Pernahkah kamu merasa, saat hati sedang bergelora ingin berbagi kebaikan yang baru saja didapat, justru orang di sekitar malah menjauh? Mungkin itu teman yang tiba-tiba sibuk saat kamu mulai bicara tentang agama, atau keluarga yang mengalihkan pembicaraan setiap kali kamu mencoba 'meluruskan' pandangan mereka. Niatnya mulia, ingin mereka juga merasakan manisnya hidayah, tapi respons yang didapat justru hambar, bahkan penolakan. Hati jadi bertanya, ada apa gerangan?
Dalil
Allah berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
Artinya: Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS. At-Talaq: 2)
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang istiqomah, meskipun sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)
Seringkali, di balik keinginan tulus untuk berdakwah, terselip bisikan halus yang tak kita sadari: sebuah asumsi bahwa kita sudah 'lebih tahu' atau 'lebih benar'. Asumsi ini, walau tipis, bisa memancarkan aura penghakiman atau superioritas yang justru membangun dinding tebal. Kita lupa, bahwa hidayah adalah milik Allah, dan tugas kita hanyalah menyampaikan dengan cara terbaik, bukan memaksa apalagi merasa paling suci. Perasaan ‘lebih’ ini, menurut Imam Al-Ghazali dalam *Ihya' Ulumuddin*, adalah salah satu hijab terbesar antara seorang hamba dengan Tuhannya, dan antara seorang da'i dengan mad'unya (orang yang didakwahi).
Dakwa itu sejatinya adalah ajakan, sebuah uluran tangan penuh kasih, bukan vonis atau interogasi. Ia adalah cerminan dari mahabbah, cinta yang tulus. Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri telah memberi petunjuk agung:
ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ
'Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.' (QS. An-Nahl: 125). Ayat ini mengajarkan kita bahwa 'hikmah' dalam berdakwah adalah kunci. Hikmah berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, memahami kondisi lawan bicara, dan memilih waktu serta cara yang tepat.Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam hikmah dan kerendahan hati. Beliau tidak pernah memaki atau merendahkan, bahkan kepada musuh sekalipun. Beliau bersabda: 'Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.' (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menegaskan esensi dakwah yang merangkul, bukan memukul. Jika kita ingin mengikuti jejak beliau, maka hati kita harus menjadi sumber kedamaian, bukan tekanan. Sebagaimana Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam *Al-Hikam* mengingatkan, 'Terkadang kegelapan menimpamu agar engkau kembali kepada-Nya dengan rendah hati.' Rendah hati bukan berarti merendahkan diri, melainkan mengakui keterbatasan diri dan keagungan Allah dalam memberi petunjuk.
Maka, jika hati kita tergerak untuk berbagi kebaikan, mulailah dengan bertanya pada diri sendiri: Apakah aku sudah mengamalkan apa yang ingin kusampaikan? Apakah aku berbicara dari posisi cinta atau dari posisi penghakiman? Jadilah contoh nyata, bukan sekadar pemberi ceramah. Doakan mereka dalam kesendirianmu, dan biarkan akhlakmu yang berbicara lebih keras daripada kata-katamu. Karena pada akhirnya, dakwah adalah tentang menanam benih cinta di hati, bukan memaksakan keyakinan.
Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an—langkah kecil yang konsisten, tanpa tekanan, tanpa janji berlebihan, dan tanpa ajang pamer jumlah. Murni pembinaan hati, agar kita senantiasa memancarkan mahabbah dan hikmah Rasulullah ﷺ dalam setiap langkah kita. Mari kita menjadi pelopor gerakan sholawat tanpa syarat, menyebarkan cinta dan inspirasi, membangun generasi perindu Rasulullah ﷺ.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.