Baru saja selesai meeting daring yang menguras energi, jari-jari otomatis menyentuh ikon media sosial. Belum semenit scroll, sebuah unggahan yang menyulut emosi muncul di linimasa. Jantung berdegup, napas memburu, dan jempol sudah siap mengetik balasan pedas, seolah harga diri dipertaruhkan di sana. Pernahkah Anda merasakan gejolak serupa, di mana keinginan untuk segera membalas jauh lebih kuat daripada pertimbangan akal sehat?
Keresahan ini bukan sekadar masalah etika digital, melainkan cerminan dari kegersangan batin. Kita terbiasa mencari validasi atau melampiaskan kekesalan di ruang maya, berharap respons cepat akan membawa kelegaan. Namun, seringkali yang datang justru penyesalan, konflik yang memanjang, dan energi yang terkuras. Kedamaian hati yang seharusnya menjadi aset berharga, mendadak raib ditelan riuhnya perdebatan yang tak berujung, hanya karena kita gagal menahan diri dari reaksi spontan.
Dalam khazanah tasawuf, para ulama mengajarkan pentingnya murāqabah, yakni kesadaran diri yang terus-menerus akan kehadiran Allah, dan muhasabah, introspeksi diri atas setiap tindakan dan niat. Imam Al-Ghazali, dalam kitab monumental beliau Ihya' Ulumuddin, seringkali menekankan betapa pentingnya menjaga lisan dan hati. Beliau menjelaskan bahwa setiap ucapan, bahkan yang tersembunyi dalam benak, akan dimintai pertanggungjawaban. Lisan, atau dalam konteks modern, jempol yang mengetik, adalah cerminan dari isi hati. Jika hati keruh, maka yang keluar pun akan keruh.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini menjadi pengingat tegas agar kita tidak terburu-buru menyebarkan atau menanggapi sesuatu tanpa ilmu yang jelas. Ini bukan hanya tentang menghindari hoaks, tetapi juga tentang menahan diri dari reaksi emosional yang didasari prasangka atau informasi sepihak. Reaktivitas di media sosial seringkali lahir dari ketiadaan ilmu yang memadai tentang konteks, niat, atau kebenaran suatu informasi, sehingga kita terjebak dalam lingkaran debat kusir yang merugikan.
Rasulullah ﷺ sendiri telah memberikan panduan yang sangat jelas mengenai adab berbicara, yang relevan hingga di era digital ini. Beliau bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini bukan sekadar anjuran, melainkan pondasi akhlak seorang mukmin. Mengaplikasikan hikmah ini di media sosial berarti kita harus menimbang setiap kata yang akan kita ketik. Apakah tulisan kita membawa kebaikan, solusi, atau justru memperkeruh suasana? Jika tidak ada kebaikan, maka diam adalah pilihan yang lebih utama. Diam di sini bukan berarti pasif, melainkan sebuah tindakan aktif untuk menjaga hati dan lisan dari hal-hal yang tidak bermanfaat, bahkan berpotensi dosa.
Membiasakan diri untuk menahan reaksi spontan di media sosial adalah langkah kecil menuju pembinaan hati (mahabbah) yang lebih besar. Ketika kita memilih untuk diam atau merespons dengan bijak, kita sedang melatih jiwa untuk lebih berlapang dada, lebih sabar, dan lebih mengutamakan kedamaian. Ini adalah bagian dari istiqomah dalam meneladani akhlak Rasulullah ﷺ yang senantiasa menebarkan rahmat dan kebaikan, bukan permusuhan. Energi yang tadinya habis untuk berdebat, bisa kita salurkan untuk hal-hal yang lebih mulia, seperti memperbanyak sholawat atau tadarus Al-Qur'an.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.