Jam sembilan malam, anak-anak sudah terlelap, tapi lampu dapur masih menyala terang. Kamu melihat istrimu, dengan rambut sedikit berantakan dan raut wajah lelah, masih mencuci piring sisa makan malam. Perasaan bersalah menyeruak. Seharian di kantor sudah cukup menguras tenaga, tapi bukankah ia juga menghadapi 'kantor' yang tak kalah sibuk di rumah? Pernahkah terlintas di benak, apakah ada 'sunnah' bagi seorang suami untuk turut meringankan beban rumah tangga, ataukah itu sekadar urusan 'perempuan' semata?
Keresahan ini bukan hanya milikmu. Banyak pasangan modern bergumul dengan pembagian peran, terjebak antara tuntutan tradisi dan realitas hidup yang semakin berat. Beban ganda seringkali menimpa istri, yang tak hanya mengurus rumah dan anak, tapi mungkin juga bekerja di luar. Akibatnya, kelelahan batin, ketegangan, hingga konflik rumah tangga tak terhindarkan. Padahal, rumah seharusnya menjadi 'madrasah' pertama bagi anak-anak, tempat ketenangan dan cinta bersemi, bukan arena pertarungan ego dan beban.
Dalam kacamata hikmah, pelayanan seorang suami di rumah bukanlah bentuk 'penurunan' martabat, melainkan justru manifestasi kemuliaan akhlak dan puncak mahabbah (cinta) yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menekankan bahwa akhlak mulia dalam berinteraksi dengan keluarga adalah pondasi utama kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia bukan hanya tentang memberi nafkah materi, tetapi juga nafkah batin berupa perhatian, kelembutan, dan kehadiran yang meringankan.
Tentu saja, kita tak perlu jauh-jauh mencari dalil. Kehidupan Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan terbaik. Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya tentang apa yang Nabi ﷺ lakukan di rumahnya. Beliau menjawab:
كان في مهنة أهله، فإذا حضرت الصلاة قام إلى الصلاة
(Beliau membantu pekerjaan rumah tangganya, dan apabila waktu salat tiba, beliau pun pergi untuk salat). (HR. Bukhari). Hadits ini secara gamblang menunjukkan bahwa Nabi, pemimpin umat, tidak merasa canggung untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, dari menjahit pakaian, menambal sandal, hingga melayani diri sendiri dan keluarganya. Ini adalah sunnah yang seringkali terlupakan, tergerus oleh pemahaman sempit tentang maskulinitas.Pelayanan dalam rumah tangga adalah cermin dari mawaddah wa rahmah, cinta dan kasih sayang yang Allah jadikan sebagai fondasi pernikahan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Rum: 21)
Mawaddah (cinta yang membara) dan rahmah (kasih sayang yang menuntun pada pengorbanan) ini tidak akan tumbuh subur tanpa tindakan nyata, tanpa upaya saling meringankan. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa akhlak yang baik adalah buah dari hati yang bersih dan jiwa yang tunduk pada kehendak Ilahi. Melayani keluarga, membantu memasak, atau momong anak, bukan hanya tugas fisik, tapi latihan jiwa untuk berempati, bersabar, dan mengikis ego. Ini adalah ibadah yang mendekatkan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, sekaligus membangun generasi yang mencintai Rasulullah ﷺ dari dalam lingkungan keluarga yang harmonis.
Kehadiran seorang suami yang turut membersamai dalam urusan rumah tangga, bukan sekadar kewajiban, melainkan cerminan hati yang penuh mahabbah dan keteladanan Rasulullah ﷺ. Ia adalah ladang ibadah yang tak kalah mulia, membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Dan untuk menguatkan hati dalam setiap peran, baik sebagai suami, istri, maupun orang tua, kita membutuhkan bimbingan dari Sang Maha Pencipta dan teladan dari kekasih-Nya.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.