Pernahkah kamu merasa canggung di meja makan keluarga saat obrolan tiba-tiba menyinggung perbedaan pandangan agama? Atau mungkin, di linimasa media sosial, melihat perdebatan sengit yang membuat hati terasa berat, bahkan kepada sesama Muslim? Keresahan ini bukan hanya tentang perbedaan pendapat itu sendiri, melainkan tentang bagaimana hati kita bereaksi terhadapnya: apakah ia mengeras menjadi dinding pemisah, ataukah ia tetap lentur, siap merangkul dalam kebersamaan?
Seringkali, kita lupa bahwa perbedaan pendapat (ikhtilaf) adalah keniscayaan dalam sejarah Islam, bahkan di kalangan para sahabat dan ulama salaf. Imam Asy-Syafi'i, salah satu mujtahid agung, dikenal dengan adabnya yang tinggi dalam menyikapi perbedaan. Beliau pernah berujar, 'Pendapatku benar tapi mungkin salah, pendapat orang lain salah tapi mungkin benar.' Ini bukan sekadar kerendahan hati, melainkan pengakuan atas luasnya samudra ilmu dan keterbatasan pemahaman manusia. Memahami hal ini adalah langkah pertama untuk menyingkirkan ego yang ingin selalu merasa paling benar, sebuah penyakit hati yang kerap memecah belah.
Lalu, bagaimana kita menjaga hati agar tetap lapang? Kuncinya terletak pada adab dan mahabbah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin banyak membahas tentang pentingnya husnu al-khuluq (akhlak mulia) sebagai fondasi segala ibadah. Akhlak mulia menuntut kita untuk berinteraksi dengan sesama, bahkan yang berbeda pandangan, dengan kelembutan dan rasa hormat. Allah Swt. berfirman:
ุฅููููู
ูุง ุงููู
ูุคูู
ูููููู ุฅูุฎูููุฉู ููุฃูุตูููุญููุง ุจููููู ุฃูุฎูููููููู
ู ููุงุชูููููุง ุงูููููู ููุนููููููู
ู ุชูุฑูุญูู
ูููู
(Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat). (QS. Al-Hujurat: 10). Ayat ini adalah panggilan untuk menyatukan hati, bukan memecah belah, bahkan saat ada perselisihan.Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Dalam konteks ini, sholawat menjadi penawar hati yang ampuh. Ketika kita rutin bersholawat, kita sedang menumbuhkan mahabbah (cinta) yang mendalam kepada Rasulullah ๏ทบ. Cinta ini bukan hanya berhenti pada Nabi, melainkan memancar kepada seluruh umatnya, kepada siapa pun yang bersyahadat. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan kita bahwa hati yang bersih akan memantulkan cahaya kebaikan. Sholawat adalah salah satu cara membersihkan hati dari karat kesombongan, keangkuhan, dan keinginan untuk menghakimi. Hati yang lembut karena sholawat akan lebih mudah menerima perbedaan sebagai bagian dari takdir Allah, bukan sebagai ancaman.
Maka, jangan biarkan perbedaan menjadi beban yang menguras energi batinmu. Sebaliknya, jadikan ia sebagai ladang untuk melatih istiqomah dalam berakhlak mulia. Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ุฅููููู
ูุง ุจูุนูุซูุชู ููุฃูุชูู
ููู
ู ู
ูููุงุฑูู
ู ุงููุฃูุฎูููุงูู
(Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia). (HR. Ahmad). Pesan ini adalah fondasi. Dengan menyempurnakan akhlak, kita sejatinya sedang menyempurnakan kecintaan kita kepada Nabi ๏ทบ dan kepada ajaran yang beliau bawa. Ini adalah jalan menuju ketenangan batin, di mana hati mampu melihat keindahan dalam keragaman, tanpa harus kehilangan identitas.Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an โ klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.