Malam hari, setelah seharian bekerja, kamu dan pasangan duduk di sofa. Tapi mata kalian tak bertemu. Masing-masing sibuk dengan layar ponsel, menelusuri lini masa yang tak ada habisnya. Tawa anak-anak di samping terasa seperti latar belakang, bukan lagi pusat perhatian. Perasaan lelah batin bercampur dengan kesepian, padahal tubuh-tubuh begitu dekat. Ada kerinduan untuk berbagi cerita, untuk sekadar saling menatap, namun jari-jemari terus bergerak, seolah layar itu menyimpan jawaban atas segala kegelisahan.
Kondisi ini, di mana kehadiran fisik tak lagi diikuti oleh kehadiran hati, adalah luka senyap yang menggerogoti banyak rumah tangga modern. Kita disibukkan oleh dunia dalam genggaman, sampai lupa bahwa dunia yang sesungguhnya, yaitu keluarga dan ikatan batin, sedang perlahan menjauh. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan kita bahwa "jarak yang sesungguhnya bukanlah jarak fisik, melainkan jarak hati." Betapa sering kita menyaksikan, di satu atap, hati-hati justru terpisah oleh dinding-dinding digital yang tak kasat mata.
Allah ﷻ telah menetapkan tujuan agung dalam ikatan pernikahan dan keluarga, yakni untuk mencapai ketenangan dan kasih sayang. Sebagaimana firman-Nya:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini bicara tentang 'sakinah' (ketenteraman) dan 'mawaddah wa rahmah' (cinta dan kasih sayang). Bagaimana mungkin sakinah itu hadir jika hati kita terus-menerus terpaku pada notifikasi yang tak pernah usai, membandingkan hidup kita dengan 'pencapaian' orang lain di media sosial, atau tenggelam dalam informasi yang tak relevan? Kehadiran hati, atau dalam istilah tasawuf dikenal sebagai hudhur al-qalb, adalah kunci untuk merasakan keberkahan dan kehangatan dalam interaksi, termasuk di rumah.
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Imam Al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumuddin, menekankan pentingnya kehadiran hati dalam setiap ibadah dan muamalah. Bagi beliau, ibadah tanpa kehadiran hati adalah raga tanpa jiwa. Begitu pula interaksi dalam rumah tangga. Kita mungkin secara fisik ada di sana, namun jika pikiran dan hati kita berkelana di dunia maya, maka esensi mawaddah dan rahmah itu akan menguap. Padahal, Rasulullah ﷺ sendiri memberi teladan terbaik dalam berinteraksi dengan keluarga:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya." (HR. Tirmidzi)
Akhlak terbaik di rumah bukan hanya tentang tidak menyakiti, melainkan juga tentang memberi perhatian penuh, mendengarkan dengan hati, dan menghadirkan diri seutuhnya. Ini adalah bentuk ihsan, berbuat baik seolah kita melihat Allah, atau setidaknya menyadari bahwa Allah melihat kita, dalam setiap interaksi rumah tangga.
Maka, mari kita mulai kembali. Bukan dengan membuang gadget sepenuhnya, melainkan dengan menata ulang niat dan prioritas. Sisihkan waktu-waktu 'bebas layar' di rumah, misalnya saat makan malam, sebelum tidur, atau saat menemani anak bermain. Latih hati untuk kembali hadir, untuk menikmati momen-momen kecil yang sering terlewatkan. Ini adalah bagian dari istiqomah, langkah kecil yang konsisten untuk mengembalikan cahaya dan kehangatan ke dalam rumah.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.