Renungan Mahabbah Rujukan Redaksi

Ketika Lidah Meminta Manis, Hati Justru Kehilangan: Hikmah Mengendalikan Gula

Pulang kerja, badan rasanya remuk, pikiran kalut, dan satu-satunya yang terbayang adalah secangkir kopi manis atau sepotong kue. Atau mungkin, tanpa sadar, kita...

Ketika Lidah Meminta Manis, Hati Justru Kehilangan: Hikmah Mengendalikan Gula
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Pulang kerja, badan rasanya remuk, pikiran kalut, dan satu-satunya yang terbayang adalah secangkir kopi manis atau sepotong kue. Atau mungkin, tanpa sadar, kita sudah terbiasa mengisi hari dengan camilan atau minuman bergula, berharap sedikit dorongan energi instan. Namun, tak jarang, dorongan itu justru berakhir dengan rasa lemas yang lebih parah, suasana hati yang mudah berubah, dan pikiran yang sulit fokus. Kita tahu gula tidak baik, tapi mengapa begitu sulit melepaskannya? Mengapa hasrat akan manis ini seolah memiliki kendali atas diri kita, merenggut ketenangan yang sebenarnya kita cari?

Keresahan ini bukan sekadar masalah fisik semata. Ketergantungan pada gula, walau sering dianggap sepele, bisa menjadi cerminan dari ketidakmampuan kita mengendalikan nafsu dan keinginan sesaat. Ia menciptakan siklus di mana tubuh dan pikiran terus-menerus mencari 'manis' yang fana, mengabaikan 'manis' hakiki yang bersumber dari ketenangan batin dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Kelelahan batin dan fisik yang diakibatkan oleh pola konsumsi gula berlebih ini, pada gilirannya, seringkali menghambat kita untuk istiqomah dalam ibadah, bahkan sekadar untuk fokus dalam sholawat atau tadarus Al-Qur'an.

Dalam kacamata hikmah, upaya mengendalikan konsumsi gula adalah bagian dari riyadhah an-nafs, sebuah latihan jiwa untuk menundukkan keinginan rendah demi mencapai kemuliaan spiritual. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

(QS. Al-Baqarah: 168), yang artinya: “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” Ayat ini menegaskan pentingnya memilih makanan yang 'halal' dan 'thayyib'—baik, yang juga mencakup aspek kesehatan dan kebermanfaatan bagi tubuh dan jiwa kita. Gula berlebih, meski halal, bisa jadi tidak lagi 'thayyib' jika merusak kesehatan dan menghalangi kita dari ketaatan.

Rasulullah SAW juga mengajarkan prinsip moderasi dalam makan. Beliau bersabda,

مَا مَلَأَ ابْنُ آدَمَ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

Baca Juga
Doa Penenang Hati dan Pikiran yang Gelisah Arab: Mengapa Nabi Pun Memintanya?

Doa Penenang Hati dan Pikiran yang Gelisah Arab: Mengapa Nabi Pun Memintanya?

(HR. Tirmidzi). Artinya: “Tidaklah anak Adam mengisi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napasnya.” Hadits ini secara gamblang menunjukkan bahwa menjaga porsi dan kualitas asupan makanan adalah pondasi penting bagi kesehatan fisik dan spiritual. Kelebihan dalam makan, termasuk gula, akan membebani tubuh dan membuat hati sulit merasakan kekhusyukan.

Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, berulang kali menekankan bahwa mengendalikan syahwat perut adalah salah satu gerbang utama menuju penyucian jiwa. Beliau menjelaskan bahwa nafsu makan yang berlebihan akan mengeraskan hati, menumpulkan pikiran, dan menghalangi seseorang dari tafakur dan ibadah. Mengurangi ketergantungan pada kenikmatan duniawi yang fana, termasuk rasa manis gula, adalah langkah awal untuk merasakan manisnya iman dan ketaatan yang abadi.

Maka, mengurangi konsumsi gula berlebihan bukan sekadar diet fisik, melainkan sebuah perjalanan spiritual. Ini adalah latihan kecil namun konsisten untuk menguatkan kemauan, melatih kesabaran, dan menundukkan nafsu. Setiap kali kita berhasil menolak godaan makanan manis, kita tidak hanya menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga menguatkan jiwa, menajamkan intuisi, dan membuka pintu hati untuk merasakan manisnya mahabbah kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Ini adalah bagian dari membangun istiqomah, langkah demi langkah, dalam setiap aspek kehidupan.

Mari kita jadikan setiap pilihan makanan sebagai bentuk ibadah, sebagai upaya untuk menjaga amanah tubuh yang Allah SWT titipkan. Dengan tubuh dan jiwa yang lebih sehat, energi kita akan tercurah lebih maksimal untuk mencintai dan merindu Rasulullah SAW. Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.

Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Yang Diberikan Justru yang Tersisa: Rahasia Sedekah di Rumah Rasulullah SAW
Renungan Mahabbah

Yang Diberikan Justru yang Tersisa: Rahasia Sedekah di Rumah Rasulullah SAW

28 Sep 2026
Kenapa Sulit Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya?
Renungan Mahabbah

Kenapa Sulit Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya?

27 Sep 2026
Kenapa Nabi yang Sudah Diampuni Justru Beristighfar Seratus Kali Sehari?
Renungan Mahabbah

Kenapa Nabi yang Sudah Diampuni Justru Beristighfar Seratus Kali Sehari?

27 Sep 2026
Ayat Tematik dan Artinya: Kenapa Allah SWT Bersumpah Demi Waktu Dhuha?
Renungan Mahabbah

Ayat Tematik dan Artinya: Kenapa Allah SWT Bersumpah Demi Waktu Dhuha?

26 Sep 2026
Kenapa Allah SWT Memilih Pagi dan Petang untuk Menenangkan Hati yang Dicemooh?
Renungan Mahabbah

Kenapa Allah SWT Memilih Pagi dan Petang untuk Menenangkan Hati yang Dicemooh?

26 Sep 2026
Doa Penenang Hati dan Pikiran yang Gelisah Arab: Mengapa Nabi Pun Memintanya?
Renungan Mahabbah

Doa Penenang Hati dan Pikiran yang Gelisah Arab: Mengapa Nabi Pun Memintanya?

25 Sep 2026
Tetangga yang Tak Pernah Mengganggu: Mengapa Itu Belum Cukup Menurut Al-Ghazali?
Renungan Mahabbah

Tetangga yang Tak Pernah Mengganggu: Mengapa Itu Belum Cukup Menurut Al-Ghazali?

25 Sep 2026
Satu Pujian untuk Dua Nasib: Rahasia Sabar dan Syukur yang Jarang Disadari
Renungan Mahabbah

Satu Pujian untuk Dua Nasib: Rahasia Sabar dan Syukur yang Jarang Disadari

24 Sep 2026
Mengapa Nikmat Terus Bertambah, tetapi Hati Tetap Merasa Kurang?
Renungan Mahabbah

Mengapa Nikmat Terus Bertambah, tetapi Hati Tetap Merasa Kurang?

24 Sep 2026
Kenapa Amal yang Tak Dilihat Siapa pun Justru Paling Berat Dijaga?
Renungan Mahabbah

Kenapa Amal yang Tak Dilihat Siapa pun Justru Paling Berat Dijaga?

23 Sep 2026
Kenapa Ghibah Terasa Ringan di Lidah, padahal Al-Qur'an Menyamakannya dengan Makan Bangkai?
Renungan Mahabbah

Kenapa Ghibah Terasa Ringan di Lidah, padahal Al-Qur'an Menyamakannya dengan Makan Bangkai?

23 Sep 2026
Jempol yang Menjadi Lisan: Adab Bermedia Sosial dalam Timbangan Al-Ghazali
Renungan Mahabbah

Jempol yang Menjadi Lisan: Adab Bermedia Sosial dalam Timbangan Al-Ghazali

22 Sep 2026
Ayat Tematik Adalah Penawar Saat Satu Ayat Justru Membuat Hati Gemetar
Renungan Mahabbah

Ayat Tematik Adalah Penawar Saat Satu Ayat Justru Membuat Hati Gemetar

22 Sep 2026
Kenapa Hati Tetap Keruh Padahal Wudhu Lima Kali Sehari?
Renungan Mahabbah

Kenapa Hati Tetap Keruh Padahal Wudhu Lima Kali Sehari?

21 Sep 2026
Riya: Racun Halus yang Membuat Amal Terlihat Gagah tapi Kosong
Renungan Mahabbah

Riya: Racun Halus yang Membuat Amal Terlihat Gagah tapi Kosong

21 Sep 2026
Kenapa Hati Terasa Kosong Setelah Ngobrol Berjam-jam?
Renungan Mahabbah

Kenapa Hati Terasa Kosong Setelah Ngobrol Berjam-jam?

20 Sep 2026
Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya: Mulai Dari Mana?
Renungan Mahabbah

Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya: Mulai Dari Mana?

20 Sep 2026
Sepuluh Tahun Melayani Nabi, Kenapa Anas Tak Pernah Sekali Pun Dibentak?
Renungan Mahabbah

Sepuluh Tahun Melayani Nabi, Kenapa Anas Tak Pernah Sekali Pun Dibentak?

19 Sep 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

Memuat aktivitas ibadah… ›
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allahumma shalli 'alaa sayyidina Muhammad
Setor Sholawat

Setiap bilangan yang Anda tulis menjadi saksi cinta kepada Baginda Nabi SAW. Isikan jumlahnya, lalu kirim — Anda diminta masuk sebentar agar amalan tercatat.