Pernahkah kamu merasa, di tengah kumpul keluarga yang seharusnya hangat, ada percakapan yang justru membuat hatimu mengkerut? Seorang paman atau bibi yang dengan teguhnya menyampaikan pandangan lama, atau orang tua yang memberi nasihat dengan cara yang terasa menghakimi, padahal kamu sudah berusaha sekuat tenaga menjalani hidupmu. Kita ingin menghormati, tapi kadang perbedaan cara pandang itu terasa begitu mengimpit, menciptakan simpul di dada yang sulit diurai.
Keresahan ini nyata. Di satu sisi, kita dibebani tuntutan adat dan agama untuk berbakti dan menghormati yang lebih tua. Di sisi lain, ada gejolak batin yang ingin dimengerti, ingin didengar, dan merasa pandangan kita juga valid. Situasi ini bukan hanya menguji kesabaran, tapi juga mengikis energi batin. Lantas, bagaimana kita bisa menjaga adab tanpa harus mengorbankan kedamaian hati sendiri, apalagi sampai memutuskan silaturahmi?
Dalam khazanah tasawuf, ini adalah ujian bagi mahabbah dan tawadhu’ kita. Imam Al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumuddin, seringkali mengingatkan bahwa adab bukanlah sekadar tata krama lahiriah, melainkan cerminan keadaan hati yang bersih. Menghormati yang lebih tua, meski dengan pandangan yang berbeda, adalah latihan untuk mengendalikan ego dan melatih jiwa agar senantiasa berprasangka baik serta mencari titik temu dalam setiap interaksi. Ini bukan tentang siapa yang benar atau salah secara mutlak, melainkan tentang bagaimana kita memelihara ukhuwah dan kemuliaan akhlak.
Al-Qur'an sendiri telah memberikan petunjuk yang sangat jelas mengenai adab berbicara, terutama kepada orang tua dan yang lebih tua. Allah ﷻ berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَلِدَيْنِ إِحْسَنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra: 23)
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Ayat ini mengajarkan kita tentang qaulan karima, perkataan yang mulia. Ini mencakup tidak hanya nada bicara, tetapi juga pilihan kata yang lembut, penuh hormat, dan jauh dari celaan, bahkan ketika hati kita mungkin tidak sepenuhnya setuju. Rasulullah ﷺ, sebagai teladan akhlak terbaik, juga bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda di antara kami dan tidak mengetahui hak orang yang lebih tua di antara kami.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan pentingnya menghargai hak-hak orang yang lebih tua, yang salah satunya adalah mendapatkan penghormatan. Ini bukan berarti kita harus pasif atau kehilangan identitas. Sebagaimana Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengajarkan, fokus utama kita seharusnya pada keadaan hati kita sendiri, bukan pada reaksi orang lain. Kita bisa mendengarkan dengan penuh perhatian, memahami latar belakang pandangan mereka, dan jika perlu menyampaikan perspektif kita dengan cara yang santun dan bijaksana, bukan dengan membantah atau merendahkan.
Maka, ketika nasihat atau pandangan yang berbeda itu datang, mari kita jadikan itu sebagai ladang pembinaan hati. Ini adalah kesempatan untuk melatih kesabaran, merajut mahabbah kepada sesama, dan meneladani akhlak Rasulullah ﷺ yang selalu mengedepankan kelembutan. Dengan begitu, kita tidak hanya menghormati yang lebih tua, tapi juga memuliakan diri kita sendiri dengan akhlak yang terpuji, menjaga kedamaian batin, dan memperkuat tali ukhuwah.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.