tapi suara di ruang tengah masih saja melaju. Adikmu yang baru berusia lima tahun, meringkuk di balik selimut, matanya terpejam erat, namun telinganya menangkap setiap nada tinggi, setiap kalimat yang menusuk. Ia tak mengerti apa itu ‘tagihan’ atau ‘tanggung jawab’, tapi ia merasakan getaran ketegangan yang merobek ketenangan rumah. Mungkin ia hanya bisa berharap, esok pagi, semuanya kembali seperti semula, tanpa harus ada ketakutan yang mengendap di relung hatinya.
Momen-momen genting seperti itu, ketika emosi memuncak dalam perselisihan rumah tangga, seringkali membuat kita lupa akan kehadiran mata-mata kecil yang merekam setiap detail. Kita mungkin berpikir anak-anak tidak memahami substansi masalah, namun mereka sangat peka terhadap atmosfer emosional. Suara yang meninggi, kata-kata yang tajam, atau bahkan hening yang penuh amarah, semuanya terinternalisasi dalam jiwa mereka yang masih polos. Ini bukan sekadar tentang 'tidak berdebat di depan anak', melainkan tentang menjaga amanah hati dan jiwa yang Allah titipkan melalui mereka.
Dalam kacamata hikmah, menjaga lisan di depan anak, terutama saat berhadapan dengan pasangan, adalah manifestasi dari adab yang mendalam dan ihsan dalam berinteraksi. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin banyak mengulas tentang pentingnya menjaga lisan sebagai cerminan hati. Beliau menegaskan bahwa lisan adalah penerjemah hati, dan jika hati bersih, maka lisan pun akan berkata baik. Debat yang tak terkendali di depan anak menunjukkan bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi dari kedalaman hati kita, sebuah muhasabah (introspeksi) yang mendesak.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Artinya: "Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisa: 19). Ayat ini bukan hanya tentang hubungan suami istri, tetapi juga tentang bagaimana interaksi kita membentuk lingkungan, terutama bagi anak-anak. Bergaul secara patut berarti menjaga kehormatan, termasuk dalam ucapan, bahkan di tengah perbedaan pendapat.
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Rasulullah ﷺ, sebagai teladan sempurna, mengajarkan kita untuk selalu menjaga lisan. Sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim menyatakan:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menjadi pengingat yang begitu kuat. Dalam konteks rumah tangga, ia bukan sekadar anjuran, melainkan pondasi bagi pembentukan karakter anak. Setiap kata yang kita ucapkan, apalagi dalam amarah, adalah cetakan yang akan membentuk persepsi anak tentang cinta, konflik, dan bagaimana orang dewasa menyelesaikan masalah.
Memilih untuk menahan lisan, mencari tempat yang lebih privat untuk menyelesaikan perselisihan, atau bahkan menunda perdebatan hingga hati lebih tenang, adalah bentuk mujahadah (perjuangan spiritual) yang mulia. Ini adalah upaya kita untuk menciptakan rumah yang bukan hanya bangunan fisik, melainkan juga madrasah pertama bagi anak-anak, tempat mereka belajar tentang kasih sayang, kesabaran, dan bagaimana menghadapi perbedaan dengan adab. Dengan demikian, kita sedang membangun generasi perindu Rasulullah ﷺ, yang hatinya terbiasa dengan ketenangan dan lisannya terjaga dari hal-hal yang tidak bermanfaat.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.