Pukul sembilan malam, layar laptop masih menyala terang, memancarkan cahaya biru yang terasa menusuk retina. Kamu mungkin sedang menatap deretan angka di spreadsheet, atau membalas rentetan email yang tak ada habisnya. Tiba-tiba, pandangan mulai kabur, kepala terasa berat, dan keinginan untuk sekadar menatap langit-langit pun terasa seperti beban. Kelelahan mata ini bukan hanya soal fisik; ia merambat ke batin, mengikis semangat, dan bahkan membuat ibadah terasa hambar.
Kondisi ini, yang akrab kita sebut digital eye strain, seringkali dianggap remeh. Padahal, dampak kelelahan ini jauh melampaui sekadar mata perih atau sakit kepala. Ia bisa meredupkan fokus, memicu emosi negatif, dan pada akhirnya, menghambat kita untuk hadir sepenuhnya dalam momen-momen sakral, seperti saat bersholawat atau tadarus Al-Qur'an. Bagaimana mungkin hati bisa khusyuk merindu jika mata dan pikiran terus-menerus digerogoti penat?
Dalam kacamata hikmah, tubuh kita adalah amanah dari Allah SWT. Merawatnya adalah bentuk syukur dan pengabdian. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya' Ulumuddin, menekankan pentingnya menjaga kesehatan fisik sebagai 'kendaraan' bagi ruhani. Beliau menjelaskan bahwa tanpa tubuh yang sehat, jiwa akan sulit mencapai maqam spiritual yang tinggi. Kelelahan yang dibiarkan menumpuk, termasuk kelelahan mata, adalah bentuk pengabaian terhadap amanah ini, yang pada gilirannya bisa menghalangi kita dari merasakan manisnya ibadah.
Allah SWT sendiri mengingatkan kita akan pentingnya menjaga anugerah indra. Sebagaimana firman-Nya:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra': 36)
Baca Juga
Ketika Kekhawatiran Memeluk Hati: Ibu Tangguh Mencari Berkah dalam Keterbatasan
Ayat ini menegaskan bahwa setiap indra yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawaban. Penglihatan, khususnya, adalah pintu gerbang utama bagi banyak ilmu dan amal. Ketika kita membiarkannya lelah hingga mengganggu kualitas ibadah, kita seolah mengabaikan hak yang melekat padanya. Rasulullah ﷺ pun mengajarkan keseimbangan dalam hidup, bahkan dalam beribadah. Beliau bersabda:
إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari)
Hadits ini adalah pengingat lembut bahwa kita tidak boleh berlebihan hingga melalaikan hak tubuh untuk beristirahat. Kelelahan mata yang kronis bukanlah tanda kesungguhan, melainkan sinyal bahwa ada yang perlu diseimbangkan. Memberi jeda, mengistirahatkan pandangan, atau sekadar memejamkan mata sejenak, adalah bagian dari menunaikan hak tubuh. Ini bukan kemalasan, melainkan strategi untuk menjaga keberlangsungan ibadah dan mahabbah kita kepada Rasulullah ﷺ.
Maka, ketika mata terasa lelah, janganlah buru-buru menyalahkan pekerjaan atau tuntutan hidup. Lihatlah itu sebagai isyarat ilahi untuk berhenti sejenak, mengambil napas, dan merenung. Mungkin itu adalah panggilan untuk mengalihkan pandangan dari layar ke lembaran Al-Qur'an, atau dari angka-angka ke untaian sholawat yang menenangkan. Dengan merawat mata, kita bukan hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga memelihara kejernihan batin untuk terus istiqomah dalam mendekatkan diri kepada-Nya dan merajut cinta kepada Baginda Nabi ﷺ.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.